JawaPos.com - Perang tidak serta merta berawal dari baku tembak. Ia bukan hal yang lahir tanpa tedeng aling-aling begitu saja di dalam ruang kosong.
Jauh sebelum peluru pertama melesat dari moncong senjata, perang sudah dimulai lebih dulu melalui narasi yang dirancang secara sistematis untuk memantik prahara.
Lewat pidato. Lewat berita. Lewat doktrin mulut ke mulut yang memicu ketakutan dan kegelisahan massal hingga terdengar seperti sebuah kebenaran.
Penggiringan opini publik ini akhirnya membuat masyarakat dari pihak-pihak yang berkonflik memaklumi ketika bentrokan pecah dengan begitu hebat. Semua tindak kekerasan adalah hal yang perlu dilakukan demi kejayaan.
Sebelum tank dan pasukan militer bergerak melintasi perbatasan daerah lawan, masyarakat harus lebih dulu diyakinkan bahwa ada ancaman yang harus dihancurkan.
Sebelum rudal diluncurkan dan bom dijatuhkan, publik harus lebih dulu percaya bahwa tindakan tersebut merupakan sebuah keharusan atas nama keselamatan.
Sebelum darah pertama tumpah di medan perang, harus ada musuh yang diciptakan lebih dulu untuk dibenci dan dimusnahkan.
Pola seperti ini muncul berulang kali dalam sejarah peperangan modern. Mulai dari propaganda Nazi terhadap Yahudi, siaran radio yang mengobarkan Genosida Rwanda di Afrika Timur, hingga narasi senjata biologis pemusnah massal yang digunakan untuk memvalidasi serangan Amerika Serikat ke Irak tahun 2003.
Tiga contoh tragedi bersejarah itu diawali proses yang setali tiga uang: ciptakan musuh lebih dulu, maka perang akan jadi hal yang masuk akal.
Mangaka Naoki Urasawa mengangkat pola tersebut ke dalam sebuah kisah fiksi ilmiah bernuansa detektif dan misteri di dunia futuristik penuh robot berjudul Pluto.
Pluto, yang juga diadaptasi ke dalam serial animasi sebanyak 8 episode, merupakan sebuah mahakarya hasil remake dari salah satu episode manga tersohor Astro Boy karya Osamu Tezuka yang berjudul 'The Greatest Robot on Earth'.
Berbeda total dengan versi aslinya, Urasawa dengan begitu jenius mengemas Pluto dari kisah kepahlawanan anak-anak menjadi thriller politik dan tragedi kemanusiaan yang berdarah-darah.
Sebuah karya baru dengan tone lebih serius, gelap dan penuh alegori politik yang begitu kental.
Lewat Pluto, Naoki Urasawa menghadirkan banyak kritik tajam terhadap propaganda perang, agitasi, dan gambaran manusia yang mudah mempercayai kebohongan berulang.
Pluto bukan kisah tentang robot yang belajar menjadi manusia, melainkan kisah tentang manusia yang berkali-kali gagal menjadi manusia karena kebencian yang terus menerus diberi makan.
Dewa Kematian Romawi
Kisah Pluto dimulai ketika sejumlah robot dan tokoh penting yang berkutat di ranah hukum robot tiba-tiba dibunuh satu per satu secara misterius.
Setiap kasus pembunuhan meninggalkan tanda-tanda yang sama: kepala korbannya ditancap objek panjang dan tajam menyerupai tanduk.
Robot-robot yang dihabisi secara brutal ini bukan robot biasa. Mereka adalah para pahlawan yang pernah berperang dalam konflik besar di dunia Pluto yang dikenal sebagai Perang Asia Tengah ke-39.
Para robot yang dikenal sebagai Tujuh Robot Terkuat di Dunia itu adalah Mont Blanc, Brando, Hercules, Epsilon, North No. 2, Atom, dan Gesicht. Dua nama terakhir adalah protagonis utama serial ini.
Atom, alias Astro Boy dalam versi aslinya, adalah robot berwujud anak kecil ciptaan Dr. Tenma dengan teknologi AI termutakhir. Tak seperti kebanyakan robot yang emotionless, Atom mampu memahami dan mensimulasikan penderitaan dan kemarahan, bahkan bisa menangis layaknya manusia.
