← Beranda
Berlayar Menembus Gaza, Menjaga Asa Terus Menyala dari Buta,Tuli, dan Bisunya Dunia
KuswandiMinggu, 7 Juni 2026 | 15.00 WIB
Ilustrasi: Armad kapal Global Sumud Flotilla. (dok Euronews)

 

SENJA mulai datang saat Bambang Noroyono alias Abeng, 42, sedang bercengkerama bersama peserta Global Sumud Flotilla di Kapal Bolarize yang ditumpanginya, Minggu (17/5) petang.

Sembari menghisap asap rokok, diseruputnya secangkir teh panas, guna menghangatkan tubuhnya dari dinginnya angin laut yang menusuk tulang. 

Saat itu, bersama 422 partisipan lain, Abeng berupaya berlayar menembus Gaza, menjaga agar asa terus menyala dari buta, tuli, dan bisunya dunia atas penderitaan warga Palestina.

Tak ada sekat budaya di kapal mungil berbobot sekitar 5 gross tone (GT) itu. Obrolan demi obrolan pun mengalir begitu saja, seperti kawan lama yang sudah saling mengenal.

Padahal para relawan dalam kapal itu berbeda suku, bangsa, dan agama. Ini karena sebelum melakukan pelayaran, para aktivis dari berbagai negara ini sudah diberikan pelatihan, termasuk pemahaman soal komunikasi antarbudaya.

Total dalam Kapal Bolarize yang ditumpangi Abeng, ada sembilan orang. Mereka terdiri dari 4 orang WNA Turki, 1 WNA Jerman, 1 WNA Perancis, 2 WNA Malaysia, dan 1 warga negara Indonesia.

“Gimana telur dadar buatan saya?,” tanya Abeng dengan bangga, kepada Enzo, salah satu partisipan asal Perancis, suatu kali sebelum diculik pasukan zionis Israel.

Tak banyak berpikir, peserta Global Sumud Flotilla dari ‘Negeri Mode Dunia’ itu langsung memuji kepiawaian pria asal Indonesia ini dalam memasak.

“Enak..enak..,” pujinya singkat. 

Maklum Enzo belum pernah makna telur dadar sebelumnya. Seumur hidupnya, dia hanya sering mengonsumsi telur rebus.

Abeng terkekeh. Musababnya dia sadar diri tak pandai memasak. Apa yang dilakukannya hanya meniru aktivitas keseharian istrinya saat memasak.

“Padahal cuma telur ayam dipecahin taruh mangkuk, tambahin garam secukupnya, kemudian digoreng dengan minyak,” ucap Abeng saat berbincang dengan JawaPos.com, Senin (1/6) malam, di sebuah tempat di bilangan Tebet, Jakarta Selatan.

Malam itu, di hari keempat sejak berlayar dari Pelabuhan Marmaris, Turki, ombak masih ganas dan angin begitu kencang. Namun karena sudah beberapa hari berlayar, perut sudah tak mual dan muntah lagi seperti pada hari pertama melakukan pelayaran. Tak lama kemudian, tiba-tiba sang kapten kapal memberikan instruksi.

“Terapkan protokol intersep,” kata Abeng bercerita saat malam hari sebelum besok siang dirinya dan teman-temanya diculik.

Tanpa pikir panjang, atas instruksi sang kapten, sesuai standar operating procedure (SOP) yang diajarkan steering committee Global Sumud Flotilla saat pelatihan, Abeng dan relawan lain langsung menerapakan protokol intersep seperti memakai pakaian lengkap, sepatu, jaket pelampung, serta berbagai alat kelengkapan lain sesuai profesi asal masing-masing aktivis. Tak lupa Abeng juga memakai paspor dengan cara dikalungkan di lehernya. 

Malam mulai larut. Hanya cahaya bintang yang menerangi gulita di atas laut Mediterania. Untuk mengatasi dinginnya udara malam, Abeng dan rekannya di kapal yang terbuat dari baja, aluminium dan fiberglass tersebut menebalkan jaketnya.

Malam itu, para awak kapal Bolarize diminta bergantian memejamkan mata. Sebab, mereka harus bergantian bersiaga selama empat jam, melakukan patroli sesuai protokol intersep.

“Patrolinya seperti melihat langit di atas kapal, apakah ada pesawat nirawak (drone) apa nggak, ada yang berada di haluan, buritan, dan ruang kemudi,” tutur pria yang berprofesi sebagai jurnalis ini.

Setelah bergantian patroli hingga fajar datang, situasi ternyata aman. Namun sang kapten asal Turki tersebut tak mencabut status protokol. 

Diculik di Siang Hari

Matahari masih sepenggalah pada Senin (18/5) pagi. Saat itu, kapal yang ditumpangi Abeng dan sejumlah partisipan lain sudah masuk ke perairan internasional sebelah selatan Siprus, atau sekitar 250 mil laut dari Pantai Gaza yang diblokade Israel.

Seperti biasa, Abeng dan para relawan lain kembali beraktivitas seperti sarapan hingga meminum secangkir teh, sembari bercengkerama. 

Tak lama berselang, saat matahari hampir di ubun-ubun kepala, sang kapten kapal kembali memberikan instruksi kepada para penumpangnya, agar kembali menerapkan protokol intersep. Hal ini karena terlihat sebuah kapal perang mendekat. Sekonyong-konyong, Abeng bersama penumpang kapal lain langsung mematuhi instruksi itu.

“Kita tetap berlayar. Normal saja berlayar. Kita sudah tahu bahwa ada kapal perang, tapi belum tahu kapal perang siapa,” ungkap Abeng.

Tak lama berselang, tak sampai satu jam, tiba-tiba muncul dua speed boat atau perahu cepat dari atas kapal perang yang mendekati Kapal Bolarize. Kapten kapal pun langsung memastikan bahwa itu merupakan pasukan Angkatan Laut Israel. 

“Ketika perahu karet itu sudah muncul, mereka ngejar kapal kita. Yaudah saya kirim video SOS. Kemudian radius berapa meter buang handphone melalui Hanafi peserta dari Malaysia,” tutur pria berambut gondrong ini.

Sebelum telefon genggamnya dibuang, Abeng bercerita jika sebenernya dirinya sempat merekam kedatangan pasukan Israel, namun ketika dikirim ke kantornya, video tersebut sudah tak bisa terkirim. 

“Signal sudah dibajak,” keluhnya.  

Tak berapa lama, dor…dor…dor…! Pasukan Israel menembaki kapal Boralize yang ditumpangi Abeng dan para peserta lain.

“Kalau gak salah penembakan 3 kali. Kita disuruh angkat tangan sama tantara Israel. Nanya kapten siapa?, kita diam saja. Kita gak boleh kasih tahu kaptennya siapa, karena mungkin akan dieksekusi juga di situ,” urainya.

Tak puas dengan jawaban Abeng dan para penumpang kapal Bolarize lain, pasukan zionis itu  langsung menggeledah seluruh isi ruangan kapal.

“Satu persatu rambut dijambak,” ungkap Abeng. 

Setelah semua isi ruangan kapal digeledah, para pasukan zionis membuang semua atribut Palestina. Termasuk atribut Palestina yang dipakai Abeng.

“Kafieh (sorban) saya dibuang itu. Itu sejarahnya pertama kali saya pakai kafieh. Sebelum-sebelumnya saya nggak pernah berani pakai kafieh. Jadi sengaja saya pakai sebelum digeledah. Benda setan katanya. Habis itu mereka nembak ke atas, kamera kapal,” ucapnya.

Bambang Noroyono alias Abeng usai bebas dari penculikan pasukan zionis Israel. (Kuswandi/JawaPos.com).
Bambang Noroyono alias Abeng usai bebas dari penculikan pasukan zionis Israel. (Kuswandi/JawaPos.com).

Kelaparan, Kedinginan, dan Disiksa

Kedua pergelangan tangannya masih membekas hitam akibat diikat kencang dengan kabel ties. Punggung bagian atas badannya juga sesekali masih terasa sakit akibat ditendang dan diinjak berkali-kali oleh pasukan Angkatan Laut zionis Israel. Hal ini mulai terjadi saat Abeng dan rekannya dibawa ke penjara di kapal perang hingga penjara Kedzoit, selepas Kapal Bolarize yang ditumpanginya diintersep. 

Namun, kendati masih kesakitan, Abeng seolah tak memedulikannya. Penyiksaaan demi penyiksaan yang dialaminya, menurutnya tak ada seujung kukunya dibandingkan penderitaan yang dialami rakyat Palestina.

“Untung nggak dislokasi. Ini masih terasa sakit kalau diangkat,” ucap Abeng sembari memperlihatkan bekas luka di kedua tangan, lalu mempraktikan bagaimana tangannya saat dikunci pasukan zionis.

Abeng bercerita, di penjara yang berada di kapal perang itu, semua barang milik tawanan, hingga yang melekat di badan peserta Global Sumud Flotilla digeledah kembali. Selain itu, dia dan ratusan tawanan lain, diminta melucuti pakainnya selama tiga hari dua malam.

“Di penjara kapal perang, cuma pakai celana satu sama kaos sehelai. Kacamata diambil, topi diambil, jaket diambil, paspor dan obat-obatan juga diambil, ” tuturnya.

Tak puas menyita barang, para pasukan zionis juga terus menyiksa para aktivis seperti menginjak badan, menyeret, memerintahkan untuk jalan jongkok, menendang, hingga memaki-maki.

“Saya dipukul kepalanya gara-gara kontak mata dengan pasukan zionis saat diinterogasi,” ungkapnya saat bercerita kejadian di penjara kapal perang Israel.

Selain itu, tak jauh dari Abeng berjongkok, dia melihat seorang aktivis perempuan ditembak tanpa ampun.

“Ada yang ditembak kakinya di depan saya pakai peluru karet. Nggak tahu ada masalah apa. Dia perempuan dari Spanyol,” ungkap Abeng.

Atas insiden penembakan terhadap perempuan dari Spanyol itu, sejumlah aktivis lain pun langsung memprotesnya hingga hampir rusuh. 

“Pas mau rusuh ditembak lagi peti kemasnya. Kita lari-lari aja di peti kemas yang jadi penjara,” urainya.

Selama tiga hari dua malam, Abeng dan ratusan tawanan lain mengalami kedinginan yang luar biasa. Musababnya, peti kemas yang disulap menjadi kamar tahanan, bagian lantainya dibiarkan terus basah dengan cara disemprotkan air laut menggunakan selang. Selain itu, lampu sel juga dibiarkan terus menyala, sehingga para aktivis tak bisa tidur, karena kondisi sel basah, bau pesing yang menyengat, dan pengap.

Sebagai bentuk protes atas kebiadaban pasukan zionis, ratusan relawan kemanusiaan ini pun melakukan mogok makan. Hal ini juga dilakukan Abeng. Kendati demikian, pria berdarah batak ini tetap memilih untuk meminum air kemasan botol sedang yang diberikan dengan cara dilempar dari atas peti kemas ke kepala para tahanan, meski hanya beberapa teguk saja Abeng meminum saban harinya.

“Kita saling kasih semangat, dengan cara menerikan yel-yel free Palestine, meski dilarang tentara Israel,” tandas Abeng.

Tangan Diancam Dipotong

Free..Free…Palestine!. Suara lantang itu diteriakan salah satu perempuan bule yang menjadi peserta Global Sumud Flotilla di dermaga Pelabuhan Ashdod, Israel, usai turun dari penjara di kapal perang. 

Belum rampung meneriakan yel-yel dukungan untuk kemerdekaan Palestina, rambut perempuan berbaju hijau celana hitam itu langsung dijambak dan disuruh menunduk oleh pasukan Israel. 

Tak berapa lama, dengan membawa bendera Israel, dalam video yang viral di jagad maya, Menteri Keamanan Nasional Israel Ben-Gvir mengejek para aktivis kemanusiaan yang disuruh duduk bersujud mencium tanah, dengan tangan terikat ke belakang punggung selama beberapa jam.

“Selamat datang di Israel. Kami adalah tuan kalian,” ucap Ben-Gvir dalam Bahasa Ibrani, yang diunggah di media sosialnya.

Sama seperti tawanan lain, setelah turun dari penjara di kapal perang, bukannya mereda, keberingasan pasukan zionis justru semakin menjadi-jadi.

“Di situlah saya diseret paksa. Tangan dikunci pakai kabel ties. Kepala berdiri dikit diinjak. Kalau nggak bisa jalan diseret, kalau nggak diangkat dalam posisi tangan dikunci. Itu sakit sekali,” ungkap Abeng. 

Dua jam berlalu. Selanjutnya Abeng dan ratusan tawanan lain satu persatu dibawa ke imigrasi setempat.

“Di situ di bawa ke meja satu dan meja lain. Kita dibawa ke suatu ruangan diminta telanjang,” tuturnya.

Saat diminta telanjang hampir satu jam, Abeng kesakitan karena gelang yang terbuat dari besi dan perak yang dipakainya, diambil paksa, namun tak bisa keluar.

“Saya sempat teriak. Tapi semakin teriak, semakin dikencengin tarikannya sm pasukan zionis,” ucapnya. 

Gelang tak juga bisa dibuka, pasukan zionis marah besar. Menurut Abeng, tantara Israel tersebut bahkan sempat mengancam akan memotong tangannya kalau sampai gelang yang dikenakan tak bisa dibuka.

“ I cut your hand, i cut your hand,” ucap Abeng menirukan ancaman pasukan zionis. 

Melihat ancaman di depan mata, Abeng berusaha tenang meski dirinya sebenarnya takut bukan kepalang. Abeng menyarankan pasukan zionis yang menarik paksa gelang yang dipakainya untuk mengambil pemotong besi. Tak paham apa yang dibicarakan Abeng, tentara itu justru mengambil tang kecil pemotong kawat.

“Nggak bisa juga, marah dia (tentara Israel-Red). Akhirnya datang satu lagi bawa tang besar pemotong pagar besi, baru bisa dipotong gelang saya. Habis itu baru tangan saya diborgol besi,” ungkap Abeng.

Suasana menegangkan itu pun kelar. Abeng kemudian diminta mengenakan pakaian kembali. Setelah itu jurnalis senior ini kembali menjalani interogasi dari meja satu ke meja yang lain selama hampir empat jam lamanya.  

Kabar baik datang. Di sela-sela menjalani proses interogasi, ternyata tim pendamping hukum dari ‘Adalah’ (tim bantuan hukum Palestina) datang. Di situ Abeng diberikan intruksi agar tidak menandatangani apapun dokumen yang disodorkan petugas.

“Habis itu, sudah mau keluar imigrasi, pintu terakhir, baru kaki diborgol,” kata Abeng.

Penderitaan kembali terjadi. Usai kelar menjalani interogasi lanjutan, Abeng dan ratusan tawanan lain satu persatu dimasukan ke mobil baja. Di mobil baja yang dijejali 26 orang, Abeng diminta menunggu selama hampir empat jam.

“Nggak ada makan, air, kencing di situ. Nggak tahu kita dibawa ke mana,” kata Abeng.

Usai menunggu cukup lama, mobil baja yang ditumpangi Abeng dan puluhan tawanan lain, akhirnya melakukan konvoi bersama ratusan mobil baja yang lain, menempuh perjalanan selama hampir enam jam lamanya melewati padang gurun.

“Kita tahunya dibawa ke gurun. Ternyata kita dibawa ke penjara. Intinya itu penjara teroris. Karena waktu pas kita turun di penjara ada petugas yang bilang ‘selamat datang di penjara teroris’,” ungkap Abeng sembari mengingat nama penjaranya. 

Selanjutnya setelah mengingatnya, Abeng bercerita jika penjara yang dimasukinya merupakan penjara Kedziot. Sebuah penjara yang terletak di Gurun Negev, sekitar 72 kilometer barat daya Beersheba.

“Di situ kita di siksa lagi tuh. Pas mau masuk penjara disuruh jalan jongkok dirantai. Kita selalu pegang badan orang di depan sambil menuduk. Kita nggak tahu orang yang di depan atau belakang. Kalau putus barisan, kita ditendang. Kalau tersungkur ditarik lagi masuk barisan,” urainya.

9 WNI yang menjadi peserta Global Sumud Flotilla Gaza, menjalani pemeriksaan di Turkiye sebelum dipulangkan ke Tanah Air. (IG/GPC).
9 WNI yang menjadi peserta Global Sumud Flotilla Gaza, menjalani pemeriksaan di Turkiye sebelum dipulangkan ke Tanah Air. (IG/GPC).

Ditelanjangi dan dilecehkan

Di penjara yang masuk dalam kawasan pusat militer terluas di Israel itu, Abeng merasa khawatir. Musababnya, para tantara Israel tak bisa menyebut namanya dengan benar. 

“Jadi mereka panggil saya Bang-bang. Ada yang panggil Bong-bong from Indonesia,” ucapnya.

Selain itu, kekhawatiran lainya menurut Abeng, dengan perawakannya kurus, tinggi, dan berambut panjang, dirinya disebut ‘Lady Boy’ di kalangan tantara zionis yang berjaga di penjara Kedziot. 

“Saya disebut Lady Boy. Nah di situ pas ada pemeriksaan telanjang, saya khawatir, karena diperiksa telanjang lagi satu-satu di suatu ruangan,” kata Abeng. 

Kekhawatiran serupa juga ketika malam telah gulita. Abeng pun tak berani tidur di bagian pinggir, karena takut diapa-apakan oleh pasukan zionis.

Adapun pemeriksaan telanjang pertama menurut Abeng, seluruh tubuhnya dicek organnya. Setelah itu dalam pemeriksaan kedua, saat telanjang diminta menghadap tembok, kaki diminta mengangkang.

“Kalau yang saya alami, alat kelamin saya ditarik sama pasukan Israel, dipegang, diremas. Itu saya agak khawatir (takut disodomi-Red),” tuturnya dengan mimik wajah serius. 

Usai dilecehkan, Abeng pun diminta memakai baju tahanan yang diberikan penjaga penjara. 

“Sudah pakai baju tahanan, dimasukan ke sel lagi, lalu dibanting ke tembok,” ucapnya memelas. 

Saat dimasukkan ke dalam sel berukuran 2x2 meter, Abeng tak bisa bernapas lega. Sebab dengan ukuran ruangan sel sekecil itu, tentara Israel sengaja memasukkan belasan orang ke dalamnya.

Sehingga mau tidak mau, seluruh seluruh penghuni sel harus merasakan bau yang sangat tajam. Sebab di dalam sel isolasi itu, meski ada toilet, namun sengaja tak diberikan air saat para tawanan akan membuang hajat.

“Di dalam sel, saat menunggu, posisi kita nggak boleh berdiri, tapi tetap menunduk. Yang sujud kalau ketahuan ngintip ditendang, dibanting,” ungkap Abeng. 

Besok paginya, usai beberapa kali berpindah sel dan dipanggil satu-satu, dengan tangan diborgol lagi, Abeng bersama ratusan tawanan lain dibawa lagi ke mobil baja yang sebelumnya membawa ke penjara Kedziot. 

“Kita gak tahu di bawa kemana. Nah dalam perjalanan itu, tentaranya itu bilang ‘Welcome to Gaza,’ ungkapnya.

Baca Juga: Jurnalis Republika Bambang Noroyono Diculik Tentara Zionis Israel

Mendengar nama Gaza, Abeng pun terharu sekaligus senang, meski tak mengetahui di Gaza bagian mana, dirinya dan ratusan tawanan yang diculik melintas.

Belakangan, Abeng baru tahu jika dirinya dibawa ke Bandara Internasional Ramon (Ilan dan Asaf Ramon) yang terletak di Eliat, Israel Selatan. Setelah itu, borgol dilepas dan di bawa ke pesawat Turkiye Airlines.

“Nah saya  baru ketemu Thoudy (rekan sekantor yang ikut diculik-Red) pas di pesawat. Berarti sudah 5-6 hari nggak ketemu. Di situ semua terharu,” tukas Abeng.

EDITOR: Kuswandi