JawaPos.com – Dehidrasi dan gejala serangan panas atau heatstroke menjadi kasus gangguan Kesehatan paling sering terjadi saat musim haji. Termasuk pada jamaah haji Indonesia.
Hal itu disampaikan Kasi Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jamaah Haji (PKPPJH), Lansia, dan Disabilitas Daker Makkah, Mayor CKM dr. Ridwan Siswanto, Sp.N.
Dia menjelaskan, ada dua penyebab utama dehidrasi dan heatstroke pada jamaah haji Indonesia.
Pertama adalah cuaca panas ekstrem di tanah suci, dan yang kedua keengganan jamaah untuk tetap terhidrasi lewat minum air.
Baca Juga: Makkah-Madinah Makin Panas, Jamaah Haji Jangan ke Masjidil Haram-Masjid Nabawi Bila Tidak Fit
Para jamaah haji, terangnya, umumnya takut kebelet buang air kecil saat berada di Masjidil Haram sehingga wudhunya batal.
Karena kondisi tersebut mengharuskan mereka memutar mencari tempat wudhu lagi, dan berpotensi kesulitan Kembali ke tempat semula.
Akibatnya, para jamaah haji memilih untuk jarang minum air. Padahal, kondisi tersebut bisa menimbulkan dehidrasi dan heatstroke.
Gejala heatstroke paling awal, terang dr. Ridwan, adalah sakit kepala. Gejala itu akan berlanjut dengan kondisi tubuh yang mudah Lelah.
“Setelah itu jamaah akan mengalami yang namanya delirium. Delirium itu ya kayak agitasi, bicaranya mulai ngelantur,” ujarnya di Makkah, Selasa (28/4).
Baca Juga: Ini Rute yang Dilayani oleh Bus Shalawat di Makkah dan Ciri-cirinya, Jamaah Haji Jangan Salah Naik
Bila tidak segera dikenali dan ditangani, gejala akan berlanjut pada disorientasi. Itulah yang membuat jamaah yang terpisah dari rombongan, tersasar, atau lupa jalan pulang. makanya
Misalnya, saat tawaf, tiba-tiba tanpa sadar jamaah memisahkan diri dari rombongan dan keluar dari pusaran tanpa tujuan jelas.
Itulah yang kerap memunculkan kasus jamaah hilang. “Tahu-tahu dia sudah ditemukan, sudah tergeletak,” lanjutnya.
Kondisi jatuh dan lemas itu dinamai hit exhaustion. “Tapi kalau heatstroke, jamaah itu sudah mulai mengamuk sampai hilang kesadaran. Tentunya disertai dengan suhu tubuh yang lebih dari 40 derajat,” jelasnya.
Kalau sudah sampai heatstroke, dampaknya bisa fatal. Akan terjadi kegagalan multi organ atau failure.
Baca Juga: Bus Shalawat di Makkah Gratis, Jamaah Haji Dilarang Beri Tips ke Sopir
Dalam kondisi semacam itu, pertolongan akan sulit dilakukan. Karena penanganannya harus cepat dan berpacu dengan waktu. Jamaah tersebut harus langsung didinginkan, juga dilakukan rehidrasi dan oksigenasi.
Banyaknya kasus heatstroke itulah yang akhirnya menginspirasi lahirnya tim PKP2JH yang kini dipimpin dr Ridwan.
PKP2JH bertugas melakukan pertolongan pertama sebelum tim kesehatan tiba untuk penanganan lebih lanjut.
Menurut dr Ridwan, kunci untuk mencegah heatstroke adalah cukup istirahat dan sering minum. “Kemudian apabila punya sakit, harus minum obat terutama punya demam,” imbuhnya.
Baca Juga: 452 Bus Shalawat Layani Jamaah Haji di Makkah 24 Jam Gratis, Waktu Tunggu Singkat