Sementara, Gesicht adalah robot detektif Europol yang diberi tugas untuk menyelidiki kasus mengerikan ini.
Penyelidikan Gesicht mengerucut ke satu nama yang jadi petunjuk penting: Pluto.
Figur misterius yang dinamakan dari Dewa Kematian Romawi. Robot terkuat yang pernah ada di dunia.
Seiring interaksi Gesicht dan Atom berjalan untuk memecahkan misteri tentang Pluto, terungkap bahwa serial ini tidak sesederhana mencari robot pembunuh, namun mengungkap fakta kelam tentang mengapa dan bagaimana Pluto bisa ada.
Baca Juga: Mazmur Pembantaian dalam Liturgi Darah: 'Hellsing' dan Fetish Manusia dalam Menikmati Kekerasan
Wujud Trauma Perang, Manifestasi Dendam Kesumat
Semakin jauh cerita berkembang, terjawab bahwa Pluto bukanlah monster yang diciptakan semata-mata untuk menaklukkan dunia.
Pluto lahir dari sosok robot lembut nan baik hati bernama Sahad.
Diciptakan oleh Menteri Ilmu Pengetahuan Kerajaan Persia bernama Professor Abullah, Sahad bukanlah robot tempur. Ia adalah robot botani dan agrikultur yang diprogram untuk memenuhi Kerajaan Persia dengan hamparan bunga. Ia didesain untuk tujuan mulia.
Kehidupan Sahad hancur total ketika Perang Asia Tengah ke-39 berkobar. Kerajaan Persia dibumihanguskan oleh agresi militer sebuah negara bernama United States of Thracia.
Perang ini dipicu oleh tuduhan sepihak dari United States of Thracia bahwa Kerajaan Persia menyimpan sebuah teknologi yang kelewat berbahaya untuk dunia bebentuk robot pemusnah massal.
Kekuatan militer United States of Thracia yang begitu luar biasa, dibantu oleh lima dari Tujuh Robot Terkuat di Dunia, membuat pasukan Kerajaan Persia tidak berdaya. Negeri yang dipimpin Raja Darius XIV itu pun hancur menjadi abu dalam waktu singkat.
Tragisnya, hingga akhir invasi, tuduhan United States of Thracia tentang keberadaan robot pemusnah massal itu tidak pernah terbukti. Kerajaan Persia dipersekusi hingga rata dengan tanah untuk sesuatu yang tidak mereka lakukan.
Invasi brutal itu juga menewaskan Profesor Abullah beserta anak dan istrinya. Namun, sebelum mati, Profesor Abullah berhasil memindahkan semua amarah dan kebenciannya ke dalam sebuah chip AI.
Kecerdasan buatan ini kemudian bangun sebagai replika dari Profesor Abullah, yang di kemudian hari memicu serangkaian kekacauan dalam kisah Pluto.
Mengemban misi balas dendam dari mendiang sang profesor, replika Abullah lalu memanipulasi Sahad yang nelangsa. Ia mengubah Sahad menjadi sebuah instrumen balas dendam yang ditenagai energi kebencian murni.
Kesadaran Sahad yang cinta damai dipindahkan secara paksa dari tubuh aslinya ke dalam sebuah tubuh baru. Tubuh yang bukan hanya memiliki kekuatan tempur nyaris tiada tara, tapi juga mampu mendatangkan bencana alam lewat kemampuan manipulasi cuaca yang menakutkan.
Sahad mati. Pluto lahir.
Bukan sebagai simbol kejahatan, tapi manifestasi trauma perang, dendam kesumat, dan luka mendalam.
Cermin Retak Invasi Irak
Sulit mengabaikan fakta bahwa konflik antara Kerajaan Persia dan United States of Thracia dalam Pluto bagaikan cermin retak yang merefleksikan perseteruan antara Irak dan Amerika Serikat beserta sekutunya pada Invasi Irak 2003.
