Penutupan Hotel Alexis di Jakarta Utara beberapa waktu lalu menjadi momentum aparat untuk berperang melawan narkoba dan prostitusi. Namun, nyatanya, sampai saat ini narkoba masih bisa didapat di ibu kota.
---
SEBOTOL Macallan single malt whisky sudah tandas di atas meja tempat kami bersua. Gelas-gelas yang sebelumnya penuh juga sudah kering. Band yang memandu kemeriahan pesta di sebuah bar di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu pun telah mengalunkan lagu terakhir.
Sebuah lagu RnB lawas berjudul Inikah Cinta yang dibawakan grup vokal ME menjadi teman terakhir para pengunjung di tempat tersebut. Hari itu, Selasa (27/11), pukul 02.00.
Beberapa pengunjung yang masih terlihat mabuk enggan pulang. Mereka tetap bergoyang ketika lagu tersebut dilantunkan. Di meja kami awalnya duduk lima pria. Namun, dua orang pamit pulang karena ada janji meeting saat pagi. Tersisa tiga orang, termasuk saya.
Seorang di antara mereka yang masih tersisa pun berbicara ke saya, dia masih ingin pesta. Tapi, dia mau ada cewek yang menemani. Well, pukul 2 dini hari di Jakarta bisa dibilang masih sore untuk mengakhiri sebuah pesta. Namun, di Jakarta Selatan, memang kebanyakan saat weekdays, kelab, bar, atau lounge menutup tirainya pada pukul 02.00.
Mau tidak mau kami pun bergeser ke Jakarta Barat. Tepatnya di kawasan Mangga Besar. Di sana ada kelab yang bisa buka sampai pagi.
Setelah sempat muter-muter di area kelab yang hampir tutup itu, saya akhirnya berkenalan dengan seorang cewek. Dia mengenakan short dress berwarna krem plus high heels beraksen gold. Kulitnya putih mulus dengan rambut lurus sebahu yang tergerai. Saya pun menyapanya, lalu tanpa basa-basi langsung saya ajak dia untuk lanjut pesta ke Jakarta Barat. Awalnya dia ogah. Namun, setelah saya terus pepet, dia akhirnya mau. Namun, dia mengajukan syarat. ''Oke, aku tahu tempatnya. Tapi, nanti mau beli ineks,'' ujar cewek yang mengaku bernama Dara itu.
Saya kaget juga ketika dia bilang seperti itu. Sebab, sepengetahuan saya, di Jakarta sudah bersih dari yang namanya segala macam narkoba. Namun, saya iyakan saja permintaannya. Dia kemudian mengenalkan kami kepada seorang kawan lelakinya yang dari gerak-geriknya terlihat kemayu serta seorang teman perempuannya yang ketika itu memakai T-shirt biru, skinny jeans, dan high heels.
Saya kemudian mengorder taksi online yang menjemput di depan kelab pada pukul 02.45. Sebuah mobil Toyota Avanza silver membawa kami ke tempat yang dimaksud Dara. Sesampai di tempat yang berlokasi di bilangan Mangga Besar itu, kami pun turun, lalu memasuki lobi.
Dara sepertinya sudah biasa hang out di tempat itu. Sembari menunggu di lobi, Dara tampak berbicara dengan seorang resepsionis. Kami lalu diantarkan ke sebuah room karaoke yang lumayan luas. Cukup menampung sampai sepuluh orang di sofa yang berbentuk huruf U. Sebuah televisi berukuran 64 inci menghadap ke sofa. Di pojok ruangan itu terdapat toilet dan ruang tidur.
Setelah kami berenam duduk di situ, seorang waiter datang. Rupanya, dia adalah kenalan Dara. Dia kemudian memutar musik deep house yang bertempo pelan nan menghanyutkan. Dara tampak berbicara kepada orang tersebut. Waiter itu pun mengangguk. Lalu, Dara menghampiri saya. ''Ada nih, satunya Rp 600 ribu. Ambil tiga, ya. Buat aku sama temen-temen aku,'' ucapnya.
Wow. Tidak menyangka. Ternyata masih ada juga barang seperti itu di ibu kota. Seorang teman saya lalu menyerahkan uang Rp 1,8 juta kepada Dara dan dengan cepat berpindah kepada waiter yang mengenakan rompi hitam di balik kemeja putihnya itu. Saya kemudian memberikan uang Rp 2 juta untuk ongkos menyewa room selama lima jam plus untuk membeli aneka minuman dan makanan. Total, di tempat itu keluar biaya Rp 3,8 juta. Langkanya mendapatkan membuat harga narkoba melejit.
Berbagai minuman dan buah-buahan yang dipesan datang tidak lama kemudian. Namun, "obat kuat joget" yang diminta Dara baru datang sekitar setengah jam kemudian. ''Kok lama banget obatnya,'' tanya saya kepada waiter itu. Dia menjawab harus memastikan aman dulu sebelum mengeluarkan obat yang dimaksud. Sebab, saat ini memang benar-benar ketat. Dia tidak mau memberikan kecuali kepada orang yang sudah dikenal. ''Dulu sih enak. Bebas aja kasih ke siapa aja yang mau,'' kata dia.
Dara dan dua orang temannya lalu meminum obat itu dengan air mineral. Beberapa menit kemudian, tiga orang tersebut terlihat berjoget mengikuti lagu yang diputar di ruangan yang sudah di-blackout alias gelap gulita itu.
