JawaPos.com — Silent treatment merupakan salah satu bentuk penolakan untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain.
Terkadang hal ini bisa menjadi bentuk kekerasan emosional, ini adalah permasalahan ketika satu orang menggunakannya untuk mengontrol dan memanipulasi orang lain.
Manipulasi adalah cara seseorang untuk mengubah, memengaruhi, atau mengontrol orang lain agar sesuai dengan yang ia inginkan.
Manipulasi bisa dilakukan siapa saja, termasuk orang terdekat seperti pasangan, keluarga, atau sahabat.
Umumnya, tindakan ini muncul sebagai bentuk ketakutan dan kecemasan pelakunya.
Dampak manipulasi tidak hanya berpengaruh terhadap emosional korban, tetapi juga kesehatan mentalnya. Pada kasus yang parah, tindakan ini dapat mengakibatkan trauma.
Dikutip melalui situs resmi medicalnewstoday.com, Beberapa orang melakukan Silent Treatment karena sejumlah alasan. Seperti :
Menghindari Konflik
Dalam beberapa kasus, orang tetap diam dalam percakapan karena tidak tahu harus berkata apa atau memang hanya ingin menghindari konflik permasalahan.
Komunikasi
Seseorang mungkin melakukan silent treatment jika mereka tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaannya, tetapi ingin pasangannya atau lawan bicaranya mengetahui bahwa mereka sedang kesal.
Hukuman
Jika seseorang melakukan silent treatment untuk menghukum seseorang, ini adalah salah satu bentuk kekerasan emosional.
Silent Treatment Sangat Mempengaruhi Hubungan
Dalam kebanyakan kasus, silent treatment bukanlah cara yang efektif untuk mengatasi perselisihan.
Penelitian menunjukkan bahwa pria maupun wanita dapat melakukan silent treatment dalam hubungan.
Namun, komunikasi yang baik dan efektif sangat penting untuk menjalin hubungan yang sehat.
Melakukan silent treatment dapat mencegah orang menyelesaikan konflik mereka dengan cara yang sehat.
Ketika salah satu pasangan ingin membicarakan suatu masalah tetapi pasangannya menarik diri, hal itu dapat menimbulkan emosi negatif seperti kemarahan dan kesusahan.
Menurut sebuah penelitian pada tahun 2012, orang yang sering merasa diabaikan juga mengatakan memiliki tingkat harga diri bahkan makna hidup yang lebih rendah.
Oleh karena itu, silent treatment dapat berdampak pada kesehatan suatu hubungan, meskipun orang yang diam berusaha menghindari konflik.
Seseorang dengan pasangan yang kerap menghindari konflik, lebih besar kemungkinannya untuk melanjutkan perselisihan karena tidak mempunyai kesempatan untuk membicarakan permasalahannya.
Seseorang dapat dikatakan melakukan silent treatment, jika:
· Mereka berniat menyakiti orang lain dengan sikap diamnya
Baca Juga: Waspada! 10 Bahaya Obesitas yang Kerap Dilupakan, Mulai Dari Gangguan Mental Sampai Kanker
· Tidak melakukan komunikasi untuk waktu yang lama
· Sikap diam hanya berakhir ketika mereka memutuskan sebuah hubungan
· Mereka berkomunikasi orang lain tetapi tidak dengan pasangannya
· Mereka mencari aliansi dari orang lain
· Mereka bersikap diam hanya untuk menyalahkan pasangannya dan membuat mereka merasa bersalah hingga kebingungan
· Mereka menggunakan keheningan untuk memanipulasi atau untuk menekan pasangannya agar mengubah perilakunya
Cara Menghadapi Orang yang melakukan Silent Treatment
Cara seseorang menghadapi silent treatment bergantung pada apakah pasangannya melakukan kekerasan atau tidak.
Jika perlakuan silent treatment tampaknya bukan bagian dari pola kekerasan yang lebih besar, seseorang dapat mencoba cara sebagai berikut:
1. Jelaskan Kondisi dan Situasinya
Sadari bahwa seseorang melakukan silent treatment seperti menegur perlakuannya.
Misalnya dengan mengatakan, “Saya perhatikan Anda tidak merespons saya.”
Hal ini akan menjadi acuan pembukaan komunikasi bagi dua orang untuk dapat berinteraksi satu sama lain secara lebih efektif.
2. Gunakan Pernyataan 'Saya'
Seseorang dapat mengungkapkan perasaannya kepada orang lain dengan menggunakan pernyataan “saya”.
Misalnya, pihak yang mendapatkan perlakuan silent treatment dapat mengatakan, “Saya merasa sakit hati dan frustasi karena Anda tidak berbicara kepada saya.
Saya ingin menemukan cara untuk menyelesaikan masalah ini.”
Pertanyaan ini berfokus pada perasaan dan keyakinan pembicara daripada karakteristik apa pun yang mereka kaitkan dengan orang lain.
3. Memahami Perasaan Orang lain
Minta orang lain untuk mengungkapkan atau menjelaskan kondisi perasaannya.
Hal ini membuat mereka tahu bahwa perasaan mereka penting dan valid, dan membuka jalan untuk dapat berkomunikasi.
Hindari bersikap defensif atau enggan mengakui kesalahan dan cobalah untuk tetap ada atau mendengarkan keluh kesahnya dengan penuh empati.
Jika orang tersebut merespons dengan cara yang tidak baik atau kasar, lebih baik menjauh dari situasi tersebut sampai dia tenang dalam sementara waktu.
4. Meminta Maaf atas Kata-kata atau Tindakan
Seseorang mungkin tidak meminta maaf atau sadar atas tindakan diam yang dilakukannya, karena diam adalah cara dirinya memilih untuk merespons.
Namun, kita dapat meminta maaf jika telah mengatakan atau melakukan sesuatu yang mungkin menyakiti perasaannya.
5. Tenangkan diri dan Atur Waktu untuk Menyelesaikan Masalah Tersebut
Terkadang, seseorang mungkin diam saja karena dia terlalu marah, sakit hati, dan kewalahan untuk berbicara atau mereka mungkin takut mengatakan sesuatu yang memperburuk situasi.
Dalam permasalahan ini, akan sangat membantu jika setiap orang meluangkan waktu untuk menenangkan diri sebelum Kembali melakukan komunikasi untuk membahas masalah tersebut dengan tenang.
Konselor menyebutnya “mengambil waktu istirahat.”
6. Hindari Kata-kata yang tidak membantu
Cobalah untuk tidak memperburuk situasi atau memprovokasi orang yang diam untuk berbicara.
Hal ini dapat menimbulkan lebih banyak konflik atau memperburuk situasi.