← Beranda
Data Cuaca dan Gempa Diperkuat, Sistem Peringatan Dini Bencana Didorong Lebih Akurat
Rian Alfianto• Sabtu, 26 September 2026 | 00.52 WIB
BMKG dan NHSE kerja sama perkuat data cuaca dan kegempaan di PLTA Batangtoru. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Penguatan data cuaca, curah hujan, dan kegempaan menjadi salah satu langkah yang didorong untuk meningkatkan pemantauan risiko bencana. 

Pertukaran data antarlembaga juga dinilai penting agar informasi mengenai kondisi lingkungan dan potensi bencana dapat lebih cepat dimanfaatkan untuk kebutuhan mitigasi maupun masyarakat.

Upaya tersebut kini mencakup pemanfaatan data meteorologi, klimatologi, dan geofisika secara lebih terintegrasi.

Baca Juga: Konflik Geopolitik Jadi Pemicu Percepatan Energi Terbarukan di 6 Negara Asia Tenggara

Selain data cuaca dan hujan, pemantauan aktivitas kegempaan menjadi perhatian karena informasi tersebut dapat membantu mengetahui kondisi serta potensi risiko di suatu kawasan.

Kerja sama pemanfaatan data ini dilakukan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) bersama Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah I melalui perjanjian kerja sama selama tiga tahun.

Kolaborasi tersebut mencakup pertukaran data yang dibutuhkan masing-masing pihak.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Variatif Usai Serangan Rudal Houthi di Arab Saudi, Brent Tembus USD 106

Data BMKG akan mendukung kebutuhan pemantauan kondisi klimatologi, meteorologi, dan geofisika.

Sementara data yang dimiliki NSHE dapat dimanfaatkan untuk mendukung layanan informasi kepada masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan kebencanaan.

Manager Project Design PT NSHE Arwan Kahfi mengatakan, kerja sama itu telah direncanakan sebelumnya dan diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

“Kerja sama ini sudah lama direncanakan. Harapannya, kedua pihak bisa saling mendukung dan memberikan manfaat, terutama dalam hal informasi yang nantinya bisa disampaikan kepada masyarakat. Informasi tersebut juga berkaitan dengan mitigasi, khususnya informasi kebencanaan,” ujar Kahfi melalui keterangannya. 

Pemantauan Gempa Jadi Salah Satu Fokus

Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam kerja sama tersebut adalah pemantauan kondisi kegempaan.

BMKG menyebut pemantauan dapat diperkuat melalui pemasangan sensor mikroseismik untuk memperoleh informasi mengenai besaran guncangan dan risiko ketika terjadi gempa.

Baca Juga: Pastikan Stok Avtur Aman di Wilayah Sumbagut, AFT Kualanamu Mampu Tampung 30 Ribu Kilo Liter

Kepala Balai BMKG Wilayah I Hendro Nugroho mengatakan, kebutuhan data yang diperlukan mencakup aspek klimatologi, meteorologi, dan geofisika.

“NSHE membutuhkan data klimatologi, meteorologi dan geofisika. Untuk data geofisika, salah satunya berkaitan dengan kondisi kegempaan. Nanti juga ada pemasangan sensor mikroseismik untuk mengetahui besaran guncangan dan risikonya apabila terjadi gempa,” jelas Hendro.

Selain kegempaan, parameter cuaca seperti curah hujan dan kelembapan juga menjadi bagian dari data yang dibutuhkan.

Baca Juga: Gali Potensi Karbon 600 Gigaton, JDS dan ITB Siapkan SDM Transisi Energi

Informasi tersebut dapat digunakan untuk mendukung pengelolaan dan pengoperasian fasilitas bendungan.

Dalam konteks ini, penguatan sistem pengamatan menjadi penting karena kondisi cuaca dan hujan dapat berubah dalam waktu relatif cepat.

Ketersediaan data dari lebih banyak titik pengamatan dapat membantu menghasilkan gambaran kondisi wilayah yang lebih lengkap.

Baca Juga: Teknologi WTE Mulai Didorong di Indonesia, Sampah Bisa Jadi Energi

Kerja sama tersebut juga membuka peluang pengembangan perangkat observasi cuaca yang dapat digunakan bersama.

BMKG menyebut pengembangan pos hujan serta perangkat pengamatan seperti Automatic Weather Station (AWS) dan Automatic Rain Gauge (ARG) dapat menjadi bagian dari kolaborasi berikutnya.

Penambahan titik pengamatan diharapkan dapat memperkaya ketersediaan data cuaca di wilayah terkait.

Data tersebut nantinya dapat mendukung layanan informasi kepada masyarakat, termasuk ketika terdapat potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir.

Baca Juga: Sentil Inovasi Canggih Tapi 'Zonk', OJK Buka-bukaan Soal Nasib Kripto hingga Stablecoin

Dari sisi mitigasi, NSHE juga telah memiliki Flood Early Warning System (FEWS) sebagai perangkat untuk mendeteksi potensi kondisi darurat di sekitar area bendungan dan aliran fasilitas pembangkit listrik tenaga air yang dikelolanya.

Pertukaran data dengan BMKG dapat melengkapi kebutuhan pemantauan tersebut. Informasi yang berasal dari berbagai perangkat pengamatan dapat menjadi bagian dari proses analisis kondisi cuaca dan lingkungan di kawasan terkait.

Tak Sekadar Pertukaran Data

BMKG berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada kegiatan pertukaran data.

Baca Juga: Kementerian ESDM Pastikan Elektrifikasi Rumah Tangga Tuntas Pada 2029

Kolaborasi juga diarahkan untuk menghasilkan inovasi dalam penanganan bencana, pengembangan prakiraan cuaca, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

“Harapannya kerja sama ini tidak berhenti pada kegiatan formal, tetapi bisa menghasilkan inovasi. Kita juga sepakat bahwa NSHE dapat mendukung penanganan bencana, pengembangan forecasting, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia,” kata Hendro.

Kerja sama tersebut juga berpotensi menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam pengembangan kemampuan prakiraan cuaca.

Baca Juga: Hari Tani Nasional, Dari Energi Terbarukan, Tumbuh Pangan dan Kemandirian Petani

Hendro menyebut peluang pertukaran pengetahuan antara Indonesia dan Tiongkok dapat menjadi bagian dari pengembangan kerja sama ke depan.

NSHE berharap, data yang dimiliki perusahaan juga diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas ketika diintegrasikan dengan layanan informasi BMKG.

Dengan penguatan pertukaran data, penambahan titik observasi, dan pengembangan perangkat pemantauan, informasi mengenai cuaca, hujan, serta kegempaan diharapkan dapat menjadi salah satu fondasi dalam memperkuat mitigasi risiko dan penyediaan informasi kebencanaan bagi masyarakat.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah