JawaPos.com - Kabar meninggalnya Guruh Soekarnoputra pada Sabtu, 26 September 2026, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dunia seni, hingga masyarakat Indonesia.
Putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati itu mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, pada pukul 04.16 WIB dalam usia 73 tahun.
Namun, di balik kabar duka tersebut terdapat sejumlah momen yang menarik perhatian, mulai dari kondisi kesehatan Guruh sebelum meninggal, kedatangan sang kakak Megawati Soekarnoputri, hingga keputusan untuk memakamkannya di samping pusara sang ibunda.
Berikut sejumlah momen yang mewarnai kepergian Guruh Soekarnoputra.
Baca Juga: Doddy Katamsi Dirawat di Rumah Sakit Akibat Permasalahan Jantung
1. Tiga Kali Mengalami Kejang Sebelum Meninggal
Beberapa hari sebelum meninggal, kondisi kesehatan Guruh mengalami penurunan drastis.
Keponakannya, Didi Mahardika, mengatakan Guruh saat itu menjalani perawatan intensif di ICU RS Siloam Semanggi dalam kondisi kritis dan tidak sadarkan diri.
Didi juga mengungkapkan Guruh sempat mengalami kejang sebanyak tiga kali. Sebelumnya, Guruh telah menjalani perawatan di RS Medistra Jakarta selama sekitar empat minggu dan kondisinya sempat membaik sebelum kembali menurun.
Keluarga pada saat itu memilih tidak mengungkapkan secara terbuka penyakit yang diderita Guruh.
2. Kondisi Kesehatan Guruh Menurun Sejak Sekitar Satu Tahun Belakangan
Persoalan kesehatan bukan baru terjadi menjelang wafatnya Guruh.
Didi Mahardika sebelumnya menyampaikan bahwa kondisi kesehatan pamannya telah menurun selama sekitar satu tahun terakhir. Meski demikian, keluarga tetap menjaga informasi mengenai penyakit Guruh.
Di tengah kondisi tersebut, Guruh Soekarnoputra masih memiliki keinginan tinggi untuk berkontribusi dan berkarya.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan bahwa Guruh masih bersemangat menghidupkan kembali kegiatan Gencar Semarak Perkasa (GSP) Production dan sempat bekerja sama dengan sejumlah seniman untuk menyiapkan pertunjukan monolog.
3. Megawati Datang dari Manado untuk Memberikan Penghormatan Terakhir
Salah satu momen yang cukup menyita perhatian terjadi ketika Megawati Soekarnoputri datang ke rumah duka.
Megawati yang sedang berada di Manado, Sulawesi Utara, langsung menuju rumah duka Guruh di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, setelah tiba di Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan kedatangan Megawati menjadi salah satu hal yang ditunggu keluarga sebelum jenazah Guruh diberangkatkan menuju tempat pemakaman.
Jenazah kemudian disalatkan secara berjemaah sebelum diberangkatkan menuju TPU Karet Bivak, Jakarta.
4. Guruh Dimakamkan di Samping Pusara Fatmawati
Momen lain yang menarik perhatian adalah lokasi peristirahatan terakhir Guruh.
Guruh dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta, tepat di samping pusara ibundanya, Fatmawati.
Keputusan tersebut bukan sekadar pilihan keluarga. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyampaikan bahwa Guruh memang sempat berwasiat mau dimakamkan di sebelah makam sang ibunda.
Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno juga mengungkapkan bahwa Guruh dikafani menggunakan kain favorit Fatmawati. Menurut Sandiaga, pemakaman di samping Fatmawati juga sesuai dengan pesan Guruh sebelum meninggal.
Hal tersebut membuat prosesi pemakaman Guruh memiliki dimensi personal yang kuat, mengingat hubungan Guruh dengan Fatmawati adalah hubungan ibu dan anak.
5. Keluarga Besar Soekarno Berkumpul di Pemakaman
Prosesi pemakaman di TPU Karet Bivak juga menjadi momen berkumpulnya keluarga besar Presiden Soekarno.
Megawati Soekarnoputri, Guntur Soekarnoputra, Sukmawati Soekarnoputri, serta keluarga besar Soekarno hadir dalam prosesi penghormatan terakhir Guruh di pemakaman.
Guruh sendiri merupakan putra bungsu Soekarno dan Fatmawati. Ia lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953 dan meninggal 26 September 2026.
6. PDI Perjuangan Kibarkan Bendera Setengah Tiang Selama Tujuh Hari
Guruh bukan hanya dikenal sebagai seniman dan budayawan. Ia juga memiliki perjalanan panjang di PDI Perjuangan.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap Guruh, PDI Perjuangan menginstruksikan seluruh jajaran partai untuk mengibarkan bendera partai setengah tiang selama tujuh hari.
Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kebudayaan Rano Karno menyampaikan hal tersebut ketika membacakan pidato pelepasan Guruh di TPU Karet Bivak.
Penghormatan itu memperlihatkan dua sisi perjalanan Guruh yang dikenal publik: dunia seni dan keterlibatannya dalam kehidupan politik.
7. Kepergian Guruh Mendapat Perhatian dari Banyak Tokoh Nasional
Kabar wafatnya Guruh Soekarnoputra juga mendapat perhatian dari sejumlah tokoh nasional.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan ucapan belasungkawa melalui akun Instagram resminya. Ucapan tersebut disertai gambar sketsa wajah Guruh.
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono juga datang ke tempat persemayaman Guruh. SBY mengenang Guruh, salah satunya melalui pengalaman ketika keduanya pernah berbagi kanvas dalam sebuah pameran lukisan.
8. Warisan Seni Guruh Kembali Menjadi Sorotan
Setelah Guruh meninggal, perhatian publik kembali tertuju pada perjalanan panjangnya sebagai seniman.
Sejak muda, Guruh telah mendalami tari dan musik. Ia kemudian mendirikan Swara Mahardhika serta terlibat dalam berbagai proyek seni dan musik, termasuk Guruh Gipsy bersama sejumlah musisi seperti Chrisye, Keenan Nasution dan Abadi Soesman.
Salah satu karya yang lekat dengan namanya adalah “Kala Sang Surya Tenggelam”, yang kemudian dikenal luas melalui suara Chrisye.
Jejak Guruh tidak berhenti pada dunia musik. Ia juga dikenal sebagai koreografer, pencipta lagu, penggagas pertunjukan seni, budayawan, serta politikus.
Karena itu, kepergian Guruh di usia 73 tahun bukan hanya menjadi kabar duka keluarga Soekarno, tetapi juga menandai berakhirnya perjalanan salah satu tokoh yang selama puluhan tahun berada di persimpangan antara seni, budaya dan kehidupan publik di Indonesia.
Baca Juga: Perjalanan Karier Guruh Soekarnoputra, dari Panggung Seni hingga Menjadi Maestro Budaya Indonesia
Meski jasad Guruh telah dimakamkan di samping sang ibu, Fatmawati, karya-karya dan gagasan yang ditinggalkannya menjadi bagian dari perjalanan panjang seni dan kebudayaan Indonesia.