JawaPos.com - PT Pertamina Patra Niaga (PPN) menargetkan dapat melaksanakan proses tender atau Engineering, Procurement, and Construction (EPC) proyek Biorefinery Cilacap Fase 2 pada tahun 2027.
Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga, Hermawan Budiantoro menjelaskan, Biorefinery Cilacap Fase 2 didedikasikan untuk 100 persen memproduksi biofuel.
Kilang ini akan memproduksi bahan bakar ramah lingkungan skala besar guna memperkuat kemandirian energi hijau serta penyediaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) nasional.
"Saat ini masih dalam tahap engineering (FEED), yang nantinya akan ditenderkan. Sudah mulai kemarin licensor dan EPC konstruksinya. Harapannya nanti bisa konstruksi mulai tahun ini. Mudah-mudahan nanti di 2029 sudah mulai berproduksi," kata Hermawan di sela kegiatan Pertamax Journey 2026, di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (10/9).
Biorefinery Cilacap Fase 2 akan didirikan di lahan seluas 17,5 hektare (Ha), dan diperkirakan menelan investasi sekitar USD 1,1 miliar atau sebesar lebih kurang Rp 19 triliun.
Biorefinery Cilacap Fase 2 dirancang untuk mengolah bahan baku berbasis nabati serta limbah ramah lingkungan. Diantaranya yaitu minyak goreng bekas atau minyak jelantah (mijel)/used cooking oil (UCO), crude palm oil (CPO), serta palm oil mill effluent (POME).
Adapun kapasitas Biorefinery Cilacap Fase 2 didesain mencapai 6.000 barel per hari (bph), dan ditargetkan mampu memproduksi SAF sekitar 232.000 ton per tahun.
Baca Juga: Setelah Green Refinery Cilacap, KPI Bakal Genjot Bisnis Low Carbon di Kilang Dumai dan Balongan
Untuk saat ini, proses produksi SAF berbahan UCO di RU IV Cilacap masih dilakukan di unit Treated Distillate Hydrotreating (TDHT). Produk Pertamina SAF telah memenuhi standar internasional ASTM D1655 dan Def Stan 91-091.
Pencapaian ini menjadikan Pertamina SAF sebagai produk SAF pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang bersertifikat resmi. Untuk tahap awal, kapasitas produksi ditargetkan sebesar 9 metric barrel dengan komposisi 2–3 persen UCO.
"Saat ini produksi (SAF di TDHT) terbatas. Sehingga kedepan kita ada rencana pembangunan biorefinery yang nanti (bahan bakunya) akan dikumpulkan sebagian dari perusahaan atau masyarakat," jelas Hermawan.
Untuk saat ini, proses produksi SAF berbahan UCO di RU IV Cilacap masih dilakukan di unit Treated Distillate Hydrotreating (TDHT). Produk Pertamina SAF telah memenuhi standar internasional ASTM D1655 dan Def Stan 91-091.
Pencapaian ini menjadikan Pertamina SAF sebagai produk SAF pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang bersertifikat resmi. Untuk tahap awal, kapasitas produksi ditargetkan sebesar 9 metric barrel dengan komposisi 2–3 persen UCO.
"Saat ini produksi (SAF di TDHT) terbatas. Sehingga kedepan kita ada rencana pembangunan biorefinery yang nanti (bahan bakunya) akan dikumpulkan sebagian dari perusahaan atau masyarakat," jelas Hermawan.
Saat Biorefinery Cilacap onstream pada 2029 nanti, diperkirakan kebutuhan UCO mencapai sekitar 318.000 ton per tahun. Guna memenuhi kebutuhan bahan baku ini, Pertamina menggunakan skema Business to Customer (B2C) serta Business to Business (B2B).
Baca Juga: Kembangkan Ekosistem EV, Pertamina Patra Niaga Ajak Produsen Mobil Listrik Bangun Charging Station
Pada skema B2C, UCO diperoleh dari masyarakat, komunitas, dan perwira Pertamina. Adapun skema B2B yang sudah berjalan saat ini diantaranya yaitu UCO Collection Box dan Noovoleum.
Sementara itu, pada skema B2B, UCO dikumpulkan dari SPPG, horeka (hotel, restoran, kafe), serta KDMP dan perusahaan pengumpul mijel lainnya.