Meski sudah memberikan uang sewa selama lima jam, kami hanya menempati room itu selama tiga jam. Tepat pukul 7 pagi, kami check out dari situ. ''Makasih ya. Kapan-kapan kalau mau keluar lagi kontak aku,'' ucap Dara kepada seorang teman saya sambil memasukkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari teman saya itu ke dalam clutch Dara yang dibawanya.
Sejak Alexis ditutup pada Maret lalu, obat-obatan terlarang serta prostitusi di dunia malam memang ikut tiarap. Sebulan sesudahnya, diskotek Eksotis, Mangga Besar, juga menyusul ditutup karena ada pengunjung yang tewas overdosis narkoba. Pada Oktober diskotek Old City di Tambora, Jakarta Barat, juga ditutup setelah dalam razia ditemukan 52 orang yang dinyatakan positif mengonsumsi narkoba. Dua tahun lalu diskotek Mille's di Lokasari, Mangga Besar, ditutup karena ada pengunjung yang tewas karena narkoba. Buntut dari berbagai kejadian itu, narkoba akhirnya tidak lagi bisa ditemukan dengan gampang. Namun, nyatanya, susah ditemukan bukan berarti tidak ada.
Lain di Jakarta, lain lagi di kota-kota penyangganya. Di luar Jakarta, misalnya Bogor, Tangerang, dan Tangerang Selatan, memang tidak ada penjualan narkoba konvensional di kelab-kelab malam. Namun, yang lebih populer adalah blue sapphire dan snow white. Keduanya adalah minuman yang masuk narkoba kategori 4, yakni klorometkatinon (4-CMC). Cairan yang diklaim memiliki efek "tinggi" seperti ekstasi itu bisa didapatkan di sejumlah kelab di Tangerang dan Tangerang Selatan.
Minuman itu sempat menghebohkan pada 2016. Tepatnya, setelah belasan pengunjung di kelab Matador di Tangerang Selatan keracunan minunam blue sapphire pada November 2016. Sebelumnya, seorang WNA keracunan hingga tewas setelah mengonsumsi minuman tersebut. Setahun kemudian, pihak kelab menjelaskan sudah tidak menjual minuman itu lagi.
Sejak diidentifikasi sebagai narkoba, minuman itu pun menjadi susah didapatkan. Namun, sekali lagi, langka bukan berarti tidak ada. Untuk membuktikannya, saya menggali sejumlah informasi dan akhirnya bisa berkenalan dengan seorang perempuan yang mengatakan bahwa minuman itu masih bisa didapatkan.
Sabtu (1/12) saya janjian dengan perempuan yang mengaku bernama Eva itu di depan sebuah outlet karaoke keluarga di kawasan Gading Serpong, Tangerang. Saat itu jarum jam masih menunjuk pukul 23.00. Dia datang menghampiri saya bersama teman perempuannya.
Setelah masuk ke mobil yang saya kemudikan, dia kemudian menunjukkan tempat yang dia bilang masih menjual minuman langka itu. Di kawasan elite tersebut, kami masuk agak jauh ke dari jalan utama, lalu tiba di area ruko. Di situ kami masuk di sebuah kelab dan karaoke yang berbentuk ruko tiga lantai.
Rupanya, dia sudah memesan sebuah table untuk kami bertiga. Sampai di depan ruko, kami lalu dipersilakan masuk ke lounge dan menempati sebuah meja tinggi yang terletak tepat di depan DJ booth. Saat itu belum begitu ramai. Maklum, sebelum lewat tengah malam bisa dibilang masih sore bagi penggemar party.
Lalu, kami memesan minuman. Segelas koktail dan satu pitcher Heineken. Saya bertanya kepada Eva tentang minuman yang punya efek seperti ineks itu. ''Sabar, aku sudah pesen. Agak lama memang datangnya,'' tutur Eva yang menampakkan diri dengan leopard print blouse yang dipadu dengan skinny jeans dan high heels.
Benar juga. Pada pukul 00.00 lewat beberapa menit, seorang waiter dengan rambut yang dikucir ekor kuda menghampiri meja kami. Dia membawa minuman berwarna cokelat pekat di dalam gelas. Eva bilang, itu adalah snow white. Namun, dia sudah minta untuk disajikan dalam gelas, bukan botol. ''Biar nggak mencolok aja sih,'' tutur Eva yang di profile picture akun WhatsApp-nya mengenakan hijab itu. Saya lalu memberikan uang Rp 750 ribu kepada waiter tersebut, lalu dia meninggalkan kami dengan senyum di wajah.
Perempuan yang mengaku berumur 25 tahun itu kemudian membagi minuman tersebut bersama temannya yang menyebut dirinya bernama Rita itu. Mereka lalu mulai menggelengkan kepala. Beberapa menit kemudian, Eva dan Rita turun dari kursi dan berjoget mengikuti lagu EDM yang diputar DJ. ''Sudah mulai naik nih,'' seru Rita kepada Eva agak berteriak.
Setelah menikmati suasana sekitar empat jam, pukul 03.25 kami kemudian meninggalkan ruko tersebut. Saya lalu mengantarkan keduanya ke sebuah apartemen di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan, lalu berpisah di situ.
Berbagai penelusuran yang kami lakukan itu menunjukkan bahwa di ibu kota dan sekitarnya narkoba masih bisa didapatkan. Dan, biasanya, menjelang tahun baru, demand untuk narkoba bakal melonjak. Karena itulah, aparat-aparat yang berwenang wajib mengetatkan pengawasan menjelang pergantian tahun.