← Beranda
Melalui Gerakan PMK, Leak Ajak Perangi Korupsi
AdministratorSabtu, 9 Desember 2017 | 20.00 WIB
LAWAN RASUAH: Dari kiri, Brendan Satria, Sosiawan Leak, Jan Praba, dan Mike Marjinal.

JawaPos.com - Sastrawan dan Budayawan Sosiawan Leak konsisten dengan idealismenya melawan korupsi. Gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK) yang dia gagas sejak Mei 2013 bersama Heru Mugiarso (Penyair Semarang) kini telah menerbitkan sejumlah antologi puisi, merangkum karya para penyair dari berbagai daerah, usia, dan kecenderungan puitika yang berbeda dengan tema yang sama, yakni menolak korupsi.


“Saya tidak membela KPK, saya tidak membela kehakiman, polisi, maupun kejaksaan di dalam kasus-kasus korupsi. Tapi saya memberikan perlawanan terhadap tindakan korupsi,” tegas Leak pada wawancara telepon dengan JawaPos.com Jumat, (8/12).


Sejak duduk di bangku mahasiswa, alumni Universitas Sebelas Maret, Solo itu memang giat mengampanyekan gagasan melawan korupsi melalui tulisan-tulisannya. Belakangan, bersama dengan Heru Mugiarso, mereka melakukan kampanye antikorupsi bertajuk Road Show PMK ke berbagai wilayah di Indonesia dalam wujud pembacaan puisi, pentas seni (teater, musik, tari, sulap, pagelaran tradisi), stand up komedi, seminar, diskusi, orasi, lomba baca puisi, cipta puisi dan lain-lain.


“Di Undang-Undang kan disebutkan bahwa seluruh warga negara wajib melakukan pencegahan dan penolakan terhadap kasus korupsi. Saya dan teman-teman di PMK adalah orang-orang yang aktif melawan korupsi melalui karya-karya yang ditulis dalam sejumlah antologi puisi dan esai. Namun, ada juga teman-teman lain yang terlibat, tapi tidak menulis, melainkan membuat acara tertentu dan aktif melawan korupsi.” Jelasnya.


Terdapat enam antologi puisi dan dua antologi esai yang sudah cetak. Buku antologi tersebut berisi karya teman-teman yang tergabung di gerakan PMK dan telah melalui proses kurasi. Karya dipilih melalui tiga kriteria, yakni, bertema anti korupsi dengan sudut pandang yang khas, komunikatif, memiliki nilai estetika, dan mengedukasi soal anti korupsi.


Karya-karya tersebut, kemudian diterbitkan berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan fenomena yang terjadi di masyarakat. Dalam setahun, bisa dua atau tiga kali terbit, tergantung dengan kebutuhan dan kemampuan iuran anggota.


Leak menjelaskan, buku-buku tersebut diterbitkan dengan iuran sukarela anggota. Buku-buku yang telah diterbitkan tidak dijual di pasaran, kecuali buku kumpulan esai yang terakhir yang diterbitkan oleh penerbit mayor, kelompok Instrans Publishing, Malang.


“Jika ingin baca ya menghubungi penulisnya, karena buku dicetak sesuai dengan jumlah iuran masing-masing penyair. Setelah terbit, buku itu diberikan ke penulis, untuk selanjutnya,ada yang dihibahkan kepada perpusakaan daerah atau organisasinya sesuai dengan keinginan penulis.



