JawaPos.com - Raisa Andriana akhirnya merasakan pengalaman berbeda dalam perjalanan kariernya sebagai penyanyi. Untuk pertama kalinya, Raisa terlibat dalam pertunjukan teater musikal melalui Pagelaran Sabang Merauke 2026: Hikayat Srikandi Nusantara.
Raisa dipercaya memerankan tokoh Srikandi dalam pertunjukan yang digelar selama tiga hari berturut-turut, 21-23 Agustus 2026, di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Bersama Yura Yunita yang memerankan tokoh Mahadewi, Raisa menjadi wajah utama dalam pagelaran yang menggabungkan musik, tari, teater, dan kekayaan budaya Nusantara tersebut.
Tampil dengan busur emas dan kostum merah menyala, Raisa terlihat lebur dalam karakter Srikandi. Namun, di balik penampilannya yang terlihat percaya diri di atas panggung, Raisa mengakui proses menuju titik tersebut sungguh tidak mudah.
Ia mengungkapkan sempat merasa malu setiap kali harus menjalani latihan, terutama ketika mengucapkan dialog sebagai Srikandi yang berbeda jauh dari dirinya. Pengalaman tersebut menjadi tantangan baru lantaran selama ini Raisa lebih dikenal publik sebagai penyanyi yang tampil di atas panggung melalui medium musik.
Baca Juga: Ruben Onsu Terjebak Kasus Penipuan, Minola Sebayang Ungkap Ada “Lubang Besar”
"Setiap kali aku latihan, setiap kali mengucap dialog, aku malu. Tapi sekarang sudah percaya diri," ujar Raisa di Indonesia Arena, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Jumat (21/8).
Setelah akhirnya tampil sebagai Srikandi di hadapan para penonton, Raisa mengaku merasa lega sekaligus bahagia. Ia bahkan menyebut, penampilannya tersebut sebagai momen "pecah telur" karena untuk pertama kalinya berhasil membawa karakter Srikandi ke atas panggung.
"Senang banget, aku merasa hari ini akhirnya pecah telur juga ya jadi Srikandi. Maaf dari tadi agak ditahan-tahan. Jadi ini baru pertama kalinya bisa senyum sekarang dari tadi pagi," kata Raisa.
Bagi Raisa, keterlibatannya dalam Pagelaran Sabang Merauke 2026: Hikayat Srikandi Nusantara bukan sekadar pengalaman baru dalam dunia pertunjukan teater. Ada pesan besar dan penting yang menurutnya harus disampaikan kepada para penonton melalui karakter Srikandi.
"Dari tadi juga aku merasa ketika dialognya disampaikan oleh Srikandi, aku utarakan, penonton benar-benar tepuk tangannya pakai hati banget," tuturnya.
Menurut Raisa, tepuk tangan para penonton bukan sekadar respons terhadap sebuah adegan yang menarik. Ia merasakan ada pesan yang benar-benar diterima oleh mereka.
"Bukan sekadar karena, oh itu momennya lagi bagus, tapi karena memang message-nya itu sendiri diterima sama penonton," kata Raisa.
"Aku sangat bahagia bukan sekadar karena aku berada di Pagelaran Sabang Merauke yang begitu kaya ini. Tapi aku bangga karena bisa menyampaikan message yang begitu penting terutama di keadaan Indonesia saat ini," imbuhnya.
Menariknya, Raisa juga untuk pertama kalinya membawakan lagu terbaru berjudul Cahaya Hati karya Eross Candra. Lagu tersebut baru dirilis beberapa waktu lalu dan kini mendapatkan ruang dalam sebuah pertunjukan teater musikal berskala besar.
Kehadiran Raisa dan Yura Yunita menjadi bagian dari produksi besar Pagelaran Sabang Merauke 2026. Tahun ini, pertunjukan tersebut melibatkan 387 penari dan 117 nomor koreografi, menunjukkan besarnya skala produksi yang dihadirkan di Indonesia Arena GBK.
Pagelaran Sabang Merauke 2026 sekaligus menjadi penanda lima tahun perjalanan pertunjukan tersebut. CEO & President Director iForte, F. Aming Santoso, mengaku tidak menyangka pagelaran yang pertama kali digelar pada 2022 itu dapat terus berkembang hingga memasuki tahun kelima.
Menurut Aming, Pagelaran Sabang Merauke dibangun dengan semangat sangat Indonesia. Nilai gotong royong, kekeluargaan, toleransi, hingga empati menjadi bagian yang ingin terus dihidupkan melalui pertunjukan tersebut.
Baca Juga: Ruben Onsu Beri Penjelasan soal Dana Rp 3,5 Miliar hingga Ditetapkan Tersangka
Sementara itu, Direktur BCA, Antonius Widodo Mulyono menilai, kebudayaan memiliki hubungan yang erat dengan perkembangan ekonomi kreatif.
"Perbankan menurut saya harus dekat dengan budaya. Kayak ada yang salah kalau perbankan tidak dekat dengan budaya. Budaya itu tidak cukup hanya diwariskan, tapi harus dirawat dan dikembangkan supaya ekonominya juga tumbuh," kata Widodo.