JawaPos.com – Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak meyakinkan tahun ini tidak ada lagi jamaah yang tak kebagian tenda di Arafah dan Mina.
Hal itu disampaikan Dahnil saat mengecek kondisi tenda jamaah haji di Mina, Sabtu (23/5) sore waktu Arab Saudi bersama sejumlah Amirul Hajj.
Dengan pengaturan oleh PPIH, diharapkan tidak ada lagi jamaah yang telantar dan tak mendapatkan tenda gara-gara tenda dikuasai oknum kelompok bimbingan ibadah haji dan umrah (KBIHU) tertentu.
“Saya dan kawan-kawan meninjau pembersihan kavling-kavling yang dilakukan oleh KBIHU atau oknum tertentu,” terang Dahnil usai pengecekan.
Baca Juga: Mbah Marsiyah Akhirnya Melihat Ka’bah: Kisah Jamaah Tertua Indonesia Menunaikan Haji di Tanah Suci
Dalam peninjauan itu, Dahnil mengecek sejumlah hal mulai dari Kasur, bantal, toilet, dapur, dan terutama penanda pada tenda agar mudah ditemukan oleh jamaah haji Indonesia.
Dia mencontohkan penanda tenda untuk jamaah haji kloter UPG 06. “Nomor tenda 1 sampai 6. Kemudian kapasitas jamaahnya di sini nanti 393,” urainya.
Daftar nama jamaah haji yang akan mengisi masing-masing tenda tengah dipersiapkan, untuk memastikan semuanya mendapatkan tempat di Arafah maupun Mina.
“Kita memastikan jumlah tenda sesuai dengan kebutuhan, jadi tidak ada jamaah calon haji yang tidak memperoleh tenda, tempat tidur, dan tempat istirahat, lanjut mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah itu.
Tidak boleh lagi ada KBIHU yang mengklaim tenda-tenda di Arafah maupun Mina untuk jamaahnya.
Baca Juga: Di Balik Proses Pemakaman Muhammad Firdaus Akhlan, Jamaah Haji yang Sempat Hilang di Makkah
Karena itu kerap membuat jamaah lain di luar KBIHU yang seharusnya satu tenda dengan KBIHU jadi tersisih.
Usai mengecek tenda, Dahnil dan rombongan berjalan kaki dari Markaz 12 menuju Jamarat. Markaz 12 merupakan kompleks tenda terjauh jamaah hajji Indonesia dari Jamarat.
Jarak tempuh Markaz 12 ke Jamarat bolak balik minimal sekitar 7 kilometer. Karena itu, jamaah haji diminta benar-benar mempersiapkan fisiknya untuk berjuang di Mina.
Dahnil menambahkan, tidak ada kendaraan yang bisa digunakan jamaah haji Indonesia selama di Mina. Seluruh prosesi ibadah lontar jumrah harus ditempuh dengan berjalan kaki.
Bagi jamaah haji yang mengambil nafar awal, selama berada di Mina ia akan menempuh jarak total minimal 21 kilometer mulai tanggal 10, 11, dan 12 Zulhijjah.
Sementara, bagi yang mengambi nafar tsani, akan berjalan minimal 28 kilometer selama 4 hari. Kondisi tersebut cukup menguras tenaga.
Karena itu, Dahnil kembali mengingatkan jamaah haji untuk cukup istirahat agar tidak mudah kelelahan selama prosesi puncak haji.