← Beranda
Chandra Satria Gandeng Sheila Majid dalam Trilogi "Dan Bila Esok"
Abdul Rahman• Kamis, 22 Oktober 2026 | 06.14 WIB
Jumpa pers trilogi "Dan Bila Esok" di bilangan Senayan, Jakarta. (Abdul Rahman/JawaPos.com

 

JawaPos.com - Perjalanan hampir tiga dekade di industri musik Indonesia membawa Chandra Satria melewati beragam panggung dan pengalaman. Mengawali karier sebagai penyanyi latar Chrisye, Chandra kemudian membangun identitasnya sebagai penyanyi solo sekaligus performer yang terlibat dalam berbagai produksi teater musikal.

Kini, Chandra menghadirkan babak baru dalam perjalanan kreatifnya melalui “Dan Bila Esok”, sebuah trilogi musik dan visual yang menggabungkan lagu, karakter, serta cerita dalam satu rangkaian karya.

Berbeda dari perilisan lagu pada umumnya, proyek ini dirancang sebagai perjalanan naratif yang mengajak pendengar mengikuti kisah melalui tiga lagu yang saling terhubung. Ketiganya adalah “Saat Denganmu”, “Dan”, dan “Pilihan”, yang dikembangkan menjadi rangkaian video musik dengan kesinambungan cerita.

Bagi Chandra, pendekatan tersebut berangkat dari keyakinannya bahwa musik memiliki kekuatan untuk menyampaikan kisah dan membangun ikatan emosional dengan pendengarnya.

Baca Juga: Marsha Aruan Kenang Lisa Diana: Bunda Terlalu Baik

“Saya selalu percaya bahwa lagu itu punya cerita. Setelah sekian lama berada di dunia musik dan pertunjukan, saya ingin membawa cerita tersebut lebih jauh. Bukan hanya didengar, tetapi juga bisa dilihat, dirasakan, dan diikuti perjalanannya,” ujar Chandra Satria.

Melalui “Dan Bila Esok”, ia ingin memperluas pengalaman menikmati musik. Lagu tidak hanya menjadi karya audio, tetapi juga medium untuk menghadirkan karakter, emosi, dan perjalanan cerita yang dapat diikuti dari awal hingga akhir.

Dari Penyanyi Latar Chrisye hingga Panggung Teater Musikal

Karier Chandra Satria mulai berkembang sejak era 1990-an. Salah satu pengalaman penting dalam perjalanan tersebut adalah ketika ia menjadi penyanyi latar Chrisye dan terlibat dalam sejumlah pertunjukan bersama sang legenda maupun penyanyi senior Indonesia lainnya.

Pengalaman berada di belakang penyanyi utama memberinya kesempatan untuk memahami berbagai aspek pertunjukan, mulai dari penghayatan lagu hingga cara membangun hubungan emosional dengan para penonton.

Seiring waktu, Chandra kemudian mengembangkan karier sebagai penyanyi solo. Sejumlah album yang pernah dirilisnya antara lain Dari Hati Terdalam, Ingatlah Diriku, serta Ketika Itu dan Kini.

Di luar rekaman dan penampilan musik, Chandra juga memperluas kiprahnya ke dunia teater musikal. Ia terlibat dalam sejumlah produksi, termasuk Musikal Laskar Pelangi, Ali Topan the Musical, Gita Cinta the Musical, Badai Kasih the Musical, Teater Musikal Cek Toko Sebelah, Radjiman, hingga MAR.

Pengalaman di berbagai panggung tersebut membentuk pendekatan artistik Chandra. Ia tidak hanya dituntut menyampaikan melodi dan lirik, tetapi juga menghidupkan karakter serta menyampaikan emosi melalui penampilan.

Latar belakang inilah yang menjadi bekal dalam mengembangkan “Dan Bila Esok”. Pengalaman musik dan teater dipadukan untuk menghadirkan karya yang tidak berhenti pada kekuatan vokal, tetapi juga menempatkan cerita sebagai bagian penting dari pengalaman mendengarkan.

Tiga Lagu yang Terhubung dalam Dan Bila Esok

Trilogi “Dan Bila Esok” dibangun melalui tiga lagu dengan karakter musikal berbeda. Masing-masing memiliki identitas tersendiri, tetapi ditempatkan dalam satu rangkaian cerita yang saling berkaitan.

Bagian pertama dibuka dengan “Saat Denganmu”, hasil kolaborasi Chandra bersama penyanyi legendaris asal Malaysia, Sheila Majid.

Kolaborasi ini juga menjadi pertemuan kembali keduanya setelah pernah berduet melalui lagu “Ingatlah Diriku” pada 2009. Kehadiran Sheila memberikan dimensi tersendiri bagi proyek tersebut, terutama dalam mempertemukan karakter vokal dua musisi yang memiliki pengalaman panjang di industri musik.

