← Beranda
Bijak Belanja di Bulan Suci Ramadhan : 5 Cara Cerdas Hindari Pengeluaran Impulsif Saat Diskon Ramadhan
Risma Aris MayaRabu, 4 Maret 2026 | 13.05 WIB
Menunda 24 jam sebelum membeli adalah salah satu cara menghindari pengeluaran impulsif saat diskon Ramadhan (freepik)

 

JawaPos.com – Bulan suci Ramadhan identik dengan berbagi promo dan diskon besar-besaran. Mulai dari kebutuhan sahur dan berbuka, pakaian Lebaran hingga peralatan rumah tangga, semuanya terasa lebih menggoda.

Namun tanpa kontrol yang baik, diskon Ramadhan justru bisa memicu pengeluaran impulsif. Padahal esensi puasa Ramadhan adalah menahan diri termasuk dalam urusan finansial.

Menurut APA, perilaku belanja impulsif sering dipengaruhi oleh emosi dan dorongan sesaat. Kondisi ini semakin kuat saat ada promosi terbatas.Selain itu, Harvard Business School menunjukkan diskon dan strategi pemasaran dapat memicu keputusan pembelian tanpa perencanaan matang.

Berikut 5 cara ampuh menghindari pengeluaran impulsif saat diskon Ramadhan agar keuangan tetap aman hingga Hari Raya sebagaimana dilansir dari laman University of Chicago dan Cornell University, Rabu (4/3) :

Baca Juga: Ramadhan Penuh Makna : 5 Cara Menumbuhkan Empati Anak Lewat Puasa

1.     Membuat anggaran khusus Ramadhan

Langkah pertama adalah membuat anggaran Ramadhan secara rinci. Artinya Anda perlu memisahkan kebutuhan pokok, zakat, sedekah hingga kebutuhan lebaran.

Menurut Consumer Finance, menyusun anggaran secara tertulis bisa membantu mengontrol pengeluaran impulsif dan mengurangi stres finansial. Jadi anggaran ini akan memberi batas yang jelas dalam berbelanja.

Anda bisa mulai dengan menulis daftar kebutuhan seperti bahan makanan sahur, kurma, beras, daging hingga sirup favorit keluarga. Dengan daftar tersebut Anda lebih fokus pada kebutuhan utama.

Uniknya, anggaran ini juga membantu menghindari penggunaan kartu kredit berlebihan.  Sehingga puasa Ramadhan juga menjadi lebih tenang tanpa beban utang.

2.     Menerapkan aturan tunda 24 jam

Diskon sering menciptakan rasa takut kehabisan, padahal tidak semua promo benar-benar mendesak untuk dibeli. University of Chicago dalam studi perilaku konsumen menjelaskan bahwa jeda waktu membantu seseorang membuat keputusan lebih rasional.

Menerapkan aturan tunda 24 jam sebelum membeli artinya jika setelah sehari masih merasa butuh barulah pertimbangkan kembali. Cara ini sangat efektif mengurangi belanja impulsif saat diskon Ramadhan. Keputusan juga menjadi logis dan sesuai kebutuhan.

3.     Belanja dalam kondisi kenyang dan tenang

Kondisi fisik dan emosional memengaruhi keputusan belanja. Saat lapar atau lelah, seseorang lebih mudah tergoda membeli secara impulsif.

Menurut Cornell University, penelitian menunjukkan bahwa rasa lapar dapat meningkatkan pembelian barang secara berlebihan. Jadi usahakan berbelanja setelah berbuka atau dalam kondisi cukup energi. Hindari pula belanja saat emosi sedang tidak stabil.

4.     Fokus pada nilai bukan sekadar diskon

Harga murah pasalnya tidak selalu berarti hemat. Artinya barang yang tidak dibutuhkan tetap menjadi pemborosan meskipun diskonnya besar.

Stanford University dalam kajian psikologi konsumen menjelaskan label diskon memicu persepsi nilai yang lebih tinggi meski sebenarnya tidak selalu diperlukan. Sehingga sangat penting untuk menilai fungsi barang tersebut sebelum membeli.

Anda bisa bertanya ke diri sendiri apakah barang itu benar-benar menunjang kebutuhan Ramadhan? Misalnya apakah perlu membeli 3 toples kue baru jika yang lama masih layak pakai?

Dengan pola pikir ini, Anda terhindar dari jebakan diskon semu sehingga keuangan keluarga tetap stabil hingga Lebaran.

5.     Memperkuat mindset spiritual tentang kesederhanaan

Ramadhan adalah bulan pengendalian diri dan kesederhanaan. Mengingat tujuan spiritual puasa akan membantu menahan dorongan konsumtif.

Menurut Yaqeen Institute for Islamic Research, Ramadhan mengajarkan nilai zuhud dan keseimbangan dalam kehidupan. Jadi Anda perlu mengalihkan dana belanja impulsif untuk sedekah atau membantu sesama.

Dengan memperkuat niat ibadah, keputusan belanja juga menjadi lebih bijak. ***

EDITOR: Setyo Adi Nugroho