← Beranda
Perjuangan Aysylla Naila Sari Berhaji di Usia Remaja, dari Pesawat Tertahan hingga Ujian Sekolah di Madinah
Bayu PutraJumat, 8 Mei 2026 | 16.55 WIB
Aysylla Naila Sari bersana kakak iparnya, Amsik Romachis di lobi Marjan Alsalam Hostel, Makkah, Rabu (6/5) lalu. Ays berangkat haji di usia 15 tahun, mendaftar sejak dalam buaian. (Bayu Putra/JawaPos.com/MCH2026)

JawaPos.com - Mengerjakan ujian akhir kelulusan tanpa hadir di sekolah karena alasan sakit itu biasa. Tapi bagaimana kalau alasannya adalah memenuhi panggilan Allah?

Itulah yang dialami oleh Aysylla Naila Sari, jamaah haji termuda di Kabupaten Malang yang tahun ini berangkat haji di usia 15.

Ia ingat betul ketika pada Medio November 2025 lalu mendapat pemberitahuan untuk berangkat haji di tahun 2026.

Awalnya ia sangsi bisa berangkat karena usianya saat itu masih 14 tahun, sementara aturan menyebut bahwa usia minimal berangkat haji adalah 17 tahun.

Baca Juga: Kloter SOC 44 Bawa 175 Lansia, Awali Kedatangan Jamaah Haji Gelombang 2 di Makkah

Ternyata, di detik-detik akhir ada perubahan aturan. Kementerian Haji dan Umrah RI mengeluarkan aturan baru yang menyebut bahwa usia minimum berangkat haji adalah 13 tahun. Tentu saja Ays jadi memenuhi syarat untuk berangkat haji.

Perasaannya campur aduk. Antara senang mendapat kesempatan besar untuk berhaji, namun juga bingung lantaran panggilan Allah itu datang di saat ia akan menjalani ujian akhir kelulusan.

Pada akhirnya, Ays memilih memenuhi panggilan Allah. siswi kelas IX itu lalu berkonsultasi kepada kepala sekolahnya di MTsN 1 Malang, juga kepada wali kelasnya.

Pihak sekolah menyambut baik niat Ays untuk berhaji. Ujian sekolah inilah yang kemudian dicarikan caranya agar ia tetap bisa mengikuti.

Kemudian, didapatlah solusi bahwa jadwan ujian Ays dimajukan. Tapi tetap saja ia tak bisa mengerjakannya di tanah air.

Baca Juga: Jamaah Haji Gelombang 2 Bisa Miqat di Yalamlam atau di Jeddah, Pakai Ihram Sejak dari Tanah Air

Itu karena Ays telah berangkat ke Tanah Suci pada 25 April lalu. Ia tergabung dalam kloter SUB 16 bersama sang kakak.

Sementara, jadwal kepulangannya adalah 6 Juni. Terlalu mepet dengan jadwal wisuda sekolahnya pada 9 Juni.

"Jadi mengerjakan ujiannya di Madinah," terang Ays saat ditemui JawaPos.com dan tim Media Center Haji 2026 Rabu (6/5) lalu di Marjan Alsalam Hostel tempat ia menginap di Makkah.

Belum juga menjalani ujian sekolah sesuai rencana, Ays harus mencicipi ujian lain. Pesawatnya sempat tertahan di bandara Kualanamu Medan di tengah perjalanan menuju Tanah Suci.

Akibatnya, masa tinggal Ays dan rombongannya di Madinah juga berkurang menjadi hanya sepekan.

Baca Juga: Kemenhaj Ungkap 10 Jemaah Haji Indonesia Wafat di Arab Saudi, Pastikan Layanan Kesehatan Diperkuat

Sepekan tinggal di Madinah dimaksimalkan oleh Ays untuk menjalani ujian sekolah. "Ujiannya pakai HP, pakai aplikasi CBT," lanjut bungsu dari 3 bersaudara itu.

Ada 12 mata pelajaran yang diujikan selama lima hari berturut-turut. Ia mengerjakan seluruh soal ujian itu menggunakan ponselnya. "Alhamdulillah lancar semua," ucapnya dengan nada kalem.

