SAYA berangkat ke Madiun, Jawa Timur. Pertama benar-benar ke sini, tiba Kamis (30/7) siang. Kota itu panas rupanya dan tidak seramai yang diduga. Tapi, yang membuat saya lama berdiri bukan cuaca, melainkan sebuah dinding.
Di Perhutani Forestry Institute (PeFI) Madiun ada satu ruangan bernama Ruang Inspirasi. Di situ dipajang sebuah foto tua. Bukan satu lembar, melainkan beberapa lembar yang disatukan, memanjang seperti bentangan sawah. Warnanya sepia, warna waktu. Saya mendekat.
Yang Terlihat di Dinding
Ini delapan foto yang disatukan, menjadi sebuah panorama tua. Tentang nenek moyang dan tukang jajah kita. Tentang emak-emak yang dari rahimnya lahir kisah anak manusia dan kehidupan.
Foto itu merekam sebuah lapangan pengumpulan kayu jati. Luas. Balok-balok persegi berjajar di rumput. Lelaki bertelanjang dada memegang kampak pembentuk kayu pacakan. Kereta lori di atas rel, cikar bertenaga sapi, kuda-kuda beban berkeranjang. Belasan lelaki mendorong gelondongan raksasa ke atas roda kayu. Di tengah semua itu, para perempuan duduk dengan bakul dan pikulan. Ada anak-anak. Di antara pria-pria perkasa, perempuan Jawa dan balitanya, ada seorang perempuan necis berpayung. Dia bukan pekerja. Bukan istri pekerja. Mencolok sendiri. Bisa jadi ia istri pengusaha Belanda.
Saya perbesar bagian itu. Payung Eropa berjari-jari kawat, bukan payung kertas. Baju kurung lengan panjang dari bahan halus, selendang bermotif tersampir. Rambut disanggul rapi. Duduk menghadap kamera dengan pasti. Para pekerja di sekelilingnya sibuk atau canggung, ia tidak. Tatapannya tenang, hampir menantang. Tahu sedang dipotret, tak canggung. Sepertinya, sudah terbiasa dipotret. Posisinya persis di tengah komposisi. Foto pesanan bisnis tidak menempatkan orang sembarangan di titik pusat. Wajahnya masih muda, dua puluhan. Kalau foto ini 1890, ia lahir sekitar 1865. Kini wajah itu tersimpan hampir dua meter lebarnya di Amsterdam dan tak seorang pun tahu namanya.
Ada pengawas Belanda berpakaian putih-putih berdiri di atas balok, dan mantri berbeskap dengan jam rantai. Satu tatanan kolonial terekam utuh dalam satu bingkai.
Panel di sebelahnya menjelaskan. Foto terbitan tahun 1890, lokasi Ngoro Gunung, BKPH Bubulan, KPH Bojonegoro, Jawa Timur. Foto mozaik, sambungan dari beberapa foto, dokumentasi produksi kayu jati pada masa Buurman van Vredeen, pencipta sistem tanam Tumpang Sari. Panel itu juga menyebut satu kalimat yang menggoda: foto ini telah dibeli oleh Rijksmuseum Belanda. Interpretasi dan telaah dibuat Tim Knowledge Management, Perhutani Forestry Institute, Februari 2024.
Saya memotret potongan-potongan foto itu satu per satu. Tujuh dapat, satu bingkai paling kanan luput.
Dan, saya merapat ke hotel di Madiun. Mercure nan rancak. Rehat sembari memikirkan, betapa saya belum “kenal” Indonesia secara luas. Madiun saja baru kali ini bisa didatangi.
Padahal kota ini punya cerita. Madiun terbaring di lembah antara Gunung Lawu dan Gunung Wilis, dialiri Kali Madiun yang bermuara ke Bengawan Solo. Budayanya Mataraman, Jawa halus gaya Solo-Yogya, bukan arek. Kota ini dibesarkan dua rel. Rel kereta, sejak jalur Staatsspoorwegen Solo-Surabaya membelahnya tahun 1880-an, warisannya kini INKA, satu-satunya pabrik kereta api di Asia Tenggara. Dan rel kayu jati: sejak zaman Belanda, Madiun adalah ibu kota birokrasi jati untuk hutan-hutan lereng Wilis dan Saradan. Wajar PeFI berdiri di sini. Orang mengenalnya sebagai Kota Pendekar, tanah kelahiran perguruan silat Setia Hati, dan mengenang lidahnya lewat pecel dengan sambal kacangnya yang khas serta brem yang lumer. Dua rel itu bertemu persis di foto tua tadi: gerbong lori memuat balok jati.