Sama seperti United States of Thracia yang meyakini bahwa Kerajaan Persia memiliki robot pemusnah massal, Amerika Serikat yang saat itu dikepalai Presiden George W. Bush berhasil meyakinkan dunia bahwa Irak di bawah rezim Saddam Hussein secara diam-diam mendesain senjata biologis maha dahsyat yang bisa membuat dunia morat-marit.
Nyatanya, setelah ratusan ribu nyawa melayang, senjata yang disebut-sebut itu tidak pernah ditemukan.
Bagi para pengamat politik dunia, peristiwa Invasi Irak 2003 adalah salah satu contoh paling gamblang di mana narasi yang dibangun sedemikian rupa oleh negara adidaya dapat digunakan untuk membenarkan perang.
Naoki Urasawa berhasil menyampaikan kegelisahan ini dengan sangat baik lewat Pluto.
Manipulasi informasi yang dilakukan United States of Thracia juga beririsan dengan konsep simulacra yang dikemukakan filsuf Prancis, Jean Baudrillard.
Pada contoh kasus yang berbeda namun mirip, Baudrillard pernah berargumen bahwa Perang Teluk 1991 antara Irak melawan Amerika Serikat dan 42 negara sekutunya tidak pernah benar-benar terjadi di benak publik sebagai sebuah realitas.
Baudrillard justru menuturkan bahwa perang tersebut hanya tontonan media yang dikonstruksi secara artifisial. Pendapat kontroversial ini ia tuangkan dalam esainya yang berjudul 'La Guerre du Golfe n'a Pas Eu Lieu', atau 'Perang Teluk Tidak Pernah Terjadi'.
Dalam Pluto, bahaya robot pemusnah massal yang digembar-gemborkan adalah bentuk dari simulacra, yakni kebohongan yang diproduksi secara konsisten hingga publik mempercayainya sebagai kebenaran tak terbantahkan.
Pola pikir ini kemudian memicu persetujuan publik atas pembantaian ribuan robot dan manusia tak berdosa di Kerajaan Persia.
Alegori Politik
Pluto adalah karya yang penuh dengan alegori politik. Naoki Urasawa menggambarkan hal ini dengan begitu berani lewat agresi United States of Thracia ke Kerajaan Persia yang dibungkus rapi oleh kosmetik berbentuk jargon-jargon emosional.
Akademisi Palestina-Amerika, Edward W. Said lewat teorinya mengenai Orientalisme berargumen bahwa negara dunia pertama seperti Amerika Serikat seringkali menciptakan citra negara-negara Timur, dalam konteks ini Irak, sebagai wilayah yang tertinggal, liar, dan butuh diselamatkan. Konsep Orientalisme ini sangat jelas tergambar dalam Pluto.
Dalam kisah ini, saat United States of Thracia mengirim pasukannya ke Kerajaan Persia, yang merupakan representasi negara Timur, para elitnya tidak menyebut hal ini sebagai invasi, melainkan operasi pemeliharaan perdamaian. Padahal, tindakan yang terjadi berikutnya adalah pemusnahan total terhadap Kerajaan Persia.
Alegori politik berikutnya adalah keberadaan Tim Delegasi Bora, refleksi sempurna dari Tim Inspeksi Senjata PBB yang pada tahun 2002 bertugas memverifikasi apakah Irak masih mengembangkan atau menyimpan senjata pemusnah massal yang diseru-serukan oleh Amerika Serikat.
Pada akhirnya, Irak sama sekali tidak terbukti memiliki senjata biologis maupun jenis senjata pemusnah massal dalam bentuk apapun. Lagi-lagi, hal ini digambarkan dengan begitu mirip dalam Pluto.
Tim Delegasi Bora dikirim sebagai bentuk legitimasi hukum sebelum invasi ke Kerajaan Persia dimulai. Di sini, Pluto membedah bagaimana institusi dan kelompok ilmiah sering dipolitisasi agar tindakan agresi militer terkesan sah. Para cendekiawan yang dikirim pada akhirnya tidak lebih dari pion politik yang tidak akan didengarkan oleh para elit.
Meskipun para ilmuwan Tim Delegasi Bora tidak menemukan bukti adanya robot penghancur massal di Kerajaan Persia, United States of Thracia tetap bergerak maju tanpa mengindahkan laporan tersebut.
