Jibril memeluk erat Rasulullah Muhammad hingga sesak, sambil berucap, “Iqra.” Dan Tiga kali pula Rasulullah menjawab dengan nada bingung, “Aku tidak bisa membaca.”
JawaPos.com – Kisah tentang momen Muhammad menerima wahyu dari Allah sudah masyhur di kalangan umat Islam.
Bagaimana seorang pria buta huruf berusia 40 tahun mendapatkan wahyu melalui perantara malaikat Jibril, dan perintah pertamanya sangat bertolak belakang dengan kondisinya: membaca.
Kini, Jabal Nur dan Gua Hira, tempat Rasulullah menerima wahyu sudah menjadi lokasi wisata religi populer di Makkah.
Baca Juga: 4 Tahapan Rumit Pembuatan Kiswah Ka’bah, dari Penyiapan Benang hingga Siap Digunakan
Umat Islam dari berbagai penjuru dunia berusaha menapaktilasi perjalanan spiritual sang Nabi, dengan mendaki Jabal Nur, atau bukit Cahaya. lalu berziarah ke gua Hira.
Dini hari tadi, Kamis (18/6), JawaPos.com bersama tim Media Center Haji berkesempatan mendaki gunung setinggi 640 meter di atas permukaan laut itu.
Kami memilih waktu keberangkatan dini hari agar bisa melaksanakan shalat subuh di puncak Jabal Nur.
Jabal Nur terletak sekitar 5 kilometer di sisi Timur Laut Masjidil Haram di kota Makkah. Saat ini, sudah tersedia anak tangga yang dibangun oleh otoritas setempat untuk memfasilitasi peziarah.
Perjalanan mendaki dimulai pukul 03.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Di awal mendaki, kami langsung menyadari telah membuat kesalahan. Yakni tidak melakukan pemanasan sebelum mendaki.
Baca Juga: Ka’bah Berganti Kiswah, Sambut Tahun Baru Hijriah
Akibatnya sudah bisa ditebak. Setiap 15 menit, kami harus berhenti karena kaki seolah enggan diajak bekerja sama.
Kami mendaki ratusan, mungkin lebih dari 1.000 anak tangga di sepanjang jalur pendakian Jabal Nur. Kami mendaki dalam gelap, diterangi lampu jalan bertenaga surya.
Untuk mempertahankan keaslian jalur pendakian, setiap anak tangga tidak dibuat sama tinggi. Melainkan dibiarkan alami sesuai ketinggian masing-masing, hanya diratakan untuk memudahkan pendaki.
Di sebelah jalur tangga, ada jalur tanjakan yang bisa dilewati truk sampai ketinggian tertentu. Fungsinya untuk membawa alat berat yang akan meratakan jalur dan membawa material untuk renovasi jalur.
Di sepanjang jalur pendakian, pada beberapa titik terdapat penjual suvenir yang mangkal menjajakan dagangannya.
Baca Juga: Ka'bah Bersiap 'Ganti Baju' Jelang Tahun Baru, Kiswah Anyar Disiapkan
Pedagang yang rata-rata berasal dari Asia Selatan itu sebagian besar masih tertidur saat kami mendaki.
Kota Makkah Gemerlap Saat Malam
Perjuangan mendaki selama nyaris satu jam terbayar lunas saat kami tiba di puncak. Pemandangan gemerlap kota Makkah langsung menyambut.
Cahaya paling terang tentu saja berasal dari ujung cakrawala. Berasal dari lampu-lampu yang menerangi Masjidil Haram, dengan latar belakang clock tower.
Di salah satu sisi puncak Jabal Nur, ada bagian kecil yang sudah diratakan dan disemen. Cukup untuk tempat shalat berjamaah 12 orang.
Kami melaksanakan shalat subuh dengan bacaan surah Al Alaq oleh imam, untuk mengenang turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad.
Baca Juga: Kabar Duka: Jemaah Haji Debarkasi Surabaya yang Wafat Bertambah Jadi 6 Orang
Sejenak kami bertafakur. Gemerlap lampu di bawah sana sungguh kontras dengan apa yang disaksikan Nabi Muhammad 1.400 tahun silam.
