JawaPos.com - Film 402 Rumah Sakit Angker Korea resmi mewarnai layar bioskop Tanah Air. Proyek garapan sutradara Anggy Umbara itu menceritakan tentang ekspedisi sekelompok YouTuber asal Indonesia bernama Para Pencari Hantu di Korea Selatan.
Demi mengejar target 3 juta penonton saat siaran langsung, Juna (Arbani Yasiz) dan ke-6 temannya memutuskan untuk melakukan penelusuran di rumah sakit terbengkalai dan angker, yakni Yongwon Hospital.
Nahas, ambisi mereka, terutama Juna yang menjadi pemimpin tim membawa mereka ke dalam situasi buruk. Keadaan yang awalnya seru berubah mencekam setelah mereka nekat membuka berbagai misteri masa lalu rumah sakit tersebut.
Baca Juga: Vicky Prasetyo Klaim Tetap Menafkahi 8 Anak dari 5 Istri yang Berbeda
Teror dari makhluk tak kasat mata mulai menghantui mereka. Dan mengubah target mereka yang semula ingin viral, menjadi pulang dalam kondisi selamat. Mereka terjebak di bangunan terkutuk itu dan berada di ambang kematian.
402 Rumah Sakit Angker Korea diadaptasi dari film Gonjiam: Haunted Asylum karya sutradara Jung Bum-Sik. Film mengusung konsep dokumenter mentah atau found footage yang masih sangat jarang digunakan di industri perfilman lokal.
Penonton seolah diajak ikut dalam ekspedisi tersebut karena gambar yang ditampilkan merupakan dari sudut pandang pemain. Para aktor dibekali kamera yang menempel di tubuhnya masing-masing.
Baca Juga: Jika Anda Selalu Dimintai Dukungan Orang Lain, Anda Mungkin Memiliki 7 Sifat Ini Menurut Psikologi
Terlibat di film tersebut memberikan pengalaman baru bagi Diandra Agatha. Untuk kali pertama, dia syuting film yang mengusung konsep found footage. Diandra menyatakan, banyak tantangan yang dihadapi selama proses produksi berlangsung.
Mulai dari menjiwai karakter hingga syuting sembari menahan berat beban rigging kamera. Tuntutan yang double itu diakui membuatnya jadi lebih sulit berkonsentrasi menghidupkan karakter Arum.
“Karena jadi pecah fokus. Di saat yang sama harus jaga emosi dan intensitas di setiap dialog atau scene, tapi juga harus aware dengan apa yang ditangkap kamera masing-masing,” kata Diandra saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan.
Penggunaan rigging kamera diakui sangat membatasi ruang geraknya. Apalagi, beratnya mencapai beberapa kilogram. Diandra juga mesti meningkatkan radar kewaspadaan agar kamera yang dibawanya tidak mengenai pemain lain.
“Aku juga harus sadar posisi mukaku dan muka lawan mainku, cara gerak pun nggak bisa asal dan nggak leluasa. Karena bisa nabrak satu sama lain, jadi awareness-nya harus ekstra,” papar Diandra.
Beruntung seluruh proses syuting berjalan dengan lancar dan aman. Sebab, rigging yang digunakan juga sudah disesuaikan dengan postur tubuh masing-masing para aktor.
Baca Juga: Agensi Konfirmasi IU dan Lee Jong Suk Putus, Fokus pada Karier Masing-Masing
“Kalau ada yang ganjal atau kurang nyaman, pasti langsung di adjust. Makanya kami nggak bisa gonta-ganti rigging karena udah sesuai sama cetakan badan masing-masing,” papar Diandra.
Film tersebut juga dibintangi Saputra Kori, Elang El Gibran, Lea Ciarachel, Jang Han-Sol, Aylena Fusil, dan lainnya.