← Beranda
Kamera, Ingatan, Bias Kenyataan: 'Goodbye, Eri' dan Kebohongan Indah dalam Memori
Banu AdikaraKamis, 17 September 2026 | 02.12 WIB
Manga 'Goodbye, Eri' karya Tatsuki Fujimoto. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Seluruh manusia memiliki satu kemampuan bawaan lahir yang istimewa. Kemampuan yang merupakan sebuah berkah, sekaligus kutukan: mengingat.

Melalui ingatan, manusia bisa hanyut ke masa lalu dan menyelami hal-hal baik maupun buruk yang sudah terpatri selamanya di dalam memori. Segudang pengalaman menyenangkan, rentetan kejadian memalukan, teman-teman yang menyebalkan, ibu yang terlalu cepat berpulang, ayah yang kelewat penyayang, hingga kekasih yang menghilang.

Problemnya, cara kerja ingatan manusia berbeda dengan kamera. Alih-alih menampilkan kejadian autentik layaknya sebuah foto, otak manusia punya kecenderungan untuk merekonstruksi memori setiap kali mereka mengingat sebuah peristiwa.

Psikolog Inggris Sir Frederic Bartlett melalui bukunya, Remembering, menyebut proses mengingat sebagai sebuah imaginative reconstruction. Buah pemikiran ini menjelaskan bahwa manusia sejatinya tidak hanya menghidupkan kembali kenangan masa lalu secara utuh, melainkan menyusun kembali ingatan tersebut menggunakan pengetahuan, keyakinan, dan konteks pada saat mereka mengingatnya.

Artinya, masa lalu yang dikenang oleh manusia sebetulnya belum tentu identik dengan realitas yang benar-benar pernah terjadi. Ada bagian yang hilang. Ada babak yang diromantisasi. Ada kisah yang direduksi. Ada frame yang disunting, baik secara sengaja maupun tidak.

Fenomena ini menjadi salah satu wilayah paling menarik dalam psikologi memori. Semakin manusia berusaha mengingat sebuah peristiwa atau sosok tertentu, semakin besar kemungkinan mereka merekayasa atau menulis ulang kisah tersebut di dalam otaknya.

Manga Goodbye, Eri karya mangaka Tatsuki Fujimoto berhasil menggambarkan fenomena ini dengan begitu singkat, padat, dan meledak.

Tak hanya bercerita soal pembuatan film amatir mengenai kehilangan dan kematian, Goodbye, Eri seolah mengajak pembacanya masuk ke dalam satu perenungan yang cukup gelap:

Apakah manusia harus terus-menerus memfabrikasi memori hanya demi memiliki alasan untuk melanjutkan kehidupan?

Baca Juga: Bahasa Sunyi 'Gon' di Tengah Dunia yang Terlalu Banyak Bicara

Mendokumentasikan Kehidupan, Menyunting Kenyataan

Hanya terdiri atas 1 volume, Goodbye, Eri berkisah tentang Yuta, seorang anak laki-laki yang gemar merekam kehidupan sehari-hari menggunakan kamera ponselnya. Atas permintaan sang ibu yang menderita sakit keras dan divonis tidak akan bertahan hidup lebih lama, Yuta mendokumentasikan setiap momen kebersamaan mereka.

Konflik utama manga ini bermula ketika ibu Yuta mengembuskan napas terakhir. Alih-alih merekam detik-detik kepergian sang ibu dari jarak dekat, Yuta justru hanya mengambil gambar dari luar gedung rumah sakit lantaran tidak berani menghadapi kenyataan yang kelewat menyakitkan.

Seluruh footage video tersebut kemudian dijahit oleh Yuta menjadi sebuah film pendek untuk diputar di festival sekolah. Karena tidak memiliki rekaman saat ibunya meninggal, Yuta menambahkan twist absurd: gedung rumah sakit tempat ibunya dirawat mendadak meledak.

Bisa ditebak, Yuta dicemooh habis-habisan. Sebagian murid menganggap karya itu sangat buruk, sementara yang lain mengutuknya karena dianggap melecehkan kematian sang ibu. Tak cuma teman-temannya, ayah Yuta pun marah luar biasa melihat video tersebut.

Tekanan dan hinaan yang bertubi-tubi membuat Yuta memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Tepat satu langkah sebelum melompat dari atap rumah sakit, seorang gadis misterius bernama Eri tiba-tiba muncul. Secara mengejutkan, Eri mengaku sangat menyukai film pendek buatan Yuta.

