← Beranda

7 Golongan yang Tidak Wajib Puasa Ramadhan, Ini Ketentuan Qadha dan Fidyahnya

Shania Vivi Armylia PutriJumat, 27 Februari 2026 | 19.34 WIB
Ilustrasi anak kecil/freepik

JawaPos.com-Setiap muslim diwajibkan untuk puasa ramadhan. Puasa sendiri merupakan salah satu rukun islam. Sehingga menjalankan puasa ramadhan bukan sekedar anjuran tetapi ibadah wajib.

Meski begitu, Allah SWT telah memberi keringanan bagi golongan tertentu untuk tidak berpuasa.

Keringanan tersebut disebabkan karena kondisi tertentu yang apabila dipaksakan justru dapat menimbulkan kesulitan.

Namun, saat berada di dalam kondisi khusus, Allah SWT juga memberikan ketentuan yang berbeda pada masing-masing golongan. Ada yang tetap wajib mengqadha puasa (menggantinya di lain hari), cukup dengan membayar fidyah, atau bahkan tidak dibebani kewajiban mengganti dan membayar fidyah sama sekali.

Berikut adalah golongan yang tidak dikenakan kewajiban untuk berpuasa dan ketentuannya sebagaimana yang sudah kami rangkum dari laman ampung.nu.or.id dan //www.ums.ac.id.

  1. Perempuan yang sedang haid dan nifas

Golongan pertama yang tidak diwajibkan untuk berpuasa adalah perempuan yang sedang haid dan nifas. Allah SWT memberikan keringanan pada perempuan.  Namun, setelah masa tersebut berakhir dan kembali suci, perempuan berkewajiban untuk mengqadha puasanya, sebagaimana HR. Muslim 355 yang berbunyi:

عن عائشة: كنا نحيض على عهد رسول الله ﷺ، فنؤمر بقضاء الصوم، ولا نؤمر بقضاء الصلاة

Artinya: Dari Aisyah ra: saat aku dalam keadaan haid, Rasulullah SAW memerintahkan untuk mengqadha puasa, namun tidak dengan mengqadha shalat.

  1. Ibu hamil dan menyusui

Ibu hamil dan menyusui diperbolehkan untuk tidak berpuasa sebagai bentuk keringanan. Jika mereka tidak berpuasa karena khawatir terhadap kondisi diri sendiri maka wajib menghdaha di lain hari. Sementara jika juga menyangkut kondisi keselamatan janin atau bayi yang sedang disusui, maka selain qadha mereka juga harus membayar fidyah:


إن الله وضع عن المسافر الصوم وشطر الصلاة، وعن الحبلى والمرضع


Artinya: Ibu hamil atau menyusui boleh tidak puasa. Jika kuat, dia wajib qadha; bila khawatir kepada dirinya atau anaknya, dia wajib qadha dan fidyah. 

  1. Orang tua yang lemah

Lansia yang kondisi fisiknya lemah serta  tidak sanggup untuk berpuasa, tidak dibebani untuk berpuasa.  Sebagai penggantinya, mereka diwajibkan membayar fidyah kurang dari 7 ons bahan makanan pokok setiap harinya sebagai pengganti puasa.


وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ


Artinya: Orang tua sangat lemah boleh tidak puasa; ia wajib membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin sebagai ganti (QS Al-Baqarah:185) 

  1. Orang sakit menahun

Seorang yang menderita sakit, kronis atau mengalami komplikasi berkepanjangan, dan belum diketahui kapan kesembuhannya, maka mereka tidak diwajibkan untuk berpuasa. Seseorang yang menderita penyakit stroke, gangguan pencernaan akut, dan seseorang yang harus cuci darah, cukup membayar fidyah untuk mengganti puasanya. Namun di kemudian hari diberi kesembuhan dan mampu berpuasa, maka ia wajib mengganti puasanya (QS AL-Baqarah:184). 

وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ
Artinya: Orang yang sakit diperbolehkan tidak berpuasa dan wajib mengqadha di lain hari. 

  1. Musafir 

Seorang musafir atau yang berada di dalam perjalanan jauh tidak diwajibkan untuk berpuasa. Sebaliknya mereka harus mengqadha puasanya di lain hari. Keringanan ini berlaku untuk perjalanan yang berjarak 80, 64 Km, bukan untuk tujuan bermaksiat, dan dilakukan sebelum terbit fajar.

 وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ


Artinya: Musafir yang melakukan perjalanan jauh boleh tidak puasa dan wajib qadha. 

  1. Anak kecil yang belum baligh

Anak kecil yang belum mencapai usia baligh tidak diwajibkan berpuasa. Meskipun jika sudah mampu yang sudah bisa membedakan baik dan buruk dan menjalankan puasa, maka puasanya belum dihitung wajib, tetapi sah.

 رفع القلم عن ثلاث: عن الصبي حتى يبلغ، وعن المجنون حتى يفيق، وعن النائم حتى يستيقظ


Artinya: Anak yang belum baligh tidak diwajibkan berpuasa. Bila sudah tamyiz puasanya sah meskipun belum wajib. 

  1. Orang gila

Orang gila atau orang yang mengalami gangguan jiwa  tidak diberi kewajiban untuk berpuasa. Hal ini disebabkan karena syarat sah puasa adalah berakal. 

رُفِعَ اْلقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ عَنْ النّائِمِ حَتّى يَسْتَيْقِظُ وَعَنِ اْلمَجْنُوْنِ حَتّى يُفِيْقَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَبْلُغَ

Artinya: Hukum (puasa) tidak berlaku atas tiga orang: anak kecil hingga dia baligh (dewasa), orang gila hingga dia waras, dan orang tidur hingga dia bangun [HR Abu Daud dan Ahmad].

EDITOR: Setyo Adi Nugroho