Buku-buku yang telah terbit tersebut diantaranya;



1. Puisi Menolak Korupsi (memuat 308 puisi karya 85 penyair, Penerbit Forum Sastra Surakarta, Mei 2013),



2. Puisi Menolak Korupsi 2a (memuat 298 puisi karya 99 penyair, Penerbit Forum Sastra Surakarta, September 2013),



3. Puisi Menolak Korupsi 2b (memuat 297 puisi karya 98 penyair, Penerbit Forum Sastra Surakarta, September 2013),



4. Puisi Menolak Korupsi 3; Pelajar Indonesia Menggugat (memuat 358 puisi karya 286 pelajar, Penerbit Forum Sastra Surakarta, April 2014),



5. Puisi Menolak Korupsi 4; Ensiklopegila Koruptor! (memuat 271 puisi karya 175 penyair, Penerbit Forum Sastra Surakarta, Mei 2015),


6. Puisi Menolak Korupsi 5; Perempuan Menentang Korupsi! (memuat 177 puisi karya 100 perempuan penyair, Penerbit Forum Sastra Surakarta, Agustus 2015),


7. dan Puisi Menolak Korupsi 6; Membedah Korupsi Kepala Daerah! (memuat 233 puisi karya 200 penyair, Penerbit Forum Sastra Surakarta, Juni 2017).


Di samping itu, gerakan ini juga telah menerbitkan buku kumpulan tulisan (esai, reportase, dan laporan road show) berjudul Bunga Rampai PMK; Bergerak dengan Nurani (memuat 73 tulisan karya 69 penulis, Penerbit Forum Sastra Surakarta, Maret 2017), serta kumpulan esai KATA TIDAK SEKEDAR MELAWAN (memuat 21 esai karya 21 penulis, Penerbit Beranda, Kelompok Instrans Publishing, Malang, 2017).


“Mulai dari buku keempat (Puisi Menolak Korupsi 3; Pelajar Indonesia Menggugat) sudah ada sub-temanya, hal tersebut berarti, di sekitar waktu penerbitan buku itu terdapat fenomena korupsi yang erat kaitannya dengan judul. Misalnya, pada Ensiklopegila Koruptor, pada masa itu banyak korupsi gila-gilaan menyangkut modus operandi, besaran atau jumlah harta jarahan, dan obyek korupsinya, korupsi penerbitan kitab suci Al-quran. Lalu di Perempuan Menentang Korupsi! Masih ingat soal bidadari-bidadari Ahmad Fathanah yang menerima aliran dana kasus suap daging sapi?"


Di tengah usahanya menolak korupsi, Sosiawan Leak ternyata sempat pesimis melihat penegakkan kasus-kasus korupsi. Menurutnya, makna hari anti korupsi internasional yang jatuh pada tanggal 9 Desember nanti pemberantasan korupsi masih jauh dari harapan. Terutama, dikalangan pemegang kekuasaan dan pemegang jabatan politik.


“Kalangan parpol (partai politik) dan penguasa serta politisi yang punya jabatan, masih ada di atas angin dibandingkan dengan yang melakukan pencegahan dan perlawanan terhadap tindakan korupsi. Kita masih dipertontonkan oleh arogansi kekuasaan atas nama hukum formal, undang-undang dan hak asasi manusia dalam rangka melawan penegakkan anti korupsi. Jadi, saya kok masih pesimis sampai sekarang, karena situasi yang seperti itu. Dari satu sisi pesimis bahkan bisa jadi membuat frustasi, tapi di sisi lain justru semakin membangkitkan gairah untuk melakukan perlawanan."


Berdasarkan semangat untuk terus melakukan perlawanan tersebut, Leak berpikir bahwa jalan pemberantasan korupsi masih panjang. Posisinya masih jauh untuk sampai kepada situasi atau keadaan yang adil di masyarakat.


“Siapapun yang melakukan perlawanan terhadap korupsi berarti memiliki ideologi yang sama. Entah itu yang berasal dari struktur pemerintahan secara formal (Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, KPK, dan lainnya) maupun yang berasal dari luar sistem kekuasaan. Bedanya, mereka yang berasal dari struktur kekuasaan didukung oleh fasilitas aturan dan anggaran formal. Sedangkan kita di gerakan PMK tidak, karena hanya rakyat biasa.” Tutupnya.





Baca juga berita mengenai Hari Antikorupsi Internasional di:


Tekad Bebaskan Negara dari Korupsi

EDITOR: Administrator