← Beranda
Romantisme dalam Belenggu 2000 Tahun: Stockholm Syndrome dan Ilusi Cinta Ymir Fritz dalam 'Attack on Titan'
Banu AdikaraMinggu, 14 Juni 2026 | 02.05 WIB
Ilustrasi perjanjian Ymir Fritz dengan iblis dalam 'Attack on Titan'. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Apa hal yang lebih mengerikan daripada diperbudak? Mencintai orang yang memperbudakmu.

Apa hal yang lebih mengerikan daripada hidup dalam penjara? Menganggap penjara itu sebagai rumahmu.

Apa hal yang lebih mengerikan daripada kehilangan kebebasan? Tidak lagi menyadari bahwa kebebasan itu sepenuhnya berada di tanganmu.

...

Setidaknya satu dari tiga pertanyaan dengan tiga jawaban tidak masuk akal di atas pasti terpantik ketika penggemar manga dan anime Attack on Titan menyaksikan kisah tragis antara dua tokoh kunci paling mendasar dari cerita ini: Ymir Fritz dan King Fritz.

Selama bertahun-tahun, kebanyakan penggemar dari karya agung mangaka Hajime Isayama tersebut lebih sering memperdebatkan moralitas Rumbling yang dilakukan Eren Yeager serta siapa yang paling benar dalam konflik Marley versus Eldia. 

Padahal, di balik kisah yang fokus pada Titan, perang kolosal, genosida global dan obsesi terhadap kebebasan absolut itu, tragedi Ymir dan King Fritz adalah sebuah cerita yang jauh lebih gelap dan menggelisahkan.

Hubungan antara dua orang ini tidak dibangun dari cinta dan kasih sayang, melainkan asmara satu arah yang lahir dari penindasan, perbudakan dan penyiksaan yang tidak manusiawi.

Ketika pihak yang tertindas tanpa sengaja mendapatkan kekuatan supernatural yang mampu menghancurkan pihak yang menindasnya, hal tersebut malah tidak terealisasi.

Yang terjadi justru adalah sebuah anomali yang membangkitkan emosi: sang korban malah jatuh hati kepada sang jagal. 

Baca Juga: Merindukan Samsara di Puncak Nirwana: 'Sekiro', Post-Game Depression dan Kesedihan setelah Kesempurnaan

Dewa yang Memilih jadi Budak

Sebelum dikenal sebagai leluhur para Titan, Ymir hanyalah budak yang hidup dalam penderitaan.

Semua haknya sebagai manusia merdeka dirampas dengan kejam oleh Kerajaan Eldia yang dipimpin King Fritz.

Hidup Ymir makin buruk setelah ia dituduh melakukan kesalahan yang tidak ia lakukan. Hukumannya sungguh brutal: Lidahnya dipotong.

Tidak berhenti di situ, Ymir juga diburu dan dipanah seperti hewan layaknya ajang olahraga para elit.

Di tengah neraka dunia yang seolah tidak berujung itu, takdir mempertemukan Ymir dengan The Source of All Living Matter, entitas asing berbentuk mirip kelabang yang kemudian memberikannya kekuatan untuk menjadi monster.

Sekejap, Ymir menjelma menjadi Titan pertama di muka bumi. Dari seorang budak tak berdaya, menjadi makhluk paling kuat di dunia. Seorang gadis desa bertransformasi menjadi dewa.

Dengan kekuatan tiada tara ini, Ymir sebetulnya mampu membalas semua hal buruk yang dilakukan Kerajaan Eldia padanya.

Satu pijakan kakinya saja sanggup membuat King Fritz dan bala tentara kerajaan yang menyiksanya rata dengan tanah. Penderitaannya bisa berakhir dengan instan di hari itu.

Tapi, hal itu tidak terjadi.

Ymir memilih kembali ke Kerajaan Eldia.

Yang lebih buruk, ia dengan sepenuh hati memilih melayani King Fritz dengan kekuatannya itu. Ia ikut berperang, ia ikut menaklukkan, ia ikut mengekspansi wilayah kerajaan.

Tidak cuma berperang dan membangun kerajaan, Ymir bahkan rela menjadi objek pemuas nafsu King Fritz. Ia ditiduri, hamil dan melahirkan anak-anaknya.

Puncaknya, Ymir tewas setelah melindungi King Fritz dari sebuah percobaan pembunuhan.

Kematian Ymir pun membuat King Fritz frustrasi.

Bukan bentuk kesedihan karena perempuan yang mengasihinya mati, tapi karena perempuan yang menjadi sumber utama kedigdayaan kerajaannya kini tidak ada lagi. 

Kisah ini ditutup dengan teramat mengerikan di mana King Fritz memaksa ketiga putrinya, yakni Maria, Rose dan Sina untuk memakan mayat Ymir demi mewarisi kekuatan Titan milik ibunya itu.

Kedigdayaan King Fritz dan Eldia pun tetap hidup lewat ketiga putrinya. 

Sementara Ymir? Cuma jadi bagian dari sejarah yang mati tanpa pernah dicintai.

Baca Juga: Kala Manusia Menolak Langit: Filosofi 'Membunuh Tuhan' dalam JRPG

 

Stockholm Syndrome dan Trauma Bond

Banyak penggemar Attack on Titan menyebut hubungan Ymir dan King Fritz sebagai sebuah fenomena psikologis bernama Stockholm Syndrome.

Istilah Stockholm Syndrome sendiri muncul dari peristiwa perampokan bank Sveriges Kreditbank di Lapangan Norrmalmstorg, Stockholm, Swedia pada 23 Agustus 1973. 

Kala itu, dua orang perampok bernama Jan-Erik Olsson dan Clark Olofsson menyandera empat karyawan bank di dalam brankas selama enam hari.

Anehnya, sejumlah laporan tertulis menyebutkan bahwa selama masa penyekapan, para sandera justru bersimpati kepada Olsson dan Olofsson karena merasa diperlakukan dengan 'baik'. Yang lebih absurd, para korban malah ketakutan dengan upaya penyelamatan dari pihak kepolisian.

Setelah dibebaskan, para korban menolak bersaksi melawan kedua perampok ini di pengadilan. Tak cuma enggan menyalahkan Olsson dan Olofsson, mereka bahkan menggalang dana demi memberi bantuan hukum untuk kedua bandit itu.

Kriminolog dan psikiater bernama Nils Bejerot, yang saat itu membantu polisi menganalisis kondisi kejiwaan para sandera, menamai kondisi mental para korban ini dengan sebutan Stockholm Syndrome, sebuah coping mechanism bawah sadar di mana korban memilih berpihak kepada pelaku demi bertahan hidup dalam situasi yang membahayakan nyawanya.

Meski masih menjadi perdebatan dalam dunia psikologi dan tidak diakui sebagai diagnosis medis resmi, istilah Stockholm Syndrome sering digunakan untuk menjelaskan keadaan ketika pihak yang disakiti memiliki keterikatan emosional terhadap pihak yang menyakiti.

Hubungan Ymir dan King Fritz sangat menggambarkan fenomena Stockholm Syndrome.

Ymir punya semua alasan dan kekuatan untuk menghancurkan King Fritz yang membuatnya menderita. Toh, hal itu tidak ia lakukan.

Ia malah mengabdi, bahkan bereproduksi dengan orang yang sedari awal tidak pernah menganggapnya manusia.

Frank Ochberg, seorang psikiater dari Universitas Harvard pernah merumuskan bahwa fenomena Stockholm Syndrome bisa terjadi melalui tiga fase psikologis yang spesifik.

Ketiga fase ini tercermin dengan gamblang dalam tragedi hidup Ymir.

Fase pertama adalah rasa takut mati. Menurut Ochberg, pemicu utama Stockholm Syndrome muncul akibat ancaman kematian yang begitu mendadak dan mengerikan, di mana pelaku penindasan sukses membuat korbannya merasa tidak berdaya total. 

Pemotongan lidah Ymir dan perburuan yang dilakukan terhadapnya jelas menanamkan teror eksistensial yang begitu membekas di alam bawah sadar. Rasa takut mati yang ekstrem inilah yang kemudian menjadi fondasi seluruh tindakan Ymir berikutnya.

Fase kedua adalah kebaikan hati yang terdistorsi. Ochberg menjelaskan, fase ini mengemuka ketika pelaku penindasan yang sudah menguasai korban kemudian berlaku baik dengan cara yang beragam. Mulai dari memberi hadiah kecil, memberi pujian, dan lainnya.

Menurut Ochberg, dalam kondisi stres pasca-trauma akut, otak korban secara keliru menangkap tindakan ini sebagai bentuk keselamatan ketimbang manipulasi. 

Dalam Attack on Titan, fase ini tergambar nyata ketika Ymir kembali ke Kerajaan Eldia dengan kekuatan Titan yang tak tertandingi. Di situ, King Fritz yang awalnya menganggap ia sebagai budak yang pantas mati malah memberinya pujian, mengizinkannya tinggal di istana, mengangkatnya menjadi selir, bahkan menjadikannya ibu dari anak-anaknya.

Dari kacamata luar, apa yang dilakukan King Fritz mungkin tidak lebih dari strategi militer belaka. Namun bagi Ymir, pengangkatan derajat ini adalah bukti sahih bahwa King Fritz peduli dan sayang padanya.

Dua fase di atas kemudian menimbulkan fase ketiga yang paling disturbing, yakni rasa syukur keliru yang akhirnya menimbulkan efek regresi kekanak-kanakan. 

Ochberg memaparkan, ketika sang penindas berhasil menguasai pikiran dan emosi korbannya, maka psikologis korban akan menyusut kembali ke fase bayi, di mana mereka akhirnya melihat penindasnya sebagai figur pelindung yang memegang kendali penuh atas hidup dan mati mereka.

Ymir mengalami regresi ini secara permanen. Rasa syukurnya yang keliru terhadap King Fritz melahirkan keterikatan emosional yang beralaskan konsep trauma bond

Psikolog Amerika Serikat, Patrick Carnes menjelaskan trauma bond sebagai ikatan emosional yang terbentuk dalam hubungan yang penuh ketimpangan kekuasaan, ketakutan, manipulasi dan ketergantungan.

Dalam hubungan toxic ini, korban tidak bertahan karena merasa bahagia, tapi karena identitas mereka perlahan dibangun oleh validasi dari pelaku. Mereka butuh pengakuan dari orang yang menyakiti mereka, bahkan berharap suatu hari akan memperoleh cinta dari orang yang sama.

Semakin lama hubungan tidak sehat ini berlangsung, semakin kabur pula perbedaan antara kasih sayang dan ketergantungan.

Dalam kasus Ymir, ketaatannya pada King Fritz bukan lagi karena rantai fisik, tetapi karena kebutuhan psikologis seorang anak kecil yang mendambakan validasi dari sosok otoriter yang mengendalikan hidupnya. 

Manifestasi puncak dari teori Ochberg tentang Stockholm Syndrome terjadi ketika Ymir secara spontan menjadi tameng hidup King Fritz untuk menghalau sebilah tombak yang melesat ke arah sang raja. 

Sang korban tak cuma rela melindungi penindasnya. Ia bahkan rela mengorbankan nyawanya sendiri. 

Baca Juga: Sirkus Tragis Tanpa Katarsis: Voyeurisme Menjijikkan Manusia Terhadap Penderitaan dalam 'Midori'

Hidup Dalam Derita, Mati Dalam Ilusi Cinta

Filsuf dan psikolog sosial Jerman, Erich Fromm dalam bukunya yang berjudul The Art of Loving pernah menulis bagaimana hubungan cinta yang sehat seharusnya terjadi.

Menurut Fromm, cinta yang sehat seyogyanya bisa mendorong pertumbuhan, kebebasan, dan pengakuan terhadap kemanusiaan orang lain. 

Artinya, hubungan yang dibangun di atas dominasi, kontrol dan kepemilikan bukanlah cinta, karena cinta sejati tidak pernah dilandasi oleh haus akan kekuasaan.

Dari kacamata tersebut, hubungan Ymir dan King Fritz jelas sama sekali tidak bisa disebut sebagai jalinan cinta. 

King Fritz tidak pernah memperlakukan Ymir sebagai perempuan yang harusnya ia ratukan. Buat sang raja, Ymir tidak lebih dari senjata perang dan properti seksual untuk melahirkan keturunan.

Salah satu scene dalam Attack on Titan bahkan memperlihatkan King Fritz asyik bermesraan dengan para selirnya di hadapan Ymir yang diam mematung dan membisu tanpa ekspresi.

Perlakuan seburuk ini pun tidak membuat Ymir berpaling dari King Fritz. Ia tetap setia, tetap menghamba, sembari berharap dalam hati bahwa penderitaan hebatnya satu saat akan punya makna.

Namun, layaknya banyak hubungan tidak sehat dalam dunia nyata, harapan itu tidak pernah benar-benar datang.

Di ujung nafas setelah dadanya tertembus tombak demi melindungi King Fritz, Ymir bahkan tidak mendapatkan ucapan terima kasih sama sekali dari sang raja.

Sebagai gantinya, King Fritz justru melontarkan kalimat yang sungguh membuat darah penikmat manga dan anime ini bergolak.

"Bangun. Aku tahu tikaman tombak tidak akan bisa membunuhmu. Bangun dan bekerjalah. Kamu lahir hanya untuk melayaniku dan kerajaanku. Berdirilah!"

Ymir akhirnya mati begitu saja. Tanpa iringan air mata. Tanpa lantunan doa.

Ia hidup menanggung derita, hanya untuk mati dalam ilusi cinta.

Baca Juga: Mazmur Pembantaian dalam Liturgi Darah: 'Hellsing' dan Fetish Manusia dalam Menikmati Kekerasan

Ditindas Kehidupan, Dieksploitasi Kematian

Kematian Ymir rupanya tidak membuat kesengsaraannya selesai. Alih-alih beristirahat dengan tenang di alam lain, Ymir justru terlempar ke dalam pusaran eksploitasi di level yang lebih ekstrem .

Ymir tidak pergi ke surga atau neraka setelah kematiannya. Ia terbangun di Paths, sebuah dimensi spiritual berbentuk padang pasir tak bertepi di mana ia terhubung dengan seluruh kaum Eldia yang mewarisi darahnya di masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Para kaum Eldia yang punya kemampuan bertransformasi menjadi Titan karena mewarisi darahnya ini disebut sebagai Subjek Ymir.

Di sinilah babak baru kisah menyedihkan Ymir berlanjut.

Meninggal dengan keyakinan bahwa ia masih seorang budak yang terikat dengan King Fritz dan Kerajaan Eldia, Ymir akhirnya memutuskan tetap berada di dalam Paths selama 2000 tahun.

Selama 2 millenium, Ymir menjalani waktu keabadiannya dengan membentuk Titan dari pasir kosmik setiap kali seorang yang memiliki darah Kerajaan Eldia memberikan perintah kepadanya.

Hal ini menjadi kian menyedihkan karena bahkan dalam kematiannya sekalipun, Ymir tetap diperlakukan sebagai budak. Walau sudah mati, ia terus melayani keturunan King Fritz.

Filsuf Prancis, Michel Foucault pernah berpendapat bahwa bentuk kekuasaan paling efektif bukanlah kekuasaan yang memaksa manusia dengan kekerasan, tapi ketika kekuasaan tersebut masuk ke dalam kesadaran manusia.

Kekuasaan yang membuat seseorang menerima penindasan sebagai sesuatu yang lumrah.

Ymir memang tidak diperbudak secara langsung oleh King Fritz setelah mati. Namun, doktrin dan trauma yang telah ditanamkan King Fritz ke dalam dirinya masih terus merantainya.

Baca Juga: 'Perfect Blue' dan Horor Fantasi Publik: Ramalan Mengerikan Tentang Kehancuran Identitas di Era Internet

Tercerahkan oleh Eren, Dibebaskan oleh Mikasa

Derita panjang Ymir akhirnya berakhir setelah ia bertemu dengan dua tokoh sentral Attack on Titan: Eren Yeager dan Mikasa Ackerman.

Baik Eren maupun Mikasa punya peranan besar dalam membebaskan Ymir dari rantai emosional dengan King Fritz dan Kerajaan Eldia yang membuat arwahnya tidak bisa beristirahat dengan tenang.

Eren adalah manusia pertama dalam dua millenium yang bisa memahami dan memvalidasi penderitaan Ymir ketika keduanya bertemu di Paths.

Dalam momen sebelum Eren berubah menjadi Founding Titan dan mengaktifkan Rumbling untuk menghancurkan dunia, sang protagonis berhasil menyadarkan Ymir lewat dialog emosional bahwa ia adalah manusia yang berhak untuk memilih.

"Kamu bukan budak! Kamu bukan dewa! Kamu bisa memilih!"

Sembari memeluk Ymir dari belakang dengan satu tangan yang sudah putus, apa yang dikatakan oleh Eren berikutnya adalah sebuah kalimat legendaris yang mengubah plot besar dalam Attack on Titan.

"Kamu sudah menunggu selama dua ribu tahun... hanya untuk seseorang, bukan?"

