← Beranda
Perjalanan Painah Berangkat Haji ke Tanah Suci: Daun Pisang dan Suami yang Gagal Istithaah Kesehatan
Bayu PutraSenin, 8 Juni 2026 | 19.25 WIB
Painah dan Sabar di Hotel mereka di kawasan Misfalah, Makkah, Minggu (7/6/2026). Painah berangkat bersama putranya karena sang suami tak lolos istithaah kesehatan. (Bayu Putra/JawaPos.com)

Keberangkatan Painah menunaikan ibadah haji tahun ini bak suratan takdir yang nyata. Orang-orang terkasih yang mengajaknya berhaji justru urung berangkat ke tanah suci.

JawaPos.com – Painah ingat betul Ketika sang suami, Munasir, mengajaknya berangkat haji pada medio 2012 lalu. Saat ia sebenarnya tak ada niatan pergi ke tanah suci.

“Enggak lah, saya enggak mau berangkat haji, saya mau sama anak saja,” ucapnya kepada Munasir kala itu.

Ajakan tersebut terinspirasi dari ajakan ulama di kampung mereka, Ngedok, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, yang berniat untuk berangkat haji pada 2004.

Ditambah lagi, beberapa tahun kemudian adik Painah juga mendaftar haji sehingga keinginan Munasir untuk berhaji Bersama Painah semakin besar.

Baca Juga: Nyaris 17 Ribu Jamaah Haji Reguler Indonesia Dapat Hotel Bintang 5 di Madinah

Painah sebenarnya mempersilakan Munasir untuk berangkat tanpa dirinya. Namun, Munasir menolak.

“Kalau saya berangkat kamu enggak, saya enggak mau (berangkat). Kalau mau berangkat bareng, ya ayo,” ucap Sabar, putra bungsu Painah yang tahun ini mendampingi ibu empat anak itu ke tanah suci.

Ya, pada akhirnya, memang bukan Munasir yang berhaji bersama Painah, melainkan Sabar. Sebab, Munasir tak lolos istithaah kesehatan.

Pria 71 tahun itu didiagnosa mengalami pembengkakan jantung sehingga dinyatakan tidak layak berangkat.

Baca Juga: Jamaah Haji Indonesia Gelombang 2 Bergeser ke Madinah Bawa Boneka Unta

“Tentu bapak kecewa sekali. Beliau sempat mau menarik uang pendaftaran, tapi saya tidak tega kalau ibu berangkat sendiri. Selain sudah tua, ibu juga hanya bisa berbahasa jawa,” tutur Sabar.

Akhirnya, jadilah Sabar menggantikan Munasir ke tanah suci mendampingi Painah. Sementara, tiga orang yang mendorong painah ke tanah suci urung berangkat.

“Kiai kampung yang tadinya ngajak (berhaji) malah meninggal. Pak Lik yang ngajak malah sakit sekarang,” lanjut Sabar.

Untu mengobati kekecewaan Munasir, Painah dan anak-anaknya mendorong ia berangkat umrah. Akhirnya, menjelang Ramadhan lalu, Munasir berangkat umrah.

Setelah Munasir umrah, barulah ia legawa dengan hasil istithaah kesehatan yang menyatakan tak layak berhaji. “Sekarang bapak ya bekerja seperti biasa di ladang,” tutur Painah.

Baca Juga: Besok, Jamaah Haji Indonesia Gelombang 2 Mulai Bergeser ke Madinah

Nenek 65 tahun itu kini telah menyelesaikan rangkaian ibadah hajinya bersama Sabar. Ia melakukan semua rangkaian ibadah itu secara mandiri. Termasuk lontar jumrah dan tiga kali umrah.

Bahkan, Painah nyaris tidak pernah absen datang ke Masjidil Haram untuk beribadah, menjalankan shalat fardhu.

“Biasanya saya berangkat sebelum Asar, lalu pulang setelah isya. Berangkat naik bis, pulangnya jalan,” ucap nenek 10 cucu itu.

Awalnya, kebiasaan itu membuat Sabar khawatir. Namun, karena sang ibu selalu ditemani rekan-rekannya, kekhawatiran itu sirna.

Kebetulan, hotel tempat Painah menginap memang tak terlalu jauh dari Masjidil Haram. Hanya sekitar 2,5 km bila ditempuh dengan berjalan kaki.

Baca Juga: Ruang Karyawan di Al Hidayah Tower Makkah Kebakaran, Jamaah Haji Indonesia Dipastikan Aman

Jarak tersebut sudah biasa ia tempuh setiap hari selama bertahun-tahun di Wonosobo. Karena sehari-harinya Painah berjualan daun pisang dari desa ke desa.

Ia menerima pesanan daun pisang dari pelanggannya yang memiliki usaha makanan, juga warga desa yang sedang punya hajatan maupun merayakan hari raya keagamaan.

Sejak pukul 01.30 dini hari, Painah sudah aktif menyiapkan olahan sayur untuk dijual jelang subuh di pasar.

Selepas subuh, ia beristirahat sejenak, lalu menyiapkan pesanan daun pisang pelanggannya sesuai permintaan. lalu mengantarkannya dengan berjalan kaki.

Painah bisa menjelajah hingga lima desa untuk mengantar pesanan daun pisang. Karena itu, berjalan jauh bukan hal sulit baginya.

Baca Juga: Indonesia Kirim Ribuan Ekor Daging Dam Jamaah Haji ke Palestina, Dikirim Via Mesir

Bahkan, saat sabar memintanya untuk Latihan berjalan kaki sampai Alun-Alun wonosobo menjelang keberangkatan haji, Painah enggan.

“Tiap hari saya sudah jalan kaki,” ucap Painah.

Dari hasil berjualan daun pisang itulah, Painah melunasi biaya hajinya. Ia menabung sejak 18 tahun silam, atau empat tahun sebelum mendaftar haji.

“Saya nabung di PKK. Tiap bulan Rp 202 ribu. Yang Rp 200 ribu tabungan murni, yang Rp 2 ribu tabungan untuk piknik,” tutur nenek 65 tahun itu.

Kini, Painah sudah berhaji. Di Tanah Suci, ia meninggalkan sebait doa. Agar ia, Munasir, dan anak cucu mereka diberikan kekayaan.

Baca Juga: Petugas Bandara Sita Air Zamzam Bawaan Jamaah Haji Indonesia, Koper Dibongkar

Bukan hanya kekayaan berupa harta. Melainkan juga kekayaan berupa kesehatan, keselamatan, hingga keharmonisan keluarga.

Karena bagi Painah, kekayaan tidak hanya diukur dari materi. Kebersamaan keluarga juga menjadi kenikmatan yang tak terperi.

“Insya Allah kalau ada uang setelah haji nanti saya ma uke sini, umrah lagi,” imbuh Painah.

 

 

 

 

 

EDITOR: Bayu Putra