Foto-foto nan bisu seperti kebanyakan foto, namun yang ini berkisah kepada saya. Bangkit pula semangat saya dibuatnya, maka saya carilah, malam itu juga. Kalau benar Rijksmuseum membelinya, foto aslinya pasti bisa ditemukan.
Baca Juga: Penyebab Ledakan Gudang Amunisi di Madiun Belum Diketahui, TNI AD: Tim Investigasi Masih Bekerja
Jejak di Koran Lama
Pintu pertama adalah arsip koran-koran Hindia Belanda. Ejaan lama jadi kuncinya: Ngorogoenoeng, Boeboelan, Bodjonegoro. Satu per satu jejak muncul dari abad yang lampau.
Soerabaijasch Handelsblad, 8 April 1892, memuat iklan lelang. Pemerintah melelang eksploitasi het Djatiboschperceel Ngoro-Goenoeng, persil hutan jati Ngoro-Goenoeng di Residentie Rembang, untuk sepuluh tahun terhitung 1 Juli 1892. Lelang digelar Resident van Rembang, Senin 23 Mei 1892, pukul sepuluh pagi. Ditandatangani Direktur Binnenlandsch Bestuur, H. Kuneman. Syarat lengkapnya dimuat Javasche Courant No. 26, 1 April 1892.
Pemenangnya kemudian ketahuan dari koran lain. De Locomotief, 9 April 1898, memberitakan Tuan Floris, administrateur Houtaankap Ngorogoenoeng (Bodjonegoro) milik Nederlandsch-Indische Houtaankapmaatschappij. Kabar burung menyebut rumahnya dirampok dan istrinya menembak perampok. Ternyata bukan rampok. Yang datang air Bengawan Solo yang meluap ke pekarangan. Kata kerambah di mulut rakyat terdengar seperti krampah, lalu tersasar ke koran-koran sebagai kampak, gerombolan perampok. Berita kecil yang jenaka, tapi bagi penelusuran ini berharga: ia memastikan siapa penguasa persil itu.
Bataviaasch Nieuwsblad, 23 April 1903, mengutip Semarang Courant, mencatat persil Ngoro-Goenoeng II di afdeeling Bodjonegoro kembali digunduangkan kepada Ned. Ind. Houtaankap Mij. dengan sistem pachtschat. Maskapai itu bercokol lebih dari satu dasawarsa. Adresboek van Batavia 1898 melengkapi: NIHM punya tempat penumpukan kayu di Heemradenplein dan Petjakoelit, Batavia, dengan agen A.H. Veerkamp yang menginap di Hotel der Nederlanden. Kayu jati Bojonegoro mengalir sampai ke ibu kota. Dan De Locomotief, 24 November 1896, membuka lapisan keuangannya: maskapai houtaankap Wijsman en Co yang pailit diserap dengan modal preferen f 400.000, diatur lewat Dordtsche Bank di negeri Belanda. Foto panorama semahal itu, saya menduga, dibuat sebagai alat meyakinkan pemodal bahwa konsesinya nyata.
Baca Juga: Berkonsep Japandi, Rumah di Sebelah Rel Kereta Api Gunakan Kayu Jati dan Tanaman untuk Redam Bising
Perusahaan itu ternyata bukan pemain kecil. De Locomotief, 22 Maret 1898, mencatat pengangkatan H.L. Elenbaas sebagai kuasa pengusahaan Somberedjo. Artinya NIHM memegang lebih dari satu persil di karesidenan itu. Arnhemsche Courant, 9 Oktober 1912, memuat emisi saham anak perusahaannya, Houtaankap-Maatschappij Noord-Si-Maloer, seribu gulden selembar, ditawarkan di kantor bankir Gebr. Boissevain dan Dunlop & Co di Amsterdam. Si-Maloer itu Simeulue, pulau di lepas pantai barat Aceh. Dari jati Bojonegoro, perusahaan ini melebar sampai rimba Sumatra.
