← Beranda
Khutbah Wukuf di Arafah 2026: Haji Mabrur Lahirkan Akhlak dan kepedulian Sosial
Bayu PutraRabu, 27 Mei 2026 | 00.00 WIB
Jamaah Haji Indonesia kloter SUB 13 mengikuti jalannya khutbah wukuf di Arafah, Selasa (26/5/2026). (Bayu Putra/JawaPos.com/MCH 2026)

JawaPos.com – Jamaah haji Indonesia siang ini, Selasa (26/5) Waktu Arab Saudi (WAS) menjalani wukuf di Arafah.

Prosesi wukuf diawali khutbah yang disampaikan oleh anggota Amirul Hajj KH Asep Saifuddin Chalim, dengan tema “Tri Sukses Haji: Jalan Menuju Haji Mabrur dan Kemaslahatan Bangsa.”

Dalam khutbahnya, KH Asep menyampaikan bahwa kehadiran jamaah haji untuk wukuf di Arafah bukan sekadar kehadiran fisik.

Lebih dari itu, wukuf menjadi momentum spiritual untuk Kembali kepada Allah, mengakui kelemahan diri, bertaubat, berdoa, dan memperkuat ketakwaan.

“Di Padang Arafah ini, manusia belajar bahwa tidak ada kemuliaan sejati selain ketakwaan. Di tempat ini, air mata taubat lebih berharga daripada kemegahan dunia,” ujar KH Asep.

Ia mengingatkan, harta tidak membuat seseorang lebih mulia. Jabatan tidak membuat seseorang lebih dekat kepada Allah.

Semua akan Kembali Kepada Allah

Di Arafah, seorang hamba menyadari bahwa seluruh perjalanan hidup pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT.

“Semua hadir sebagai hamba. Semua memohon ampun. Semua mengharap rahmat. Semua menunggu karunia Allah,” lanjutnya.

KH Asep meminta jamaah haji untuk menundukkan hati dan menjernihkan niat. “Kita bersihkan lisan dari keluhan yang tidak perlu dan berpotensi melukai hati orang lain,” jelasnya.

Rasulullah SAW bersabda:

خَحيُْ الدُّعَاءّ دُعَاءُ ي حَومّ عَرَفَ ةَ

Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.” (HR. Tirmidzi)

Maka, tutur KH Asep, jangan biarkan waktu wukuf berlalu begitu saja tanpa istighfar dan munajat.

“Jangan biarkan detik-detik mulia ini hilang tanpa doa untuk diri, keluarga, orang tua, guru, para petugas, para pemimpin, semua jamaah haji, umat Islam, dan bangsa Indonesia. Mari kita panjatkan doa terbaik untuk semuanya,” tuturnya.

Haji Mabrur Terlihat dari Perubahan Hidup

Ia juga mengingatkan soal haji mabrur dalam khutbahnya. Menurut dia, haji mabrur bukan hanya sekadar menyelesaikan manasik.

“Haji mabrur adalah perubahan hidup yang akan menampakkan diri pada wujud hati yang lebih lembut, ibadah yang lebih terjaga, lisan yang lebih santun, sikap yang lebih sabar dan bijak, serta kepedulian yang lebih nyata dalam kehidupan,” tegasnya

Maka, oleh-oleh terbaik dari haji bukanlah barang, souvenir, dan status yang dibawa pulang. Melainkan takwa, hati yang lebih bersih, hidup yang lebih dekat kepada Allah, dan kesediaan untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat dan bermartabat.

Ibadah haji mengajarkan bahwa kemuliaan tidak lahir dari kesombongan. Kemuliaan lahir dari takwa, lahir dari akhlak, lahir dari kemampuan menahan diri saat Lelah.

Juga kemampuan untuk tetap santun saat berdesakan, tetap sabar saat menunggu, dan tetap peduli saat melihat saudara membutuhkan bantuan.

“Di tengah jutaan manusia, haji menguji watak kita. Di tengah panas dan padat, haji menguji kesabaran kita. Di tengah keterbatasan fisik, haji menguji keikhlasan kita. Di tengah perbedaan kebiasaan, haji menguji keluasan hati kita,” terang KH Asep.

Karena itu, jamaah haji Indonesia harus menjadi teladan dalam tertib, menjaga kebersihan, menghormati sesama, mematuhi ketentuan, dan teladan dalam menolong sesama yang memerlukan bantuan.

Dalam khutbahnya, KH Asep juga menyinggung soal tri sukses haji. Yakni sukses spiritual, sukses ekosistem ekonomi haji, serta sukses keadaban dan peradaban.

Syariat Sediakan Kemudahan Bagi yang Punya Uzur

Sukses spitritual artinya jamaah mampu menjalankan haji dengan benar. Wukufnya sah, tawafnya sah, sa’inya sah, dan tahalulnya sah. Selain itu, mabit dan lontar jumrahnya dilaksanakan sesuai ketentuan syariat.

Bagi yang memiliki uzur, syariat menyediakan kemudahan. Karena Islam tidak memaksakan umatnya mengerjakan sesuatu di luar kemampuan.

Sukses ekosistem ekonomi haji, artinya haji harus bisa mendorong manfaat ekonomi bagi umat dan bangsa. Haji harus membuka peluang bagi produk Indonesia untuk hadir di Arab Saudi.

Sementara, sukses keadaban dan peradaban artinya Haji harus mampu membentuk akhlak personal.

“Haji harus menjadikan seseorang lebih santun kepada keluarga, lebih peduli kepada tetangga, lebih jujur dalam pekerjaan, lebih disiplin dalam amanah, dan lebih rendah hati dalam kehidupan sosial” ucap KH Asep.

Haji juga harus menjadikan jamaah sebagai teladan bagi lingkungannya. Ketika pulang ke tanah air, jemaah haji harus membawa kesejukan.

Ia harus menjadi penengah, bukan pemecah. Ia harus menjadi penyambung persaudaraan, bukan penyulut permusuhan.

Ia harus menebarkan kedamaian, bukan kebencian. Dan ia harus menguatkan masyarakat, bukan membebani masyarakat.

EDITOR: Bayu Putra