JawaPos.com - Sabtu (2/5) dan Minggu (3/5) menjadi pengalaman tak menyenangkan bagi dua jamaah haji lansia Indonesia, yang baru saja menyelesaikan umrah wajib di Masjidil Haram.
Berjalan kaki menuju terminal bus di tengah teriknya matahari di atas kepala, meski tak jauh, setidaknya dua orang lansia tumbang dan nyaris pingsan dalam dua hari berturut.
Lokasi tumbangnya hampir sama. Yakni di area trotoar menanjak menuju terminal Jabal Ka'bah di seberang kompleks hotel Sheraton dan Anjum.
Dugaan utamanya adalah gejala awal serangan panas atau heatstroke. Itu terlihat dari kondisinya yang terlihat lemas sebelum tumbang.
Baca Juga: 7 Jamaah Haji Indonesia Wafat di Tanah Suci, 59 Masih Dirawat di RS Saudi
Pada kejadian pertama Sabtu (2/5), JawaPos.com mendapati seorang lansia laki-laki tengah ditangani oleh tim Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jamaah Haji (PKPPJH).
Kursi roda sudah disiapkan untuk sang kakek di depan trotoar. Namun, tak mudah untuk memindahkan tubuh renta itu ke kursi roda.
Wartawan media ini lalu membantu dua anggota PKPPJH mengangkat jamaah lansia yang tak disebutkan identitasnya itu, dan mendudukkannya di kursi roda.
Setelahnya, petugas PKPPJH bergegas membawa jamaah tersebut ke tempat yang lebih sejuk di Terminal Jabal Ka’bah untuk didinginkan kepala dan tubuhnya yang sudah lemas.
Begitu pula kejadian kedua pada Minggu (3/5). Seorang jamaah lansia laki-laki kepanasan dan nyaris pingsan usai menyelesaikan umrah wajib. Ia lalu dibaringkan di trotoar.
Baca Juga: Tarif Pendorong Kursi Roda Berpotensi Melonjak Jelang Puncak Haji, Bisa Tembus 600 Riyal!
Salah seorang petugas PKPPJH membawa air dingin lalu mengguyur tubuh dan kepala jamaah tersebut sebagai bentuk pertolongan pertama, sembari menanti ambulans datang.
Tak lama, kesadarannya mulai pulih dan ia sudah bisa duduk meski masih lemas. Kain ihram bagian atasnya tak lagi bersih karena dipakai alas berbaring.
Beberapa kasus jamaah lansia kepanasan dan kelelahan terjadi di rentang waktu pukul 10.00 Waktu Arab Saudi menuju tengah hari.
Beberapa hari belakangan, suhu udara rata-rata sudah di atas 36 derajat celsius pada jam-jam tersebut.
Bahkan pada Minggu (3/5), suhu tertinggi tercatat pada pukul 14.00, yakni 42 derajat Celsius.
Selain kedua lansia laki-laki tersebut, JawaPos.com juga mendapati dua lansia perempuan kelelahan berjalan di tengah terik matahari.
Namun, saat wartawan media ini menawarkan kursi roda untuk memudahkan mobilitas ke terminal bus, mereka menolak dan memilih duduk sejenak di trotoar.
"Saya ini punya tensi rendah," ucap salah seseorang lansia yang saat itu ditemani oleh sang suami kepada JawaPos.com.
Ia tak menolak kurma yang ditawarkan oleh wartawan media ini untuk booster energi instan.
Sekitar 10 menit selonjoran di trotoar, lansia tersebut mengatakan bahwa ia sudah kuat berjalan.
Dengan digandeng sang suami, juga dipayungi wartawan media ini, sang nenek perlahan melangkahkan kaki ke terminal Jabal Ka'bah.
Di terminal itu, ia disambut oleh para petugas transportasi PPIH Arab Saudi yang langsung mengantarnya duduk di kursi roda sambil menanti bus datang.
Sedangkan satu lansia perempuan lain berjalan perlahan dengan dibantu tongkat. Sesekali ia berhenti sejenak, dan meminta untuk diambilkan air minum di tas punggungnya.
Ia juga mengiyakan tawaran kurma yang memang disiapkan tim Media Center Haji untuk jamaah yang kelelahan.
Kurma berfungsi untuk pertolongan pertama, sekaligus pembangkit energi instan saat kelelahan, sebelum ada tindakan lanjutan.
Baca Juga: Perbedaan Haji Tamattu, Qiran, dan Ifrad, 3 Jenis Haji yang Bisa Dipilih oleh Jamaah Haji
Para lansia itu kini dalam pengawasan khusus tim Kesehatan haji Indonesia. Kondisi kesehatannya terus dipantau untuk memastikan mereka siap menjalani puncak haji di Arafah.