Baru pada 1919 nama itu muncul dalam struktur pemerintah. De Nieuwe Vorstenlanden, 10 Juli 1919, mencatat mutasi pegawai Boschwezen dari dan ke Houtvesterij Ngorogoenoeng. Persil swasta telah menjadi kesatuan kehutanan negara, sejajar dengan Dander dan Telawa. Garis inilah yang kelak sampai ke Perhutani.
Tapi, umur perusahaan itu tak sampai setengah abad. Begitu persil-persil Jawa kembali ke pangkuan Boschwezen, tulang punggung bisnisnya hilang. Algemeen Handelsblad, 8 September 1927, memuat pengumuman Komisi Likuidasi NIHM: obligasi perusahaan dibereskan lewat Centrale Trust Compagnie, Raadhuisstraat 52, Amsterdam. Perusahaan itu bubar, sedang berkemas. Foto panorama 1890 dengan demikian adalah potret masa jayanya, dibuat saat perusahaan sedang percaya diri memamerkan konsesinya.
Menemukan Foto Itu di Amsterdam
Katalog digital Universiteit Leiden dan koleksi KITLV saya jelajahi. Lalu Rijksstudio, katalog daring Rijksmuseum. Di sanalah foto itu menunggu.
Judulnya De Djatihoutkapperij Ngoro Goenoeg bij Bojonegoro op Java, penebangan kayu jati Ngoro Goenoeg dekat Bojonegoro di Jawa. Fotografer anoniem, sekitar 1890. Nomor objek NG-1980-10.
Panorama tujuh bagian yang direkatkan menjadi satu, kata museum. Di dinding Madiun saya menghitung delapan bingkai. Selisih satu itu masih jadi tanya, akan terjawab bila file dari Amsterdam tiba. Ukurannya membuat saya menarik napas: 223 milimeter kali 1.964 milimeter. Hampir dua meter. Dengan bingkai, 60 kali 231,7 sentimeter.
"De djati-hout kapperij Ngoro Goenoeg bij Bodjonegoro (Java), omstreeks 1890. De panorama-foto bestaat uit zeven delen die aan elkaar zijn geplakt." (Rijksmuseum, obj. NG-1980-10)
Awalan NG pada nomor objek berarti koleksi Nederlandse Geschiedenis, Sejarah Belanda. Angka 1980 menandakan tahun perolehan. Jadi klaim panel PeFI benar: Rijksmuseum memang membelinya, tahun 1980. Malam itu juga saya membuat akun Rijksmuseum dan mengajukan permintaan resmi file resolusi tinggi lewat formulir beeldaanvraag, sekaligus menanyakan provenance foto itu: dari siapa museum membelinya. Konfirmasi permintaan sudah diterima. Fotografernya masih anoniem. Dugaan mengarah ke studio-studio Surabaya zaman itu, Salzwedel, Charls & Van Es, atau Kurkdjian. Bahan koran lama malam itu kelak bisa jadi bekal mengusulkan atribusi.
Baca Juga: Beredar Koran Lama Berisi Kasus Prabowo saat 1998, TKN: Cara Lama untuk Menjatuhkan
Catatan Penutup
Sebuah foto di dinding Madiun ternyata bersambung ke Amsterdam. Di antara keduanya terbentang seratus tiga puluh enam tahun: lelang persil 1892, maskapai swasta yang jatuh bangun, houtvesterij pemerintah 1919, sampai Perhutani hari ini. Ruang Inspirasi PeFI memajang reproduksinya. Aslinya, hampir dua meter, tersimpan di brankas museum terbesar Belanda.
Foto-foto tua dari abad ke-19 itu, dapat dipastikan, sengaja dibuat untuk keperluan bisnis. Tapi, bukan itu, melainkan kisah lebih dari 130 tahun tersebut, seperti mewariskan tangkai sejarah. Bahkan inilah terajunya. Awal dari sebuah tradisi jati di Bojonegoro, Madiun dan daerah sekitarnya. Juga di Jawa. Djaticultuur.
Foto tua itu bisu. Tapi, malam itu ia bercerita panjang sekali.
*) Khairul Jasmi merupakan penulis novel Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi: Guru Para Ulama Indonesia; dan Rahmah El Yunusiyyah: Perempuan yang Mendahului Zaman