Bagi United States of Thracia, kedatangan Tim Delegasi Bora ke Kerajaan Persia saja sudah cukup memberi stempel kepada publik bahwa Kerajaan Persia memang punya senjata pemusnah, sehingga rencana invasi yang telah direncanakan sejak awal bisa terlaksana lewat persetujuan masyarakat yang resah.
Lahirnya Pluto dari kesedihan Sahad dan manipulasi penuh kebencian replika Abullah juga merupakan alegori dari lahirnya terorisme. Amukan Pluto yang dialamatkan kepada Tujuh Robot Terkuat di Dunia adalah perwujudan dari kemunculan kelompok ekstremis di Timur Tengah pasca Invasi Irak 2003.
Dalam konteks ini, banyak pengamat terorisme global menekankan bahwa kelompok radikal biasanya tumbuh dari dunia yang penuh ketidakadilan, trauma dan dendam akut akibat intervensi militer asing.
Untuk diketahui, kekosongan kekuasaan di Irak usai jatuhnya rezim Saddam Hussein pasca-invasi yang diikuti pembubaran militer Irak oleh Amerika Serikat menciptakan kekacauan politik dan ketegangan hebat di sana. Dari sini lah kemudian muncul gerakan-gerakan radikal baru. Al-Qaeda dan ISIS adalah segelintir contoh dari sekian banyak gerakan ekstrem yang terbentuk.
Lewat transformasi Sahad menjadi Pluto, Naoki Urasawa seakan ingin menyampaikan kritik geopolitik menohok bahwa sebetulnya, propaganda dan agresi militer negara adidaya lah yang menciptakan teroris yang selama ini mereka takutkan dan dengungkan.
Kerajaan Persia tidak pernah memiliki senjata pemusnah massal yang dituduhkan United States of Thracia. Namun, agresi dan invasi brutal merekalah yang kemudian melahirkan Pluto. Dari kebohongan yang berujung kepunahan, senjata pemusnah massal itu akhirnya benar-benar diciptakan.
Bentuk alegori paling mengerikan dalam Pluto mungkin adalah karakter Dr. Roosevelt, komputer super pintar berbentuk boneka beruang lucu yang bertindak sebagai penasihat utama Presiden United States of Thracia.
Naoki Urasawa menempatkan Dr. Roosevelt sebagai personifikasi dari bagaimana kebijakan luar negeri negara adidaya modern yang dingin dan kalkulatif dijalankan tanpa memedulikan moralitas serta kemanusiaan.
Dr. Roosevelt menjadi begitu mengerikan karena ia adalah gambaran nyata proses pengambilan keputusan para elit di dunia, di mana nyawa manusia dan kehancuran kota tidak lebih dari sekadar collateral damage.
Baca Juga: 'Detroit Metal City' dan Matinya Simbol Pemberontakan di Tangan Industri Hiburan
Emosi Sebagai Senjata Politik
Tokoh komunikasi politik modern, Edward Bernays mengatakan bahwa opini publik dapat dibentuk secara sistematis melalui pengelolaan informasi dan emosi kolektif.
Dalam banyak kasus, masyarakat tidak dipaksa untuk percaya. Mereka hanya diarahkan hingga pola pikir mereka sampai pada kesimpulan tertentu dengan sendirinya.
Seperti itulah agitasi bekerja. Tidak sekadar menyebar informasi, tetapi mengolah emosi menjadi senjata politik.
Berawal dari ketakutan, lalu melahirkan kemarahan. Kemarahan melahirkan kebencian. Kebencian melahirkan kehancuran.
Profesor linguistik dan pemikir politik Noam Chomsky dalam bukunya yang berjudul Manufacturing Consent menjelaskan bagaimana media dan institusi politik bisa membentuk afirmasi publik terhadap kebijakan tertentu.
Hal ini tidak melulu terjadi melalui paksaan, tapi melalui pengelolaan informasi dan framing narasi untuk mendesain siapa yang dianggap korban dan siapa yang dianggap ancaman.