Kala itu, malam di Kota Makkah nyaris gelap tanpa Cahaya. Menjadikan Gua Hira tempat yang sempurna untuk menyendiri.
Tak disangka, saat menyendiri untuk kesekian kali, wahyu turun sekaligus menahbiskan Muhammad sebagai nabi terakhir.
Ceruk Kecil di Antara Bebatuan Besar
Jangan bayangkan Gua Hira seperti gua-gua yang ada di Indonesia. Gua ini lebih tepat disebut ceruk di antara batu-batu besar di Jabal Nur.
Tingginya hanya sekitar 170 cm dan mengerucut, lebar sekitar 90 cm yang terbagi area berdiri 50 cm dan area duduk 40 cm, dengan kedalaman sekitar 130 cm yang mengerucut.
Gua Hira hanya cukup menampung selembar sajadah untuk alas berdiri satu peziarah. Lokasinya berada sekitar 15 meter di bawah puncak Jabal Nur.
Untuk mencapainya, peziarah harus menuruni anak tangga yang curam. Maka, demi keselamatan, sebagian dari kami memilih turun setelah matahari terbit.
Di ujung anak tangga, ada dua pilihan jalur menuju Gua Hira. Belok kanan melewati ceruk sempit di antara batu-batu gunung hingga ke mulut gua, atau lurus mendaki bebatuan di atas gua.
JawaPos.com mencoba keduanya. Menuju gua Hira melewati ceruk sempit yang hanya muat satu orang. Kemudian, mendaki ke atas gua seusai berziarah.
Semakin siang, makin banyak peziarah yang datang. Mereka bergantian membentangkan sajadah di gua, lalu melaksanakan shalat sunnah atau berdoa. Karena bagian dalam gua memang mengarah ke Ka’bah.
Sejumlah jamaah haji Indonesia juga sempat mendaki Jabal Nur. Mereka mendaki sejak lewat tengah malam. Salaj satunya Joko Purwanto jamaah SUB 113 asal Nganjuk.
Ia mengaku terkesan dengan pendakian Jabal Nur dan kunjungannya ke gua Hira. “Perjuangan Kanjeng Nabi (Muhammad) memang luar biasa. Butuh tenaga ekstra, dan harus hati-hati,” ujarnya.
Ia juga terharu karena bisa berziahar ke gua Hira. “Kami harus melewati celah sempit untuk bsia sampai ke gua,” lanjutnya.
Ia dan jamaah-jamaah lain dari kloter SUB 113 berangkat dari hotel sejak pukul 01.00 WASdan mendaki pukul 01.30 WAS.
Hal senada disampaikan Daud, jamaah asal Nganjuk lainnya. Ia begitu takjub dengan pemandangan kota Makkah dari atas Jabal Nur.
Baca Juga: 4 Panduan Mencari Badal Haji yang Amanah, Jangan sampai Jadi Korban Penipuan
“Sangat indah sekali, terlihat semua (kota Makkah),” ucapnya. Ia berpesan kepada jamaah haji yang hendak berziarah ke gua Hira agar berhati-hati.
Sebab, jalur pendakian memang menantang. Tidak cocok untuk orang yang memiliki masalah kesehatan terkait jantung.
Para jamaah yang hendak mendaki Jabal Nur memang disarankan membawa bekal. Minimal air putih dan bekal camilan.
Namun perlu diingat, di sepanjang jalur pendakian tidak ada toilet. Karena itu, perlu strategi agar tidak muncul keinginan buang air di tengah perjalanan.
Caranya adalah minum air seteguk atau dua teguk tiap 10 menit. Dengan cara demikian, jamaah akan terhidrasi secara efektif.
Baca Juga: Belasan KBIHU Terlibat Penipuan Badal Haji dan Pembayaran Dam Tak Resmi
Air akan keluar melalui keringat, bukan ke ginjal. Sehingga tidak menimbulkan keinginan buang air.
Jabal Nur bukan sekadar gunung. Itu adalah gunung yang salah satu sudutnya menjadi tempat Nabi Muhammad menerima wahyu.
Seluruh perjuangan Nabi Muhammad hingga akhirnya populasi umat Islam dunia saat ini lebih dari 2 miliar jiwa, berawal dari sebuah ceruk kecil di Jabal Nur, yang dinamai gua Hira.