JawaPos.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menyatakan kepercayaan investor gobal masih baik dan tinggi terhadap prospek ekonomi dan investasi di Indonesia.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyatakan sinyal tersebut tercermin dari tingginya minat investor internasional terhadap penerbitan obligasi global perdana (global bond) Danantara Indonesia berbasis dolar AS yang mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribed lebih dari tiga kali lipat.
"Saya sampaikan bahwa kepercayaan market, kepercayaan dunia luar terhadap Indonesia itu sangat baik. Ini tercermin dari mereka bersedia untuk membeli global bond-nya Danantara dari jangka yang lima tahun, 10 tahun dan bahkan mereka menyatakan kepada saya sangat-sangat terbuka apabila Danantara ingin menerbitkan bond sampai yang 30 tahun," ujar Rosan dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa (16/6).
Rosan menyebut, Danantara semula menargetkan penghimpunan dana sebesar USD 1 miliar melalui penerbitan obligasi global. Namun, setelah melakukan rangkaian roadshow ke sejumlah pusat keuangan dunia, permintaan investor mencapai USD 4,6 miliar.
Baca Juga: Komisi XII DPR Setujui Pagu Indikatif Kementerian ESDM Rp 27,3 Triliun untuk RAPBN 2027
"Dari rencana USD 1 miliar yang kami ingin capai, book building yang masuk kurang lebih USD 4,6 miliar. Sehingga akhirnya kami meningkatkan penerbitan menjadi 1,5 miliar dolar AS," ujarnya.
Menurut Rosan, tingginya permintaan investor menjadi indikator kuat bahwa pasar internasional masih menaruh kepercayaan besar terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Apalagi, penerbitan obligasi dilakukan di tengah ketidakpastian ekonomi global, meningkatnya tensi geopolitik, serta tekanan yang sempat mewarnai pasar keuangan domestik.
"Ini adalah hasil yang sangat baik dan ini membuktikan juga bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia ini tinggi. Dan ini real," ucapnya.
Lanjutnya, dana hasil penerbitan obligasi tersebut terbagi dalam tenor 5 tahun dan 10 tahun, di mana angkanya masing-masing senilai USD 750 juta. Menariknya, kata Rosan, tingkat kupon yang diperoleh berada di bawah ekspektasi awal pasar. Yakni, obligasi tenor lima tahun ditetapkan dengan imbal hasil 5,35 persen, sedangkan tenor 10 tahun sebesar 5,95 persen.
Rosan menjelaskan sebelumnya sejumlah pihak memperkirakan Danantara harus menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi untuk menarik investor. Namun, tingginya minat pasar justru memungkinkan perseroan memperoleh tingkat bunga yang kompetitif.
"Kalau mereka tidak percaya, pastinya mereka meminta yield premium yang sangat tinggi. Ini tidak mereka minta, bahkan kita lihat yield-nya sangat kompetitif," jelasnya.
Baca Juga: Kenapa Gap Literasi Keuangan di Indonesia Masih jadi Tantangan?
Selain itu, Rosan menambahkan, kepercayaan investor juga tercermin dari komposisi pembeli obligasi yang didominasi investor asal Amerika Serikat dan Eropa.
Untuk obligasi tenor lima tahun, sebanyak 38 persen investor berasal dari Amerika Serikat, 41 persen dari Eropa dan Timur Tengah, serta 21 persen dari Asia. Sementara pada tenor 10 tahun, investor Amerika Serikat mendominasi dengan porsi 52 persen, diikuti Eropa dan Timur Tengah sebesar 31 persen, serta Asia 17 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dibandingkan tren historis penerbitan obligasi Indonesia yang umumnya lebih banyak diminati investor Asia.
"Justru peminat terbesarnya adalah dari Amerika Serikat. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan pasar global terhadap Indonesia sangat baik," pungkasnya.