Dari sudut pandang tersebut, bisa dikataka bahwa Pluto sebenarnya bukan hanya berbicara tentang perang, tapi juga tentang proses penciptaan musuh.
Para elit politik di United States of Thracia tidak mendikte masyarakat untuk membenci Kerajaan Persia. Mereka hanya menggoreng kecemasan publik sedemikian rupa hingga masyarakat sendirilah yang akhirnya menuntut agar invasi segera dilakukan.
Robot Makin Paham Emosi, Manusia Makin Hilang Empati
Fakta bahwa karakter-karakter yang paling memahami penderitaan akibat perang justru adalah para robot merupakan ironi terbesar dalam Pluto.
Dampak Perang Asia Tengah ke-39 yang begitu buruk pada akhirnya membuat AI dari robot-robot ini belajar berempati.
Atom mampu memahami kesedihan. Gesicht hidup dalam derita kehilangan. Brando membangun rumah tangga bersama manusia. Hercules sangat muak dengan esensi perang. Mont Blanc dan North No. 2 mengerti konsep rasa bersalah. Epsilon sejak awal memutuskan menjadi pasifis dan menolak ikut berkonflik demi menjaga anak-anak di panti asuhannya.
Sebaliknya, justru para manusia yang digambarkan sebagai kelompok problematik dalam Pluto. Mereka membunuh tanpa ampun dan memanipulasi atas nama supremasi dan nasionalisme.
Filsuf Prancis, Emmanuel Levinas meyakini bahwa moralitas lahir ketika manusia mampu melihat wajah orang lain dan mengakui kemanusiaannya.
Masalahnya, moralitas dan kemanusiaan adalah hal yang tidak berlaku di dalam perang dan segala propagandanya. Dua faktor ini justru dihapus demi tujuan perang tercapai dengan paripurna.
Akhirnya, jumlah kematian prajurit dan skala kehancuran sebuah negara tidak lebih dari statistik. Yang mengerikan, kalangan awam dari negara yang melakukan penyerangan bisa memaklumi hal tersebut.
Di sinilah sentilan keras Naoki Urasawa yang sangat relevan dengan dunia modern dilontarkan lewat Pluto. Serial ini menunjukkan bahwa ancaman terbesar bukanlah robot yang bisa memahami emosi, tapi manusia yang kehilangan kemampuan untuk berempati.
Baca Juga: 'Black Lagoon' dan Potret Budaya Korporat yang Tidak Lebih Mulia dari Penjahat
Tidak Akan Ada Hal Baik yang Lahir dari Kebencian
Pluto bukan sekadar kisah tentang kecerdasan buatan yang mengamuk lepas kendali dalam wujud robot raksasa berkekuatan monster atau kisah misteri yang melibatkan robot-robot canggih.
Naoki Urasawa hanya menggunakan robot sebagai medium untuk mengkritik sesuatu yang jauh lebih esensial, yakni perang, propaganda dan kemampuan manusia memanipulasi manusia lain untuk meyakini bahwa genosida bisa menjadi hal yang masuk akal.
Melalui Pluto, Naoki Urasawa seolah mengingatkan bahwa perang sejatinya sudah dimulai ketika manusia berhenti melihat manusia lain sebagai sesama dengan hak hidup yang setara.
Pluto memberikan pelajaran bahwa selama doktrin berbasis kebencian terus dirawat, selama itu pula lingkaran setan kekerasan akan terus berputar. Karena, jauh sebelum invasi dan agresi berlangsung, agitasi pasti selalu bekerja lebih dulu.
Ketika perang besar dan kehancuran sudah terjadi, maka ribuan kuburan yang digali setelahnya tidak lebih dari konsekuensi cerita penuh fabrikasi yang sengaja dibiarkan menjadi kisah heroik palsu yang diglorifikasi.
Pesan kehidupan paling krusial dari Pluto muncul ketika memori emosional Gesicht ditanamkan ke dalam diri Atom. Sebuah kalimat yang bisa merangkum seluruh chapter dalam Pluto. Sebuah amanat pahit, namun memberikan secercah harapan di tengah hidup penuh pergumulan:
"Tidak akan ada hal baik yang lahir dari kebencian,".