← Beranda
Perhutani, Jemputlah Kembali Kisah Cup of Java
Khairul JasmiKamis, 5 Maret 2026 | 12.51 WIB
Pohon kopi di lahan Perum Perhutani, Kendal, Jateng. (Dok. Pribadi)

PADA abad lalu, nama secangkir kopi di Amsterdam diganti menjadi, “Cup of Java,” karena sangat terkenal. Dipetik di ladang- ladang rakyat sepanjang Jawa, Sumatera, dan pulau lain. Lalu, sejarah ekonomi kopi rakyat, lindap sudah. Hampir lenyap lalu perlahan bangkit. Bisakah Perhutani ambil bagian dalam peta ekonomi ke depan?

Lalu, Selasa (3/3/2026) di Kendal, Jateng, saya diberi beberapa bungkus kopi yang diproduksi Rimba Jaya. Mereknya, Kopi Janten Sari. Inilah hasil dari ladang kopi lahan Perhutani di sana.

Di bawah pokok-pokok Jati nan menjulang ke awang-awang ditanam berrmacam hal seperti kopi, jagung dan tanaman cepat panen lainnya. Para petani berhimpun dalam banyak Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMHD). Ini lembaga masyarakat tepi hutan dibentuk dengan prakarsa Perhutani. Mereka diminta untuk bisa memanfaatkan hamparan hutan agar ekonomi bergerak. Dan: mengamankan, dan memanfaatkan hutan secara lestari.

Pengembangan kopi dalam kawasan hutan Perum Perhutani memang dilakukan petani dengan pola agroforestri. Optimalisasi lahan hutan dengan tanaman non-pohon dan/atau hewan ini untuk meningkatkan produktivitas tanpa mengubah fungsi utama pemanfaatan hasil hutan kayu.

Saya periksa kopi 100 gram dengan kemasan warna keemasan ini. “Excelsa, 100 persen terbuat dari biji kopi asli.” Diracik oleh petani sepenuh hati di Kedungsari, Singaraja, Kendal. 

Baca Juga: Indonesia Percepat Hilirisasi Kopi, Dorong Peningkatan Daya Saing Global

Arabica, Robusta, dan Liberica

Perhutani menanam kopi arabica, robusta, dan liberica. Zaman Belanda Liberica merupakan kopi jenis “baru,” setelah ladang kopi di Afrika dan Sumatra Westkust diserang “kopi malam.” 

Inilah hama kerat daun. Tahun-tahun medio 1800, hama itu terus menyerang, sedemikian ganasnya. Keindahan ladang kopi pun surut, suram dan membuat negara induk, Belanda, pusing tujuh keliling, karena pasokan kopi dari negeri koloni menurun tajam, sementara pasokan kopi dari negeri lain sudah lama disetop. Bukankah di Belanda, nama kopi sudah diubah menjadi Cup of Java?

Lalu Pada abad baru 1900, ada sebuah laporan menyebut, “kopi malam,” untuk melukiskan, jika sebelum ini biji kopi berwarna merah ceriah, sekarang kuning pucat.

Inilah penyakit yang menyebabkan daun kopi mengkerut, lalu buahnya kuning hambar tak berbentuk. Maka, dibawalah ke Indonesia bibit baru yang sekarang dikenal dengan nama Liberica. Dulu namanya Liberia. Pada 1903 misalnya, dalam statistik kopi, Semarang mengirim javakoffie 2.400 pikul dan iberia koffie 5.426 pikul. Pada 1904 dicatat 1.200 dan 6.524 pikul. 

Kopi di Jawa terutama di Jawa Barat sekarang, merupakan kisah panjang. Komandan Pasukan VOC di Pantai Malabar, Adrian Van Ommen yang sedang berada di Cochin, tak jauh benar dari Kerala, sisi tanduk anak Benua India arah ke Laut Arab, tanpa berkedip mambaca surat dari Walikota Amsterdam, Nicholas Witsen. 

Surat itu dibawa dari jantung termahal Belanda, disimpan dalam sebuah peti terkunci. Surat telah berlayar dari Amsterdam melewati Kanal Inggris, melintas di laut di depan tanduk kecil Spanyol, dan Portugal. Kemudian “hanyut” ke laut lepas Samudera Atlantik, untuk seterus menyisir lepas pantai Afrika hingga ke Tanjung Pengharapan. Dari sana, kapal seperti berbalik pulang, tapi melewati laut yang lain, Samudera Hindia, lalu menusuk tajam ke Malabar. Berhenti di negeri orang, negeri asing: India. 

Lalu terus ke Batavia. Ditanam pertama kali di sana, sebuah kawasan yang kemudian diberi nama Pondok Kopi, Jakarta.

Baca Juga: Jika Seseorang Memesan 7 Menu Ini di Kedai Kopi, Barista Bisa Menebak Kepribadiannya

Lahan Luas

Perhutani penjaga hutan Jawa, profesionalitasnya dimulai dari zaman Belanda. Tak ada di pulau lain, hutan dan mata air yang dijaga sehebat di Jawa. Dan, itu oleh Perhutani.

Perhutani punya lahan yang luas untuk bisa dimanfaatkan. Eksisting luasan untuk satu hamparan sesayup mata memandang sekitar 5.000 ha per hamparan misalnya, ada di 4 lokasi. Luas lahan potensi  76.787 hektare di beberapa lokasi di punggung Jawa.

Sekarang, Perhutani membina petani untuk membantu pergerakan ekonomi. Kopi yang dipanen dijual kepada pedagang. Beda dengan kopi Banaran milik PTP yang diekspor ke Eropa. Sebelum naik kereta pada Selasa malam, menuju  Surabaya, saya ngopi dulu di kafe Plataran Kota milik Kopi Banaran di Semarang. Kopi di Jawa memang beragam rasa di kota-kota di pulau ini. Jika digarap maksimal, maka lahan dan kayu Perhutani akan terjaga dari pencurian dan pengrusakan. Sedang rakyat mendapatkan penghasilan baik sebagai tambahan ataupun utama.

Tapi, tunggu dulu, Perhutani ke depan sebaiknya, berperan sebagai produsen kopi baru dengan melakukan investasi. Berperan sebagai off taker kopi hasil kerjasama. Melakukan benchmark ke PTPN, hal yang sam dilakukan PTPN dalm bisnis kayu keras.

Jika Perhutani hanya menerima sharing dari masyarakat apalagi dari biji kopinya, maka pendapatan relatif kecil. Apapun itu, Perhutani punya kewajiban bersama pihak lain, menjemput kejayaan cup of java yang ditulis di bab terakhir sejarah bangsa itu. (*)

EDITOR: Ilham Safutra