← Beranda
Prabowo Targetkan Lifting 610 Ribu Barel per Hari, 3 Strategi Kementerian ESDM Dianggap Tepat
Sabik Aji TaufanSelasa, 18 Agustus 2026 | 15.31 WIB
ILUSTRASI: Pengeboran minyak mentah dunia. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Strategi Kementerian ESDM dinilai mampu mewujudkan target Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai lifting 610 ribu barel per hari (bph) pada 2027. Target ini juga sebagai daya tawar Indonesia dinpasar global.

Pakar Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (Unpad) Bonti Wiradinata mengatakan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sudah menerapkan  percepatan eksplorasi, optimalisasi lapangan eksisting, serta perbaikan iklim investasi. Langkah ini bisa memperkuat ketahanan energi nasional.

“Target 610.000 barel per hari pada RAPBN 2027 memiliki fungsi sebagai pertahanan dasar (defensive baseline) untuk menjaga daya tawar (bargaining power) Indonesia di tengah volatilitas pasar global,” kata Bonti saat dihubungi, Selasa (18/8).

Menurut Bonti, arah kebijakan Kementerian ESDM dengan melakukan percepatan eksplorasi greenfield, optimalisasi lapangan eksisting dengan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR), serta perbaikan iklim investasi merupakan kombinasi kebijakan yang tepat untuk menjawab persoalan penurunan produksi minyak nasional.

Baca Juga: Rupiah Berpotensi Menguat Hari Ini, Sentimen Ekonomi AS dan Intervensi BI Jadi Penentu

“Dari sudut pandang kebijakan publik, kombinasi tiga strategi tersebut dinilai tepat sasaran karena mengadopsi pendekatan tritunggal intervensi kebijakan, intervensi jangka pendek, jangka panjang, dan penyediaan fasilitas fiskal, untuk menyelesaikan akar masalah penurunan produksi hulu migas,” imbuhnya.

Bonti menuturkan, mayoritas lapangan minyak Indonesia berusia tua sehingga mengalami penurunan alamiah. Dengan optimalisasi lapangan eksisting diharapkan bisa menjadi solusi jangka pendek dan menengah.

Sedangkan eksplorasi wilayah baru dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan cadangan dan produksi dalam jangka panjang.

Perbaikan iklim investasi menjadi instrumen penting mengingat eksplorasi hulu migas membutuhkan modal besar dan memiliki risiko tinggi. Insentif fiskal, fleksibilitas skema kontrak hingga pemangkasan perizinan dapat meningkatkan daya tarik investasi hulu migas Indonesia.

“Penerimaan negara dari migas dapat difungsikan untuk menjaga stabilitas makroekonomi Indonesia sekaligus mendanai infrastruktur energi terbarukan. Dan bila dikelola dengan baik, ini akan sangat menjanjikan dan prospektif,” jelasnya.

Sementara itu, Pakar Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengatakan, target 610 ribu barel per hari memang menuai tantangan. Sebab, kondisi cadangan minyak nasional dan usia lapangan sudah memasuki usia matang.

Tren historis nasional menunjukan kemampuan produksi minyak nasional sebanyak 600 ribu barel per hari dan cenderung menurun. Oleh karena itu, mempertahankan produksi minyak membutuhkan kerja ekstra. 

Baca Juga: BEM UI Demo, Pemprov DKI Minta Pekerja WFH dan Sekolah Jarah Jauh

“Selama setahun memang berbagai upaya dilakukan secara mati-matian. Misalnya penggunaan teknologi dalam eksplorasi, kemudian memanfaatkan sumur-sumur tua, dan juga mendorong sumur rakyat,” kata Fahmy.

Menurut Fahmy, keberlanjutan berbagai langkah tersebut menjadi penting agar produksi yang telah dicapai dapat dipertahankan. Karena itu, upaya optimalisasi produksi perlu dilakukan secara konsisten di tengah tantangan penurunan alamiah lapangan minyak.

“Kalau upaya-upaya yang pernah dilakukan tadi tidak dilanjutkan, saya kira akan sulit untuk mencapai peningkatan atau bahkan mempertahankan produksi sekitar 608 ribu barel per hari,” pungkasnya.

EDITOR: Sabik Aji Taufan