JawaPos.com – Dalam beberapa tahun terakhir, muncul istilah adonis complex, sebuah kondisi psikologis ketika seseorang, terobsesi secara berlebihan terhadap bentuk tubuh ideal.
Obsesi ini bukan sekadar ingin tampil sehat, tetapi sudah mengarah pada kegelisahan, ketidakpuasan ekstrim, serta kebutuhan untuk terus memperbaiki penampilan meski tubuh sudah tampak bugar.
Adonis complex seringkali berkaitan dengan standar kecantikan dan maskulinitas yang tidak realistis.
Melansir dari laman Yourtango pada Jumat (21/11), menyebutkan ada tujuh tanda psikologis seseorang mengidap adonis complex.
Tekanan dari media sosial, budaya gym, hingga perbandingan sosial menjadi pemicu meningkatnya fenomena ini.
Penelitian psikolog dalam National Library of Medicine, menyebutkan bahwa obsesi semacam ini dapat berkembang menjadi gangguan citra tubuh (body dysmorphic disorder) dan mempengaruhi relasi, pekerjaan, hingga kesehatan mental secara keseluruhan.
Berikut tujuh tanda psikologis seseorang mengidap adonis complex, yang penting diwaspadai agar tidak berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius.
- Terobsesi mengukur atau memantau tubuh berulang kali
Penderita adonis complex cenderung memantau tubuh secara berlebihan: mengecek cermin berkali-kali, menimbang setiap hari, mengukur lingkar lengan, atau memotret perubahan tubuh.
Aktivitas ini menjadi rutinitas yang menghabiskan waktu dan mempengaruhi suasana hati.
- Tidak pernah puas dengan penampilan meski sudah bugar
Salah satu tanda paling jelas adalah ketidakpuasan ekstrem. Walaupun tubuh sudah atletis, mereka tetap merasa kurang, kurang berotot, kurang ramping, atau kurang simetris.
Rasa tidak cukup ini membuat mereka terus mengejar standar yang mustahil dan malah berdampak pada kesehatan.
- Menghabiskan waktu berjam-jam untuk berolahraga
Olahraga menjadi aktivitas kompulsif, merasa bersalah bila melewatkan sesi gym, bahkan memaksakan diri berlatih meski sedang sakit atau cedera. Tujuannya bukan lagi kesehatan, tetapi perfection.
- Diet ketat dan aturan makan yang tidak realistis
Adonis complex juga ditandai dengan pola makan ekstrem, menghitung kalori secara obsesif, menghindari banyak makanan, atau mengkonsumsi suplemen berlebihan.
- Sering membandingkan tubuh dengan orang lain
Perbandingan sosial menjadi pemicu utama rasa rendah diri. Orang dengan kondisi ini mudah merasa terancam ketika melihat tubuh orang lain, baik di gym, media sosial, atau bahkan selebriti.
- Merasa tidak aman dengan kritik atau komentar fisik
Komentar ringan tentang tubuh dapat memicu kecemasan, kemarahan, atau kebutuhan untuk memperbaiki penampilan.
Mereka sangat sensitif terhadap penilaian orang lain dan berusaha keras menampilkan citra tubuh yang sempurna.
- Bergantung pada validasi eksternal
Pujian seperti makin berotot atau tubuhmu bagus banget, menjadi sumber rasa aman. Ketika validasi tersebut berkurang, mereka kembali merasa tidak percaya diri dan memperketat rutinitas kebugaran.
Adonis complex adalah kondisi serius yang sering kali tidak disadari karena tersamar sebagai gaya hidup sehat.
Namun, ketika keinginan memiliki tubuh ideal berubah menjadi obsesi dan mengganggu kehidupan sehari-hari, penting untuk mencari bantuan profesional.
Psikolog menyarankan pendekatan body neutrality, menerima tubuh sebagai bagian dari diri, bukan sumber penilaian utama.
Edukasi tentang citra tubuh yang sehat dan penggunaan media sosial secara bijak juga menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi ini berkembang lebih jauh.