← Beranda
Profil Diding Boneng, Aktor yang Meninggal di Usia 76 Tahun
Abdul RahmanSenin, 3 Agustus 2026 | 20.04 WIB
Aktor Diding Boneng. (Instagram: sanggar_perkasa)

 

JawaPos.com - Aktor sekaligus komedian senior Diding Boneng meninggal dunia pada hari ini, Senin (3/8), dalam usia 76 tahun. Kabar duka tersebut dikonfirmasi keluarga dan juga sejumlah sahabat melalui unggahan media sosial.

Pemilik nama asli Zainal Abidin itu dikenal sebagai sosok yang memiliki ciri khas tersendiri dalam setiap penampilannya. Meski jarang menjadi pemeran utama, Diding Boneng mampu mencuri perhatian publik lewat kemampuan akting dan komedi natural yang membuatnya dikenang lintas generasi.

Profil Diding Boneng 

Diding Boneng lahir di Jakarta pada pada 3 Maret 1950. Ia mengawali karier dari dunia hiburan lewat panggung teater sejak tahun 1973. Ia kerap menjadi pemenang festival remaja. Bagi Diding, identitas utamanya adalah seniman teater, bukan bintang film dengan mengejar posisi sebagai pemeran utama.

Baca Juga: Pelapor Diintimidasi Pihak Malik Bawazier Usai Laporkan Kasus Perzinaan

Nama Diding Boneng mulai dikenal publik luas ketika terlibat dalam deretan film Warkop DKI pada era 1980-an hingga 1990-an. Beberapa judul filmnya antara lain; Godain Kita Dong, Lupa Aturan Main, Mana Bisa Tahan, Bebas Aturan Main, Bisa Naik Bisa Turun, Sudah Pasti Tahan, Masuk Kena Keluar Kena, Bagi-Bagi Dong, dan Pencet Sana Pencet Sini.

Dalam banyak film, Diding Boneng kerap memerankan karakter pendukung unik mulai dari hansip, petugas keamanan, hingga tokoh masyarakat dengan ekspresi dan dialog yang mengundang tawa. Peran-peran tersebut membuat wajahnya begitu akrab bagi penonton di Tanah Air. 

Selain film-film Warkop DKI, Diding Boneng juga tampil dalam sejumlah film layar lebar, sinetron, hingga program televisi. Kemampuannya beradaptasi dengan berbagai genre membuat kariernya bertahan selama beberapa dekade. 

Bahkan di usia senja, Diding Boneng masih menerima tawaran bermain film, termasuk terlibat dalam sejumlah proyek layar lebar yang memperkenalkan dirinya kepada generasi penonton baru. Tiga film terakhirnya sebelum berpulang berjudul KKN di Desa Penari, Badarawuhi di Desa Penari, dan The Torture: Beranak dalam Kubur.

Di balik kariernya sebagai aktor, kehidupan pribadi Diding Boneng juga menarik perhatian publik. Ia dikenal sebagai sosok sederhana yang jauh dari kehidupan glamor. Dalam berbagai kesempatan, Diding lebih memilih menikmati waktu bersama keluarga dan tetap aktif berinteraksi dengan komunitas seni. Kehangatan dan kerendahan hatinya membuat ia disegani oleh rekan-rekan sesama artis.

Hal lain yang jarang diketahui publik adalah dedikasi Diding Boneng dalam membimbing generasi muda. Di luar aktivitas syuting, ia aktif berbagi pengalaman dan ilmu seni peran kepada para calon aktor. Banyak murid yang mengenangnya sebagai sosok mentor yang sabar dan tidak pelit berbagi ilmu. 

Beberapa tahun terakhir, kondisi kesehatan Diding Boneng mulai menurun. Ia diketahui beberapa kali menjalani perawatan akibat sejumlah penyakit yang dideritanya. Meski demikian, semangatnya untuk berkarya tidak pernah surut. Sesekali ia masih menghadiri kegiatan perfilman dan terus menjalin komunikasi dengan para penggemarnya.

Diding Boneng meninggal dunia  tadi pagi di kediamannya dengan ditemani pihak keluarga. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bukan hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, tapi juga bagi dunia hiburan Tanah Air. Sejumlah rekan artis mengenangnya sebagai pribadi yang rendah hati, disiplin, dan selalu membawa suasana hangat di lokasi syuting.

Baca Juga: Ruben Onsu Tantang Sarwendah Ungkap Bukti Jika Benar Ada Perselingkuhan 

Bagi para penonton, Diding Boneng akan selalu dikenang sebagai aktor dengan karakter yang sukses menghadirkan tawa lewat penampilannya dalam sejumlah film legendaris Indonesia.

Warisan karya Diding Boneng akan terus hidup melalui film-film yang pernah diperankannya. Sosoknya menjadi bukti bahwa aktor pendukung pun dapat meninggalkan jejak besar dalam sejarah perfilman Indonesia, sekaligus menginspirasi generasi baru untuk terus berkarya dengan dedikasi dan kecintaan terhadap dunia seni.

EDITOR: Abdul Rahman