Geram dengan hinaan murid-murid di sekolah, Eri lantas mengajak Yuta membuat satu film baru sebagai bentuk balas dendam dan pembuktian untuk ditayangkan pada tahun berikutnya. Petualangan Yuta dan Eri di dunia sinema amatir pun dimulai.

Sampai pada titik ini, narasi Goodbye, Eri mungkin terdengar banal dan sederhana. Padahal, semakin dalam cerita bergulir lewat sudut pandang kamera Yuta, semakin kabur pula batas antara apa yang benar-benar terjadi dan apa yang sengaja dipilih untuk diperlihatkan.

Goodbye, Eri pada akhirnya memberikan sebuah pukulan pahit di mana kamera yang digunakan Yuta bukan sekadar alat untuk mendokumentasikan kehidupan, melainkan sebuah instrumen untuk menyunting kenyataan.

Hal ini diakui sendiri oleh Yuta menjelang komik ini berakhir:

"Itu adalah diriku di dunia film. Di dunia nyata nggak berjalan semulus itu."

Yuta memilih gambar mana yang wajib masuk ke dalam filmnya, adegan apa saja yang harus dibuang, momen mana yang perlu diperpanjang, serta emosi mana yang ingin diperlihatkan.

Disadari atau tidak, proses tersebut sama persis dengan cara manusia memperlakukan memorinya sendiri. Faktanya, tidak ada seorang pun yang mampu mengingat seluruh lembar hidupnya secara fotografis dengan intensitas yang presisi.

Momen hari ulang tahun jelas akan lebih diingat ketimbang kejadian di hari-hari biasa. Satu kalimat menyakitkan dari seseorang bisa selamanya terekam secara verbatim ketimbang ratusan percakapan lain dengan orang yang sama. Satu gelak tawa yang menghangatkan hati dari sosok tersayang bisa menghapus banyak kenangan buruk yang pernah terjadi.

Dari sini, tidak berlebihan rasanya untuk menyimpulkan bahwa memori pada akhirnya menjadi sebuah ruang editing—dengan manusia sebagai editor-nya.

Baca Juga: Mencari Mesias di Dunia yang Tak Butuh Juru Selamat: '20th Century Boys' dan Fabrikasi Krisis oleh Kultus Modern

Distorsi dan Misinformasi

Psikolog dari Harvard University, Daniel L. Schacter, mengelompokkan berbagai kesalahan memori ke dalam tujuh kategori yang ia sebut seven sins of memory.

Tujuh dosa memori tersebut adalah transience (kelupaan seiring waktu), absent-mindedness (alpa/kurang perhatian), blocking (hambatan dalam pemanggilan memori), misattribution (salah atribusi atau sumber memori), suggestibility (kerentanan terhadap sugesti), bias (distorsi sudut pandang), dan persistence (ingatan yang terus membayangi).

Tiga dosa pertama, menurut Schacter, terutama berkaitan dengan kegagalan manusia dalam menyimpan atau mengakses informasi. Sementara empat sisanya berkaitan dengan distorsi ketika manusia sebenarnya masih memiliki ingatan tersebut, tetapi mereka mengingatnya secara keliru atau mengalami bias dalam proses mengingat.

Schacter menekankan bahwa ingatan manusia memang rentan terhadap kesalahan dan ilusi, tetapi ketidaksempurnaan tersebut tidak selalu merupakan cacat fatal. Sebagian justru merupakan konsekuensi dari mekanisme memori yang membantu manusia berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kata lain, distorsi memori tidak selalu menjadi penyakit. Dalam kondisi tertentu, ia dapat menjadi cara manusia membuat pengalaman yang menyakitkan menjadi sesuatu yang sanggup mereka tanggung.

Goodbye, Eri secara konkret memperlihatkan proses tersebut. Apa yang dilakukan Yuta dengan kameranya sebenarnya mirip dengan apa yang dilakukan manusia terhadap masa lalunya.

Kita memilih, memotong, menyusun ulang, dan menentukan sudut pandang sendiri sebelum kemudian "menonton" ulang kenangan yang sudah disunting tersebut. Tujuannya? Membuat kenangan yang terasa lebih indah daripada kejadian sebenarnya sebagai bahan bakar untuk tetap hidup.

Yuta sendiri pada akhirnya mengakui bahwa hubungannya dengan sang ibu tidak selalu seindah yang tergambar dalam film pendeknya.

Menjelang akhir kisah, terungkap realitas pahit bahwa ibunya tidak sebaik yang dicitrakan di dalam video. Sang ibu ternyata pribadi yang toksik, menyebalkan, kasar, bahkan terang-terangan menyebut Yuta sebagai anak tak berguna saat terbaring dalam kondisi sakaratul maut di ranjang rumah sakit.

Toh, Yuta tetap memilih membangun representasi yang lebih indah tentang sang ibu. Ia memilih untuk mengingat apa yang ingin ia ingat.

Psikolog dan pakar memori asal Amerika Serikat, Elizabeth Loftus, mengemukakan sebuah konsep bernama misinformation effect yang menjelaskan bahwa ingatan bisa dipengaruhi secara masif oleh informasi yang muncul setelah sebuah peristiwa terjadi.

Konsep ini menuturkan bahwa informasi baru, bahkan yang keliru sekalipun, dapat menyusup ke dalam memori seseorang, hingga kemudian diakui sebagai bagian dari pengalaman yang sebenarnya. Yang lebih menarik, penelitian Loftus menunjukkan bahwa seseorang dapat merasa sangat yakin terhadap sebuah ingatan yang sebenarnya telah mengalami distorsi berat.

Artinya, tingkat keyakinan manusia terhadap sebuah memori tidak selamanya berbanding lurus dengan akurasi faktual kenangan itu sendiri. Kerap kali, manusia bisa sangat meyakini sesuatu yang sebetulnya tidak seutuhnya benar.

Dalam kasus Yuta, distorsi memori itu bahkan tidak harus datang dari orang lain. Ia dapat lahir dari proses internal ketika seseorang memilih bagaimana sebuah pengalaman ingin dikenang.

Film yang direkam Yuta memang memberikan ilusi objektivitas kepada para penonton filmnya. Namun, Tatsuki Fujimoto diam-diam menyodorkan kenyataan lain bahwa di samping fungsinya sebagai alat dokumentasi, kamera juga berperan sebagai alat interpretasi yang memungkinkan penggunanya memilih bagaimana sebuah kenyataan ingin diperlihatkan.

Kamera memang menangkap fakta telanjang, tetapi pada akhirnya, manusialah yang menentukan bagian mana yang ingin mereka tonton ulang.

Baca Juga: Kala Roti Selai dan Dada Perempuan jadi Kemewahan: Tragedi Kaum Precariat dalam 'Chainsaw Man'

Kebohongan Indah

Kisah Goodbye, Eri dari halaman pertama hingga terakhir punya satu poros yang sangat relate dengan kehidupan manusia yang berduka: kebohongan indah dalam memori.

Pertanyaannya, apakah kebohongan ini selamanya bersifat destruktif? Atau ia justru hadir sebagai coping mechanism yang paling manusiawi bagi seseorang untuk bisa mencintai, memaafkan, dan terus menjalani hidup?

Tatsuki Fujimoto memberikan jawabannya dengan sangat ambigu di klimaks kisah Goodbye, Eri yang terjadi menjelang halaman-halaman terakhir.

Setelah menjalani proses yang panjang, Yuta dan Eri akhirnya berhasil merampungkan film baru yang mereka rancang. Dalam film itu, Yuta mengisahkan perjalanannya selama setahun bersama Eri, sebelum akhirnya Eri meninggal di penghujung cerita.

Kematian Eri rupanya tidak hanya terjadi di dalam film. Ia juga mati di dunia nyata.

Bertahun-tahun setelah kepergian Eri, Yuta yang kini telah dewasa kembali dikisahkan kehilangan ayah, istri, dan anaknya dalam sebuah kecelakaan maut.

Kalut bukan main karena terus-menerus kehilangan orang yang ia cintai, Yuta akhirnya kembali memutuskan untuk bunuh diri di ruang pemutaran film tua tempat ia dan Eri dulu menghabiskan waktu bersama.

Ketika sedang menyiapkan tali tambang, Yuta dikejutkan oleh sosok Eri yang tidak menua satu hari pun.

Belum hilang rasa bingung Yuta, Eri kemudian mengungkap hal baru yang lebih tidak masuk akal lagi: ia mengaku sebagai vampir abadi yang terus mengalami siklus kematian dan kelahiran kembali secara berkala.

Setiap kali Eri mati, Eri yang baru akan bangun tanpa ingatan apa pun tentang kehidupan masa lalunya.

Baca Juga: Fatamorgana Kekuatan Absolut: Menakar Ulang Maskulinitas dan Jalan Pedang Miyamoto Musashi Lewat 'Vagabond'

Berkat video ribuan jam yang direkam oleh Yuta, Eri yang baru pun bisa memahami kehidupan Eri yang lama. Karenanya, Eri meminta Yuta untuk menyunting film tentang dirinya agar ketika ia terbangun kembali di masa depan tanpa ingatan, ia bisa menonton film itu dan mengenang Yuta sebagai sosok yang paling ia cintai, bukan sebagai kenangan pahit tentang kesepian panjang seorang makhluk immortal.

