← Beranda
Rupiah Berpotensi Melemah Hari Ini, Dipengaruhi Sentimen Suku Bunga The Fed
Djati WaluyoSelasa, 25 Agustus 2026 | 15.52 WIB
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

 

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Selasa (25/8), setelah sebelummya ditutup menguat 27 poin menjadi Rp 17.721 per dollar AS pada perdagangan Senin (24/8).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri dan luar negeri.

"Untuk perdagangan (25/8) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp 17.720-Rp 17.770," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Selasa (25/8).

Ibrahim mengatakan dari sisi eksternal, aktivitas bisnis di sektor jasa AS tercatat masih solid. Indeks PMI Jasa S&P Global AS pada Agustus melampaui perkiraan dengan mencapai 56,8 atau menjadi level tertinggi sejak Desember 2024. Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan 54,6 pada bulan sebelumnya.

Namun, PMI manufaktur AS justru melambat dari 53,9 menjadi 53,2 atau menjadi level terendah dalam lima bulan.

“Kekhawatiran terhadap inflasi akibat kenaikan harga energi di tengah ketegangan yang masih berlangsung di Timur Tengah berpotensi memicu kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam beberapa bulan mendatang,” ujarnya.

Sementara dari dalam negeri, pasar merespons negatif pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia pada triwulan II 2026.

Defisit transaksi berjalan tercatat sebesar USD 12,5 miliar atau 3,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan defisit pada triwulan sebelumnya sebesar USD 3,6 miliar atau 1 persen terhadap PDB.

Pelebaran defisit transaksi berjalan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor yang diprakirakan bersifat temporer. Salah satunya kenaikan impor minyak sejalan dengan tingginya harga minyak dunia.

Meski demikian, Ibrahim menilai kinerja neraca pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan masih terjaga. Pada triwulan II 2026, NPI mencatat defisit USD 900 juta, jauh lebih rendah dibandingkan defisit USD 9,1 miliar pada triwulan I 2026.

Baca Juga: Kredit Perbankan Tumbuh 13,58 Persen, Rupiah Diproyeksi Menguat Hari Ini

Perbaikan tersebut ditopang oleh transaksi modal dan finansial yang berbalik mencatat surplus USD 12 miliar. Pada triwulan sebelumnya, transaksi modal dan finansial masih mengalami defisit sebesar USD 4,8 miliar.

“Kondisi tersebut menunjukkan arus modal masuk ke Indonesia kembali menguat dan mampu menahan tekanan terhadap neraca pembayaran di tengah pelebaran defisit transaksi berjalan,” ucapnya.

 

EDITOR: Kuswandi