← Beranda
Rupiah Berpotensi Menguat ke Rp 17.480 per Dolar AS, Ditopang Data Ekonomi Domestik
Djati WaluyoKamis, 10 September 2026 | 13.28 WIB
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan kembali menguat pada perdagangan Kamis (10/9), setelah sebelummya ditutup menguat signifikan 125 poin menjadi Rp 17.507 per dollar AS pada perdagangan Rabu (9/9).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen luar dalam dan luar negeri.

"Untuk perdagangan (10/9) kemungkinan besar akan menguat. Penguatanya 50 poin di Rp 17.480,” ujar Ibrahim dalam pesan suara yang diterima, Kamis (10/9).

Ibrahim mengatakan, membaiknya indeks keyakinan konsumen yang berada di level 118,5 pada Agustus 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan posisi Juli sekaligus menjadi kenaikan terbaik sejak Januari 2026.

Baca Juga: Kemendikasmen Revitalisasi 1.487 Sekolah di NTT, Kucurkan Dana Rp 1,2 Triliun

Menurut dia, membaiknya keyakinan konsumen menunjukkan optimisme terhadap perekonomian domestik. Kondisi tersebut turut memperkuat ekspektasi bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2026 yang ditargetkan mencapai 5,3 persen berpotensi tercapai.

“Artinya apa? Bahwa dengan membaiknya indeks keyakinan konsumen, optimisme pemerintah bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal ketiga di 5,3, kemungkinan besar akan tercapai,” ujarnya.

Selain itu, sentimen positif juga datang dari kinerja penjualan ritel yang meningkat pada Agustus 2026. Penjualan ritel disebut melonjak 7,7 persen menjadi 83.422 unit. Peningkatan tersebut menunjukkan aktivitas konsumsi domestik masih cukup kuat.

“Bahwa di bulan Agustus ini adalah bulan yang paling menguntungkan bagi pengusaha-pengusaha otomotif yang penjualannya lebih tinggi. Hampir 80 ribu unit di tahun 2026 akhir ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan,” ucapnya.

Dari eksternal, pergerakan rupiah masih dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur. Memanasnya konflik tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.

Ibrahim mengatakan harga minyak mentah, khususnya Brent crude oil, telah menembus di atas USD 100 per barel. Kondisi tersebut biasanya dapat memberikan tekanan terhadap rupiah karena meningkatkan risiko pelebaran defisit transaksi berjalan dan kebutuhan impor energi.

Meski demikian, tekanan tersebut belum mampu melemahkan rupiah. Menurut Ibrahim, pasar justru merespons positif sejumlah indikator ekonomi domestik yang dinilai cukup kuat.

"Ini cukup menarik karena pasar melihat data internal yang cukup bagus sehingga membuat pasar optimistis arus modal asing kembali masuk ke dalam negeri," katanya.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan