← Beranda
Roman Nedielka dalam Perjalanan Keliling Dunia dengan Sepeda Motor Listrik
Agfi SagittianSelasa, 2 Januari 2024 | 19.59 WIB
ISI DAYA: Roman dan motor listriknya di charging station di kawasan Tibet, Tiongkok, pada pertengahan Agustus 2023.

Selain alasan lingkungan, misinya adalah masyarakat tidak ragu menggunakan kendaraan listrik. Selalu menemukan keramahan dari warga lokal.

AGFI SAGITTIAN, Jakarta

---

DALAM bayangan Roman Nedielka, jalanan penuh dengan kendaraan ramah lingkungan tanpa polusi udara dan suara adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Kesan itu begitu membekas setelah dia menyambangi Shenzhen, Tiongkok; Oslo, Norwegia; dan sejumlah kota lainnya. Suatu saat, Roman ingin Indonesia, setidaknya Jakarta, juga bisa seperti itu.

Impiannya itu melahirkan sebuah ide yang terbilang nekat: keliling dunia pakai sepeda motor listrik. Dia ingin membuktikan bahwa tidak ada kekhawatiran menggunakan motor listrik. Dalam pikirannya, jika dia saja berhasil keliling dunia naik motor listrik, seharusnya perjalanan di dalam kota tidak lagi menjadi soal.

”Karena selama ini sepertinya orang masih khawatir. Nanti nge-charge-nya gimana, nanti kalau kehabisan baterai gimana, apakah sepeda motor listrik itu reliable, bisa diandalkan? Saya ingin membuktikan itu,” ujarnya.

Ide itu muncul di kepala sejak tiga tahun lalu. Persiapan demi persiapan sudah dilakukan. Kemudian, pandemi Covid-19 datang dan membuat semua rencananya tertunda. Terutama karena banyak negara yang belum membuka perbatasan. ”Akhirnya, saya harus menunggu negara-negara di rute yang akan saya lewati itu dibuka,” beber pria asal Slovakia yang sudah lama tinggal di Indonesia tersebut.

Singkat cerita, Roman baru bisa merealisasikan misinya pada Juli 2023. Berangkat dari Jakarta, dia membidik navigasi ke arah Sumatera. Kemudian, dia menempuh jalur laut menuju Malaysia, Thailand, Laos, Tiongkok, Kirgistan, Uzbekistan, Kazakhstan, Azerbaijan, Georgia, Turki, Bulgaria, Serbia, Hungaria, Slovakia, Republik Ceko, Austria, Jerman, Prancis, Inggris Raya, Amerika Serikat, Australia, Timor Leste, dan kembali ke Indonesia. Targetnya, perjalanan bisa rampung dalam kurun waktu lima bulan.

Saat berbincang dengan Jawa Pos pertengahan November lalu, Roman berada di Eropa. Tepatnya di Slovakia, kampung halamannya. Pria 47 tahun itu menghabiskan waktu istirahat beberapa hari bersama keluarganya. Karena itu pula, dia punya cukup waktu untuk berbincang lewat panggilan video. Sebab, biasanya Roman nonstop menghabiskan waktunya untuk berjelajah. ”Saya hanya punya dua mode dalam perjalanan, jika tidak riding, ya charging,” ungkap Roman.

Selanjutnya, saatnya menjawab pertanyaan banyak orang. Bagaimana Roman bisa melakukannya dan berjalan sejauh itu? Dalam perjalanan mengelilingi dunia tersebut, Roman menggunakan sepeda motor Zero DSR/X tanpa modifikasi yang merupakan produk komersial. Daya baterai motor itu dapat diisi lewat colokan listrik standar. ”Di sini kuncinya bahwa baterai sepeda motor listrik itu bisa di-charge dengan colokan biasa. Artinya, di mana pun ada colokan, sepeda motor akan selalu bisa diisi daya. Di hampir semua tempat di semua negara, kita selalu bisa menemukan colokan,” paparnya.

Sepeda motor listrik yang dia gunakan dapat menempuh jarak sekitar 300 kilometer untuk sekali pengisian daya penuh. Roman menghabiskan rata-rata 10 jam waktu mengemudi dalam sehari. Selebihnya, dia akan mengincar tempat beristirahat yang memungkinkan terdapat colokan listrik.

”Jika ada penginapan lokal, tentu saya akan memilih penginapan. Dengan begitu, saya bisa mandi dan sarapan dengan baik. Tapi, tidak selalu begitu. Jika tidak ada penginapan, saya berhenti di mana saja. Minimarket, SPBU, atau beberapa kali saya ditampung di rumah warga lokal,” ungkap pria yang menjadi konsultan manajemen di perusahaan jasa global di Jakarta tersebut.

Dari situ, dia mendapatkan banyak pengalaman berkesan. Misalnya saja saat berkendara melintasi Laos. Kala itu Roman belum menemukan satu pun checkpoint yang bisa digunakan untuk beristirahat dan charging hingga malam tiba. Padahal, tidak banyak baterai yang tersisa di sepeda motornya.

Roman kemudian mendapati satu rumah warga di tengah-tengah area yang sepi. Memberanikan diri, dia berhenti dan menyapa sang penghuni. Tak disangka, sambutannya begitu hangat. Pemilik rumah berbaik hati menawari Roman untuk menginap. Sekaligus memberikan izin untuk menge-charge sepeda motornya.

”Orang-orang luar biasa baik. Di Indonesia, di Asia, di mana pun saya bertemu dengan warga lokal, mereka selalu menawarkan bantuan terbaik. Ketika meminta tolong sesuatu, khususnya untuk meminjam colokan, saya tidak pernah mendapatkan kata tidak,” beber Roman.

Selain soal charging, pertanyaan yang akan muncul adalah durable atau seawet apa sepeda motor listrik digunakan berkendara jarak jauh. Dengan yakin, Roman menyatakan, selama menempuh perjalanan dari Indonesia ke Slovakia, dirinya tidak pernah mengalami kendala teknis.

Kebetulan, model sepeda motor listrik yang Roman gunakan adalah model adventure. Cukup menunjang untuk melibas berbagai medan jalan. ”Salah satu tantangan terbesar yang sempat buat saya takut saat itu adalah hujan. Saya berangkat pada Juli. Artinya, sebagian besar tempat yang saya lewati, khususnya Asia, masih dalam musim hujan,” jelas Roman.

Benar saja. Di Tiongkok Selatan, misalnya. Selama total empat minggu perjalanan Roman melintasi negara tersebut, hampir setiap hari hujan turun. Meski demikian, kekhawatiran air hujan menghambat kinerja motor listrik tidak terjadi. Motor yang dikendarai Roman masih tetap melaju normal.

”Pernah suatu waktu saya berkendara di bawah badai di Tiongkok Selatan. Hujan sangat deras, angin sangat kencang. Saya mendapati baterai motor listrik saya terkuras lebih cepat. Itu saja dampak yang saya dapatkan karena mungkin motor listriknya bekerja keras. Tapi, tidak ada kendala lain. It can make it,” jelas Roman.

Kini misi Roman itu telah tercapai 75 persen. Dia riding di Amerika Serikat. Pada 5 Desember atau hari ke-149 perjalanannya, Roman melintasi wilayah Arizona.

Selanjutnya, laju motornya akan diarahkan ke Australia, Timor Leste, sebelum kembali finis di Indonesia. ”Boleh kita bilang bahwa bagian tersulitnya sudah terlewati. Menuju ke Eropa dan Amerika, infastrukturnya sudah sangat baik,” ungkapnya.

Dia berharap kondisinya akan terus baik. ”Sepeda motor juga dalam kondisi baik sehingga saya bisa menuntaskan perjalanan ini dengan sukses,” ujar Roman sembari memamerkan sebungkus jahe merah dan sekotak Tolak Angin yang dibawanya dari Indonesia di layar ponselnya. (*/c14/fal)

EDITOR: Ilham Safutra