Satu kesamaan dari para lansia yang kelelahan bahkan tumbang itu adalah mereka berjalan di bawah terik matahari menjelang tengah hari.
Tak dipungkiri, beradaptasi dengan iklim di Tanah Suci yang lebih kering dibandingkan Indonesia memang tidak mudah.
Kasi PKPPJH, Lansia, dan Disabilitas Daerah Kerja Makkah Mayor CKM dr Riswan Siswanto, Sp.N menjelaskan lebih lanjut soal kejadian itu.
"Kami cek tanda vitalnya, tekanan darah, kemudian cek saturasi. Saat itu sempat saturasi turun di bawah 95," terangnya, Minggu (3/5) malam WAS.
Baca Juga: Labbaik Allahumma Labbaik, Jamaah Haji Indonesia Bergerak ke Makkah untuk Rangkaian Haji
Dari kedua lansia yang tumbang itu, belakangan diduga salah satunya punya masalah jantung.
Kondisi ini menjadi evaluasi khusus Seksi PKPPJH dan Klinik Kesehatan Haji Indonesia. Sebab, puncak haji masih cukup lama dan jamaah haji Indonesia belum banyak masuk ke Makkah.
"Kami di sini menekankan kepada ketua kloter, ketua rombongan, agar memperhatikan pada jamaah haji lansianya," lanjut dokter spesialis saraf itu.
Sebab, jamaah lansia sudah masuk dalam kategori risiko tinggi (risti). Ditambah lagi kondisi fisik lansia yang memang sudah menurun seiring usia, dan faktor cuaca yang tak bersahabat dengan jamaah haji Indonesia.
Menurut dr Ridwan, cuaca di Arab Saudi bagi kebanyakan jamaah haji Indonesia tergolong ekstrem.
Baca Juga: Jamaah Haji Masuk Makkah Mulai Besok, 30 April 2026, Tak Perlu Urus Koper di Makkah
Sebab, sepanas-panasnya cuaca di Indonesia, tidak akan sampai 40 derajat Celsius. Sementara, Kota Makkah saat ini suhu udaranya sudah tembus angka 40 derajat Celsius.
Dia menyarankan jamaah lansia untuk tidak sering beribadah di Masjidil Haram demi keselamatan dan kesehatan diri.
Kalaupun ingin shalat di Masjidil Haram, dia berpesan agar menghindari waktu siang hari.
Dia menyarankan jamaah berangkat dari hotel setelah subuh atau sebelum maghrib. Sehingga, saat tiba di Masjidil Haram, cuaca tidak begitu panas.
Selain itu, dr Ridwan juga meminta para ketua kloter maupun ketua rombongan tidak memaksakan program city tour, terutama pada jamaah lansia.
Baca Juga: Update Haji 2026: 12.140 Jamaah Embarkasi Surabaya Sudah Berangkat, 1 Wafat, 10 Tertunda
"Harus benar-benar selektif, objektif, lihat jamaahnya yang kira-kira kuat yang mana," jelasnya.
Dia mengingatkan, melaksanakan umrah sunnah berkali-kali itu amat melelahkan bagi lansia. Namun, dr Ridwan juga mengakui, tak sedikit jamaah haji Indonesia yang aji mumpung.
"Mumpung di tanah suci, jadi ibadah terus bolak-balik sampai ke masjidil haram, tanpa mempertimbangkan fase armuznanya (puncak haji) nanti, " ujarnya.
Padahal, fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina itu sangat menguras tenaga. Seharusnya jamaah haji mempersiapkan diri untuk fase puncak haji, karena itulah tujuan datang ke tanah suci di bulan haji.
"Jangan sampai di sana hanya (pakai) sisa tenaga. Kita harus atur strategi di situ, harus pintar strateginya," imbuh dr Ridwan.
Baca Juga: KJRI Jeddah Verifikasi Identitas 3 WNI yang Diduga Melakukan Penipuan Layanan Haji Ilegal
Sebagai langkah mitigasi, PKPPJH akan membuat beragam acara di hotel agar jamaah tidak sering-sering ke Masjidil Haram.
Mulai dari senam lansia, tausiah, atau kegiatan lain yang bermanfaat bagi jamaah lansia agar tak melulu ke Masjidil Haram.
Pihaknya juga akan menyosialisasikan aspek keselamatan jamaah haji lewat flyer yang disebar he hotel-hotel jamaah.