Kalimat inilah yang akhirnya merobohkan tembok psikologis yang selama 2000 tahun mengurung Ymir. Matanya yang selama ini selalu digambarkan kosong, akhirnya menunjukkan luapan amarah terpendam dan jeritan hati yang tak pernah tersampaikan.

Ymir pun menyerahkan kekuatannya secara penuh kepada Eren untuk mengaktifkan Rumbling. Ia menitipkan keangkaramurkaannya terhadap dunia kepada sang Founding Titan.

Dari sini, Hajime Isayama kemudian memberikan sebuah twist yang indah.

Awalnya, kalimat terakhir Eren seolah ingin menyampaikan bahwa ia adalah sosok yang ditunggu Ymir selama ini untuk membebaskannya dari perbudakan. Walaupun secara plot ini sangat masuk akal, namun ternyata bukan itu tujuan akhirnya.

Eren ternyata hanya batu loncatan yang mengantar Ymir untuk akhirnya menemukan orang yang ia tunggu.

Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Mikasa.

Mengapa harus Mikasa yang membebaskan Ymir dari penderitaannya?

Jawabannya ada pada kesamaan keduanya dalam cinta.

Baik Ymir maupun Mikasa mencintai seseorang sepenuh hati dengan segala kebobrokan mereka. Perbedaannya ada pada jalan yang dipilih.

Ymir tidak pernah mampu melepaskan King Fritz, bahkan setelah kematiannya selama 2000 tahun.

Mikasa juga sangat mencintai Eren, namun ia mampu mengambil tindakan tegas ketika Eren sudah berada di luar kendali: membunuhnya. 

Dengan memenggal kepala Eren, Mikasa memperlihatkan kepada Ymir bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan kebebasan diri sendiri.

Mikasa juga menunjukkan kepada Ymir apa yang harusnya ia lakukan 2000 tahun lalu, yakni keluar dari hubungan beracunnya dan memilih jalan hidup sendiri tanpa intervensi.

Di sinilah Ymir akhirnya memahami bentuk cinta yang tidak pernah ia mengerti sebelumnya. Bahwa cinta tidak harus berbentuk pengabdian tanpa batas. Cinta tidak harus hidup dalam pasung penderitaan.

Sembari menimang kepala Eren yang ia penggal, Mikasa kemudian mengantar Ymir ke tidur kekalnya lewat kata-kata yang begitu menyentuh. 

"Cintamu terasa seperti mimpi buruk yang panjang. Semua nyawa yang telah terenggut tidak akan bisa kamu kembalikan lagi. Namun, terlepas dari itu, berkat kehidupan yang kau lahirkan dan teruskan inilah aku akhirnya bisa ada di dunia ini. Beristirahatlah dengan tenang,"

Baca Juga: Robot Raksasa dan Cermin Gangguan Jiwa: Mengeksplorasi Mental Illness dalam 'Neon Genesis Evangelion'

Belenggu Romantisme

Attack on Titan adalah sebuah karya yang menitikberatkan pada kisah tentang mendapatkan kebebasan, dan memang demikian adanya.

Namun, melalui kisah Ymir dan King Fritz, Hajime Isayama seperti ingin menyentil penikmat karyanya dengan rentetan renungan yang lebih menyakitkan daripada sekadar perang dan politik.

Renungan tentang bagaimana manusia memilih untuk bertahan dalam hubungan yang menghancurkannya secara fisik dan mental.

Tentang bagaimana kebutuhan manusia untuk dicintai bisa berubah menjadi adiksi yang lambat laun membunuh logika dan kewarasan.

Tentang bagaimana manusia memahami kasih sayang yang seutuhnya.

Tragedi psikologis brutal yang dialami Ymir bukan hanya persoalan memaknai cinta sejati. Ini adalah sebuah monumen kelam di mana penindasan sistemik sanggup merusak jiwa manusia begitu dalam hingga si tertindas rela mencium tangan dan menjilat kaki sang penindas yang memperlakukannya seperti binatang. 

Kisah hidup Ymir mungkin bisa membuka mata kita bahwa untuk benar-benar merdeka, manusia tidak hanya harus berani melawan tirani, tetapi juga harus berani mengenyahkan berhala psikologis bernama belenggu romantisme yang selama ini dipelihara di dalam kepala sendiri.

EDITOR: Banu Adikara