← Beranda
Merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus Bersama Umat Katolik Sedunia: Asal Usul Perayaan dan Maknanya
Alberta Dionny NatanuelSenin, 8 Juni 2026 | 02.36 WIB
Foto peralatan sekramen komuni di Gereja Katolik / Pexels

JawaPos.com - Gereja Katolik memiliki banyak agenda perayaan dan peringatan untuk mengenang banyak peristiwa dalam sejarahnya. Salah satunya adalah Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus yang dirayakan hari Minggu, 7 Juni 2026 ini. 

Dilansir dari Catholic.com, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus atau Corpus Christi adalah perayaan atas kehadiran Yesus Kristus dalam ekaristi. 

Sedikit berbeda dengan Hari Kamis Putih, yang mengenang perjamuan terakhir dan kelahiran dari ekaristi. Hari ini dirayakan dengan meriah dan sukacita untuk menghormati Sakramen Ekaristi. 

Awal mula

Dilansir dari EWTN, perayaan ini disahkan oleh Paus Urbanus IV (1261-1264) dan membuat peraturan agar hari raya ini dirayakan setiap tahun oleh gereja. 

Namun, perayaan ini berawal dari seorang pastor Jerman pada abad tersebut yang disiksa oleh keingintahuannya tentang kehadiran Kristus dalam Ekaristi. Maka ia memulai perziarahannya ke Roma dan berdoa pada makam Rasul Petrus dan Paulus, setelah itu ia menginap di Bolsena, kota kecil di Italia Tengah. 

Ia juga ikut memimpin misa di sebuah gereja didedikasikan untuk Santa Catherine, dan ia menyaksikan sebuah mukjizat. 

Saat ia mengangkat hosti di atas cawan, pastor tersebut menyaksikan hostinya mengeluarkan darah. Darah tersebut mengalir dan membasahi taplak dan peralatan lainnya. Ketakutan, ia segera memindahkan hosti dan anggur ke dalam tabernakel. 

Pastor tersebut tidak segera melaporkan kejadian tersebut, dan setelah ia melaporkan peristiwa tersebut kepada Paus Urbanus IV yang sedang berada di Orvieto pada saat itu. Sang paus menyuruhnya untuk membawakan hosti berdarah tersebut kepadanya. 

Pastor tersebut segera memenuhi perintah dan membawakan hosti yang dibicarakan ke Sungai Rivo Caro. Di sana ia ditunggu oleh sang paus, para kardinal, otoritas gereja, dan penduduk Orvieto. 

Setelah itu, pada 11 Agustus 1264, Paus Urbanus IV menetapkan dan mengadakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Hari raya ini dijatuhkan pada hari Kamis oktaf Pentakosta. 

Santa Juliaan dari Liege

Dilansir dari Hallow, ada pula sosok penting dibalik perayaan ini pula. Orang ini adalah Santa Juliana dari Liege, atau Santa Juliaan de Cornillon. 

Pada usia 16 tahun, Juliana mendapatkan visi pertamanya. Ia melihat bulan purnama yang terbelah oleh garis diametris gelap. 

Allah membantunya memahami penglihatan tersebut, bulan sebagai simbolisasi gereja, dan garis gelap tersebut melambangkan ketiadaan perayaan liturgi. 

Juliana mengerti bahwa gereja membutuhkan perayaan dimana umat beriman dapat menyembah ekaristi untuk meningkatkan iman, mengembangkan kebajikan, dan menebus kesalahan terhadap Sakramen Mahakudus. 

Juliana merahasiakan penglihatannya ini selama 20 tahun sebelum akhirnya menceritakannya kepada dua perempuan beriman dan seorang pastor setelah ia menjadi kepala biarawati. 

Peran besar Paus Urbanus IV

Setelah meresmikan hari raya tersebut, Paus Urbanus IV meminta sang Dokter Gereja, Santo Thomas Aquinas untuk mengumpulkan data-data untuk Liturgi Corpus Christi. 

Teks-teks ini meliputi Sacris, Solemnis, Panis Angelicus, Adoro Te Devote, Pange Lingua, dan O Salutaris. Teks-teks ini masih digunakan sebagai bahan pembelajaran teologis gereja hingga sekarang. 

Setelah itu, Paus Urbanus IV juga menetapkan hari raya ini di bulla (dokumen/dekrit oaus) Transiturus. Sehingga tercatat dan dapat disimpan dengan baik oleh gereja. 

Mendalami lebih dalam

Paus Fransiskus sempat menjelaskan bahwa mukjizat-mukjizat Tuhan tidak selalu terjadi dengan kemegahan, mereka dapat terjadi secara diam-diam. 

Seperti ketika Yesus memberkati lima roti dan dua ikan serta pernikahan di Kana. Roti dan ikan tersebut secara tidak disadari bertambah dari tangan ke tangan. 

Sama seperti saat itu, selama para umat memakan hosti komuni, mereka menyadari kehadiran Yesus Kristus dan percaya bahwa Ia akan melindungi mereka. 

EDITOR: Setyo Adi Nugroho