Yang belum ia lalui adalah ujian praktik olahraga dan seni, karena aktivitasnya harus direkam. Namun, ia lega karena setidaknya sudah menyelesaikan ujian tulis.

Meski lima hari fokus mengerjakan ujian di Madinah, Ays masih sempat berziarah ke Masjid Nabawi dan beribadah.

Ia juga sudah berkesempatan shalat dan berdoa di Raudhah, usai mendaftar lewat aplikasi Nusuk.

Baca Juga: Air di Hotel Jamaah Haji Indonesia Kloter YIA 1 Sempat Mati, PPIH Daker Makkah Pastikan Pulih Cepat

Keberangkatan Ays berhaji di usia yang amat belia tidak lepas dari visi besar kedua orang tuanya.

Sang ayah yang berprofesi sebagai nelayan mendaftarkan Ays berhaji pada 2012, saat gadis itu masih dalam buaian.

"Waktu itu didaftarkan saat usia 1 tahun 8 bulan, tuturya. Kala itu, memang belum ada aturan batas usia minimal untuk mendaftar haji.

Ays didaftarkan sejak dini, karena kedua orang tuanya yang sudah berhaji pada 2006 tahu betul panjangnya antrean haji di Indonesia. Mereka tidak ingin anak-anaknya berhaji saat usia mereka sudah senja.

Saat itu, tidak hanya Ays yang didaftarkan haji. Kakaknya juga didaftarkan sehingga bisa berangkat bersama-sama.

Baca Juga: Tim Kesehatan Haji Indonesia Rutin Visit Kamar Jamaah Haji, Batuk Pilek Paling Sering Jadi Keluhan

Visi besar itu berbuah manis. Ays kini menjadi salah satu jamaah haji termuda di Indonesia. Ia berangkat haji saat usianya baru menginjak 15 tahun.

Ini adalah kali kedua Ays berangkat ke Tanah Suci. Sebelumnya, pada 2023 lalu, ia sudah pernah menjalani ibadah umrah.

Tapi tetap saja Haji menjadi pengalaman yang amat spesial baginya. Terlebih ia harus menanti selama hampir 14 tahun untuk bisa berhaji.

"Vibes-nya itu berbeda gitu sama umrah, terus juga perjalanan ke masjidnya itu juga beda, hotelnya juga beda," jelas gadis asal Sumbermanjing, Kabupaten Malang itu.

Ays ingat betul, ketika berpamitan dengan kawan-kawannya, nyaris semua mengira ia berangkat ke Tanah Suci lewat jalur haji khusus.

Baca Juga: Lagi, 3 WNI Ditangkap di Makkah Gara-Gara Penipuan Haji Ilegal dan Penyediaan Dam

Setelah dijelaskan bahwa ia mendaftar sejak masih bayi, mereka pun makin penasaran, termasuk para orang tuanya.

Bagi Ays, berhaji di usia muda itu menjadi berkah tersendiri. Ia mendukung gerakan mendaftar haji sejak dini, agar saat berangkat jamaah berada di usia matang.

"Karena kalau (berangkat saat) sudah tua, sudah sepuh-sepuh itu, kasihan lihatnya. Jadi mumpung masih usia muda, cepat-cepat daftar aja," ucap gadis penggemar kuliner shawarma itu.

Sejak tiba di Makkah pada 4 Mei lalu, Ays mengaku baru sekali ke Masjidil Haram untuk menjalani umrah wajib.

Sebab, kakak iparnya, Amsik Romachis yang turut berangkat memang melarang rombongannya untuk sering-sering ke Masjidil Haram sebelum wukuf di Arafah.

Baca Juga: Jamaah Haji Indonesia Perlu tahu, ini Cara Mudah Kembali ke 3 Terminal Bus Shalawat dari Masjidil Haram

Mereka ingin mengumpulkan tenaga agar bisa melaksanakan ibadah wajib di puncak haji dengan maksimal.

Saat disinggung apakah sudah sempat belanja oleh-oleh, Ays tersenyum seraya mengangguk.

Ia sudah belanja lebih dulu di Madinah agar di Makkah bisa fokus beribadah. "Sudah dikargoin juga, 20 kilo," imbuhnya.

EDITOR: Bayu Putra