Goodbye, Eri ditutup dengan sangat dramatis kala Yuta memutuskan untuk melangkah pergi dengan tenang dari hadapan Eri.

Di panel berikutnya, gedung tua tempat kenangannya bersama Eri bersemayam mendadak meledak dahsyat, persis seperti twist fiksi absurd yang ia masukkan dalam film pendek tentang ibunya.

Lebih dari sekadar lelucon visual atau gaya-gayaan sinematik belaka, ledakan tersebut dapat dibaca sebagai simbol hiperbola dari keputusan manusia untuk berdamai dengan trauma kehilangan.

Yuta tidak kembali duduk di sofa bersama Eri untuk menonton dan merekam film. Ia menolak terjebak dalam pusaran romansa yang selama ini menyiksa jiwanya dan memilih untuk move on menghadapi pahitnya hidup.

Pilihan Yuta di penghujung kisah memang menjadi sebuah penutup yang melegakan, walau secara visual terlihat irasional dan konyol. Namun, di hadapan kerasnya kehidupan, manusia kerap kali mengambil arah berlawanan demi menjaga akal sehatnya. Alih-alih pergi, banyak yang memilih untuk kembali 'duduk di sofa bersama Eri' demi terus menikmati kenangan yang pernah ada.

Keputusan tersebut memang tidak serta-merta bisa disalahkan. Realitas mentah bahwa orang-orang yang dicintai telah pergi, atau bahkan ternyata memiliki sisi kelam yang menyakitkan, terkadang menjadi kenyataan yang terlalu brutal untuk ditanggung kesadaran manusia.

Dalam kehidupan nyata, kehilangan juga dapat menjadi beban psikologis yang begitu berat hingga seseorang merasa tidak lagi mampu menanggungnya.

Di sinilah 'kebohongan indah' mengambil peran yang sangat vital.

Manusia tidak sekadar merekam masa lalu secara pasif berdasarkan pandangan mata belaka. Lebih dari itu, manusia menyuntingnya secara aktif. Dengan menyelipkan narasi fiksi. Dengan menambahkan momen yang mungkin tak pernah terjadi. Dengan mendramatisasi tawa yang pernah ada, atau memasukkan 'ledakan' absurd ke dalam bagian partikel ingatan yang sebetulnya tidak istimewa.

Baca Juga: Agitasi Sebelum Invasi: 'Pluto' dan Alegori Politik di Balik Propaganda Perang

Kebohongan-kebohongan kecil ini bukan bentuk penyangkalan naif, melainkan sebuah strategi psikologis untuk meredam luka tak tertahankan menjadi sebuah kisah yang sanggup direngkuh hingga akhir hayat.

Melalui Goodbye, Eri, Tatsuki Fujimoto tidak sedang mengecam betapa buruknya ingatan manusia yang penuh distorsi. Karya ini adalah sebuah perayaan dari ketidaksempurnaan memori sebagai bentuk karunia. Bahwa kemampuan otak untuk mereka-reka ingatan menunjukkan bagaimana manusia selalu punya cara untuk mencoba menyembuhkan dirinya sendiri.

Kenangan yang disunting bukanlah untuk menipu orang lain, tapi untuk menyelamatkan diri sendiri.

Memori yang difabrikasi bukanlah untuk disampaikan menjadi dongeng omong kosong, melainkan agar manusia memiliki alasan yang cukup kuat untuk bangun esok hari, memaafkan tragedi masa lalu, dan terus melangkah tanpa harus hancur oleh beban ingatan yang terlalu jujur.

Goodbye, Eri adalah manga yang jauh lebih kompleks dari sekadar cerita tentang seseorang yang berkutat dalam proses menerima kehilangan.

Karya pendek ini ingin berbicara bahwa di hadapan lara yang meremukkan jiwa, sebuah kebohongan indah yang dirancang dengan bumbu kasih sayang bisa menjadi satu-satunya alasan mengapa manusia sanggup untuk terus bertahan hidup.

Kamera mungkin hanya mampu merekam apa yang berada di depan lensa.

Manusia tidak demikian.

Karena setiap manusia punya otoritas untuk memilih apa yang ingin dilihat kembali, apa yang tidak ingin diingat lagi, dan apa yang ingin dipercaya sebagai bagian dari diri, walaupun itu berarti harus membohongi diri sendiri.

EDITOR: Banu Adikara