← Beranda
Menyusuri Jejak Samar-Samar Ajax Amsterdam di Berau
Miftakhul F.SKamis, 26 Januari 2017 | 17.34 WIB
SEJARAH: Kondisi lapangan di Teluk Bayur kini. Konon di sini Ajax dulu pernah bermain. Tim POPI Teluk Bayur. Senior para pemain ini yang diduga dulu turut bermain melawan Ajax.

Kisah kedatangan Ajax Amsterdam di Berau masih kuat tertancap di ingatan banyak warga setempat. Bisa jadi, itulah tur klub Eropa pertama ke Indonesia pada masa kemerdekaan.







JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Berau







LAPANGAN di depan sebuah sekolah dasar itu kecil, sekitar separo lapangan sepak bola pada umumnya. Rumputnya, kecuali di bagian gawang, masih terawat.



Sebab, drainase lapangan yang dipagari pepohonan tersebut bekerja dengan baik. Mau hujan sederas apa pun, di lapangan tersebut, tidak ada banjir. Di sekelilingnya, juga ada selokan yang cukup dalam.



Namun, bukan drainase atau kondisi rumput tersebut yang membuat lapangan di Teluk Bayur itu masyhur di seantero Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Melainkan karena di situlah, konon, Ajax Amsterdam, klub raksasa Belanda, pernah bermain.



’’Saya lihat sendiri foto milik Pak Mahlan. Ada sederet pemain yang berdiri dengan mengenakan kostum Ajax atau dibacanya Ayak,’’ jelas Zulkifli Haris, seorang pembina sepak bola di Teluk Bayur.



Mahlan yang dimaksud Haris sudah meninggal. Haris menyebutnya sebagai salah seorang pemain tim pekerja tambang batu bara setempat yang berkesempatan menjajal Ajax.



Keberadaan foto hitam putih yang disebutkan pria kelahiran 1966 tersebut memang tak jelas sekarang. Yang pasti, Haris melihatnya ketika masih duduk di bangku SMP.



’’Di foto itu, pohon beringin di pinggir lapangan masih kecil,’’ katanya.



Sayang, jejak Ajax di Berau kini remang-remang. Semua saksi telah tiada. Peninggalan berupa foto atau dokumentasi tulisan juga tak ada. Kalaupun ada, keberadaannya tak jelas.



Padahal, kedatangan Ajax pada 1946 itu merupakan sebuah sejarah besar. Sebab, bisa jadi, itulah tur klub Eropa pertama ke kawasan Nusantara. Setidaknya setelah Indonesia merdeka pada 1945.



Yang tersisa kini di Berau, kabupaten yang merupakan gabungan wilayah dua bekas kerajaan, Teluk Bayur dan Gunung Tabur, hanyalah kisah lisan yang diwariskan turun-temurun.



Aji Rahmatsjah, seorang sejarawan dan tokoh masyarakat di Teluk Bayur, mengakui, dirinya juga mendengar kedatangan rombongan Ajax. Saat itu, pria kelahiran 1936 tersebut baru berusia sekitar 10 tahun. ’’Waktu itu, saya masih berada di Gunung Tabur. Tapi, saya mendengar sendiri bahwa Ajax main di Teluk Bayur,’’ ucap Aji yang merupakan keturunan Kesultanan Gunung Tabur.



Jadi, Ajax diperkirakan bermain pada 1946. Saat itu Teluk Bayur masih dikuasai para pengusaha batu bara asal Belanda. Salah satunya adalah NV Stenkollen Matschappy Parapattan yang berjaya di Teluk Bayur. Diduga kuat yang menghadapi mereka tim sepak bola berisikan para pemain perusahaan tambang batu bara.



’’Mungkin, perusahaan itulah yang mendatangkan (Ajax, Red) ke sini dengan menggunakan kapal,’’ ujar pria yang telah membuat dua buku sejarah tentang Berau tersebut.



Berau memang kaya akan batu bara. Belanda pertama datang di kabupaten yang kini berbatasan dengan Kalimantan Utara itu dalam rangka eksplorasi bahan tambang tersebut.



Aji masih menyimpan beberapa foto lawas pemain bola Teluk Bayur. Salah satunya, sebuah foto pemuda yang membawa bendera bertulisan POPI.



Menurut Aji, POPI merupakan singkatan Persatuan Olah Raga Pemuda Indonesia. ’’Nah, yang main dengan Ajax itu mungkin adalah senior mereka ini,’’ tuturnya sambil menunjukkan foto tersebut.



Satu foto lagi memperlihatkan para pemain sepak bola yang berdiri di bawah mistar gawang. Sebagian besar mengenakan celana pendek dan kaus dengan lambang bintang dan bulan sabit. Mereka juga mengenakan sepatu. Namun, Aji tak tahu persis siapa mereka dan kapan foto itu diambil.



Aji yang sudah memiliki 23 cucu mengaku beberapa kali berupaya mencari pemain Teluk Bayur yang pernah melawan Ajax. Tapi, rupanya, semuanya telah tiada.



Sumber-sumber lain juga dicari Aji, tapi belum ketemu. ’’Saya yakin di Belanda ada. Bagaimanapun, ini adalah sejarah yang harus diungkap,’’ jelasnya. (*/c23/ttg)


EDITOR: Miftakhul F.S