← Beranda
Lagu Sunda 'Lalaki Langit' Om Zein Viral, Atalia Praratya Kritik Keras Bupati Purwakarta
KuswandiKamis, 2 Juli 2026 | 18.13 WIB
Atalia Praratya. (ANTARA/Rubby Jovan)

JawaPos.com - Anggota DPR RI Komisi VIII, Atalia Praratya, melayangkan kritik tajam terhadap karya Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein. Lagu berbahasa Sunda berjudul "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" tersebut mendadak viral dan menuai sorotan tajam karena dinilai memuat lirik yang merendahkan perempuan.

Jagat media sosial belakangan ini diramaikan oleh perdebatan mengenai lirik lagu tersebut. Sejumlah pihak menilai isi lagu karya kepala daerah ini bukan sekadar lelucon biasa, melainkan sudah menyentuh ranah biologis perempuan yang mengarah pada bias gender dan stereotip negatif.

Dinilai Angkat Narasi Patriarkal

Melalui akun Instagram pribadinya, Atalia Praratya mengungkapkan kekecewaannya secara terbuka. Ia mengaku tidak habis pikir mengapa narasi yang menyudutkan perempuan justru lahir dari seorang pemimpin daerah.

"Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," tulis Atalia lewat akun @ataliapr dikutip Kamis (2/7).

Atalia menyayangkan pemilihan diksi dalam lagu tersebut. Menurutnya, bahasa Sunda memiliki kekayaan kosakata yang indah dan penuh pesan moral, namun justru sudut pandang patriarkal yang sengaja ditonjolkan.

Menyinggung Nilai Luhur Budaya Sunda

Lebih lanjut, legislator yang membidangi isu perempuan dan anak ini menegaskan bahwa karya tersebut sangat bertolak belakang dengan filosofi hidup masyarakat Jawa Barat. Budaya Sunda yang luhur, menurut Atalia, seharusnya saling menghargai, bukan memojokkan satu gender.

"Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi," tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa esensi kebudayaan Sunda tidak pernah melegalkan penolakan atau ejekan terhadap kodrat seorang wanita.

"Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," lanjut Atalia.

Tantangan Penghapusan Bias Gender

Kritik ini menjadi refleksi mendalam di tengah perjuangan berbagai elemen masyarakat dalam mengikis budaya patriarki di Indonesia. Kehadiran lagu ini dinilai menjadi langkah mundur, terlebih karena dirilis oleh seorang pejabat publik yang memegang otoritas wilayah.

"Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?," imbuh Atalia.

Klarifikasi Bupati Purwakarta

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein akhirnya memberikan klarifikasi. Ia membantah anggapan bahwa lagu tersebut diciptakan untuk menyudutkan atau menyinggung kelompok tertentu, khususnya kaum perempuan.

Ia menceritakan, karya berbentuk puisi dan lagu itu sebenarnya sudah ditulis sejak beberapa tahun silam sebagai cerminan pribadi.

"Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal," ujar Om Zein dalam keterangan resminya.

Menurutnya, lirik lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat, adalah bentuk kejujuran atas ketidaksempurnaan dirinya di masa lalu. Ia memandang karya ini sebagai medium kontemplasi spiritual dan emosional atas perjalanan hidupnya.

"Saya bersyukur Tuhan menciptakan saya jadi lelaki. Mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan, terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa menjaga diri," tambahnya.

Meski begitu, ia menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas kegaduhan dan ketidaknyamanan yang sempat timbul akibat viralnya lagu tersebut.

"Saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri," tegas Bupati Purwakarta ini.

 

EDITOR: Kuswandi