Aransemen lagu ini digarap Tohpati dengan dukungan orkestrasi Budapest Scoring Orchestra. Perpaduan tersebut menghadirkan warna musikal yang lebih luas, sekaligus memperkuat nuansa emosional dalam lagu. Cerita kemudian berlanjut melalui “Dan”, lagu ciptaan Eross Candra yang sebelumnya dikenal luas melalui Sheila on 7.

Dalam proyek ini, Chandra membawakan interpretasinya sendiri terhadap lagu tersebut. Aransemen Ivan Tangkulung dan dukungan Budapest Scoring Orchestra menjadi bagian dari pendekatan musikal yang mengarahkan karya itu ke suasana lebih intim dan emosional.

Sementara itu, trilogi ditutup dengan “Pilihan”, karya yang diciptakan oleh Dee Lestari dan Keenan. Lagu ini menjadi bagian terakhir dari rangkaian yang menghubungkan ketiga karya dalam satu perjalanan naratif.

Ketiga lagu tersebut tidak hanya disatukan melalui tema dan musik, tetapi juga melalui video musik yang memiliki kesinambungan cerita.

Naskah cerita ditulis oleh Titien Wattimena dan Ian Davin, sementara Agung Sentausa bertindak sebagai sutradara. Kolaborasi tersebut membawa “Dan Bila Esok” ke pendekatan visual sinematik, sehingga penonton dapat mengikuti kisah yang berkembang seiring pergantian lagu.

Kolaborasi Lintas Generasi di Industri Kreatif Indonesia

Salah satu hal yang menonjol dari “Dan Bila Esok” adalah keterlibatan sejumlah musisi dan kreator dari latar belakang berbeda.

Chandra membawa pengalaman panjangnya sejak era 1990-an, sedangkan Sheila Majid, Eross Candra, Dee Lestari, Keenan, Tohpati, dan Ivan Tangkulung memberikan kontribusi melalui karakter serta keahlian masing-masing.

Di sisi visual, keterlibatan Titien Wattimena, Ian Davin, dan Agung Sentausa memperluas proyek ini dari sekadar produksi musik menjadi karya yang menggabungkan berbagai disiplin kreatif.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah karya musik dapat dikembangkan melalui kolaborasi lintas generasi dan bidang. Lagu menjadi titik awal, sementara penulisan cerita, aransemen, orkestrasi, serta penyutradaraan membangun pengalaman yang lebih menyeluruh.

Di tengah perkembangan distribusi musik digital, video musik juga memiliki peran penting dalam memperkenalkan karya kepada audiens. Format trilogi memberi kesempatan bagi pendengar untuk mengikuti cerita secara bertahap, bukan hanya menikmati satu lagu secara terpisah.

Meski demikian, kekuatan utama proyek ini tetap terletak pada hubungan antara musik dan narasi. Setiap bagian menjadi elemen dari cerita yang lebih besar, dengan emosi dan pilihan sebagai benang merahnya.

Chandra Satria, Musisi yang Terus Mengembangkan Cara Bercerita

Setelah hampir tiga dekade menjalani berbagai peran di dunia musik dan pertunjukan, Chandra Satria terus mengeksplorasi cara baru untuk menyampaikan karya kepada para pendengar.

Pengalamannya sebagai penyanyi latar, solois, dan performer teater musikal memberinya perspektif yang berbeda dalam memandang sebuah lagu. Baginya, musik dapat menjadi medium untuk menyampaikan pengalaman manusia yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Melalui “Dan Bila Esok”, ia mengangkat gagasan tentang hubungan, perasaan, dan pilihan yang dihadapi seseorang ketika memikirkan kemungkinan masa depan.

Pertanyaan tentang apa yang mungkin terjadi esok hari menjadi titik masuk untuk mengikuti kisah yang dibangun melalui tiga lagu. Pendengar tidak hanya diajak menikmati aransemen dan vokal, tetapi juga menafsirkan emosi serta perjalanan karakter di dalamnya.

Baca Juga: Ibunda Marsha Aruan Melakukan Pengobatan Intensif Sejak 2 Bulan Belakangan Sebelum Meninggal

Trilogi ini sekaligus menandai perkembangan Chandra sebagai musisi yang memadukan kemampuan bernyanyi dengan pendekatan bercerita. Ia tidak meninggalkan akar musikal yang membentuk kariernya, tetapi memperluas cara menyampaikan karya melalui medium visual.

Rangkaian video musik “Dan Bila Esok” dapat disaksikan melalui YouTube.

EDITOR: Abdul Rahman