JawaPos.com - Industri film Indonesia bersiap memasuki fase baru dengan hadirnya Show Token yang menargetkan pendanaan produksi lebih dari 30 judul film sepanjang tahun ini. Proyek tersebut menjadi bagian dari strategi membangun ekosistem hiburan berbasis teknologi blockchain dan kecerdasan buatan (AI) untuk membuka peluang lebih besar bagi kreator lokal.
Show Token hadir dengan visi mengubah cara industri hiburan berjalan, terutama dalam mengatasi salah satu tantangan terbesar perfilman nasional, yaitu keterbatasan akses modal dan distribusi global. Melalui konsep Web3, platform ini ingin menghubungkan kreator, investor, dan penonton dalam satu ekosistem digital.
Mengusung tagline “Bridging Crypto and Entertainment: Invest Beyond the Screen”, Show Token membidik generasi muda yang aktif di dunia digital. Ekosistem ini dirancang melalui beberapa pilar utama, mulai dari SHOW Movie dengan konsep watch & earn, SHOW AI & Marketplace sebagai ruang produksi konten berbasis teknologi, hingga SHOW KIDS yang mengembangkan IP animasi dengan mengangkat budaya lokal.
CEO Show Token Akshay Melwani mengatakan, Indonesia memiliki potensi cerita yang sangat besar, namun masih menghadapi tantangan untuk menembus pasar internasional. Menurutnya, teknologi digital dapat menjadi jembatan agar karya kreator Indonesia lebih mudah dikenal dunia.
Baca Juga: Gendong Buah Hati, Via Vallen Tiba-tiba Terjatuh dari Tangga
“Indonesia memiliki kekayaan narasi yang luar biasa, namun sering kali langkah kita terhenti di pasar domestik karena keterbatasan infrastruktur global. Di Show, kami membangun ekosistem digital baru agar karya anak bangsa dapat langsung diakses, dimiliki, dan diapresiasi dunia,” ujar Akshay dalam keterangannya.
Sebelum memperluas pasar di Indonesia melalui Mobee, Show Token telah lebih dulu memperkuat eksistensinya di ranah global dengan tercatat di sejumlah bursa aset kripto internasional seperti Toobit dan Bitconomy. Ke depan, proyek ini juga menyiapkan ekspansi ke berbagai platform global lainnya.
Secara teknologi, Show Token berjalan menggunakan jaringan Ethereum ERC-20 yang menjadi salah satu infrastruktur blockchain paling banyak digunakan. Sistem tersebut mendukung transaksi digital, keamanan aset, serta penggunaan smart contract dalam ekosistemnya. Total pasokan token juga dibatasi hingga 100 juta token untuk menjaga struktur ekonominya.
Tidak hanya fokus pada aset digital, Show Token mulai mengarahkan investasi ke produksi film nyata. Dengan komitmen pendanaan senilai 100 juta dolar AS untuk kawasan Asia Tenggara, perusahaan ini ingin memperkuat sektor ekonomi kreatif sekaligus mempercepat produksi konten hiburan.
Pada Juni 2026, Show Token memulai langkahnya di industri perfilman Indonesia sebagai Executive Producer melalui kolaborasi dengan MVP Pictures lewat film horor “Cerita Lila”. Film tersebut berhasil menarik 500 ribu penonton pada pekan pertama penayangan, dan akan dilanjutkan dengan proyek berikutnya, “Sihir Tanah Kubur”, yang dijadwalkan tayang Juli mendatang.
Target produksi tersebut akan berlanjut dengan pendanaan untuk lebih dari 30 film bergenre horor dan drama sepanjang tahun 2026 ini. Sejumlah judul yang masuk dalam rencana pengembangan antara lain “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati”, “Taboo”, “Siti Vampire”, dan “Sebelum Tiga Puluh” melalui kerja sama dengan sejumlah rumah produksi dan melibatkan studio lokal dan internasional.
Baca Juga: Mufli Budi Ananda Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris, PT Krakatau Posco Perusahaan Apa?
Melalui konsep ini, pemegang token tidak hanya berperan sebagai investor digital, tapi juga mendapatkan akses ke berbagai pengalaman dalam industri film. Mulai dari kesempatan mendukung pendanaan produksi, akses eksklusif di balik layar, gala premiere, tiket film, hingga potensi keuntungan berbasis pendapatan proyek.
"Target investasi seratus juta dolar kami di Asia Tenggara bukan sekadar tentang angka pertumbuhan, melainkan tentang membangun arsitektur baru bagi ekonomi kreatif digital. Kami memandang Indonesia bukan sebagai pasar konsumtif, melainkan sebagai episentrum talenta yang selama ini kekurangan likuiditas dan sistem distribusi yang efisien. Kami hadir untuk menyelesaikan inefisiensi itu," ungkapnya.