← Beranda
Rp 170 Triliun Tak Lagi Dipakai Impor Solar, B50 Dianggap Berhasil Menghemat Devisa Negara
Sabik Aji TaufanMinggu, 16 Agustus 2026 | 16.23 WIB
Penghematan devisa diperkirakan meningkat dari Rp 133,3 triliun pada B40 menjadi Rp 170 triliun pada B50.

 

JawaPos.com - Kebijakan Biodiesel B50 dianggap berhasil menghemat pengeluaran devisa negara. Dana Rp 170 triliun yang biasanya dipakai untuk impor solar kini bisa dialihkan untuk kepentingan lain.

“Sebagian besar devisa kita habis untuk impor BBM dan bayar utang. Sekarang kalau BBM itu, solar tidak impor lagi, yang Rp 170 triliun itu devisa hemat besar sekali. Jadi B50 ini sangat menghemat devisa. Devisa kita tidak terkuras oleh impor BBM lagi. Ada impor BBM, tapi sudah bukan solar,” kata Ekonom Universitas Negeri Manado (Unima) Robert Winerungan saat dihubungi, Minggu (16/8).

Alokasi anggaran impor solar tersebut bisa dimanfaatkan untuk memperkuat teknologi. Dengan harapan bisa meningkatkan produktivitas dan menekan biaya produksi.

Pemanfaatan sawit sebagai sumber utama B50 juga memberikan kepastian kepada petani sawit dalam menjual produknya. Dengan begitu, harga sawit lebih stabil.

Baca Juga: Gempa NTT: Prabowo Utus Rombongan Menteri dan Wamensos Bawa Bantuan Rp 4,5 M

“Itu spektakuler. Jadi intinya peran besar untuk BBM yang tidak impor lagi itu, devisa bisa dipakai untuk alih teknologi. Akan lebih maju lagi Indonesia kita. Jadi devisa tidak terkuras dan kalau devisa itu terpakai untuk alih teknologi, itu akan membuat Indonesia kita lebih maju lagi,” imbuhnya.

Sementara, Pakar Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti menambahkan, industri sawit banyak menyediakam tenaga kerja. Dengan pemanfaatan sawit yang kian masif maka membuat industri lebih stabil dan para pekerja meningkat kesejahterannya.

Yayan menilai peningkatan penggunaan biodiesel hingga B50 perlu dibarengi dengan penguatan ekosistem pendukung. Pasalnya, peningkatan porsi biodiesel turut meningkatkan kebutuhan bahan baku. Karena itu, peningkatan produktivitas kebun sawit rakyat, diversifikasi bahan baku, serta penguatan pembiayaan menjadi penting agar B50 dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Perbaiki pungutan dan pasang katup pengaman campuran sekarang, diversifikasi ke bahan baku limbah sembari melindungi pangan melalui Harga Eceran Tertinggi alih-alih kuota ekspor, dan mulai menaikkan produktivitas perkebunan rakyat segera, maka B50 menjadi kemenangan ketahanan energi yang benar-benar mampu ditanggung Indonesia, baik secara fiskal maupun lingkungan,” tandas Yayan. 

EDITOR: Sabik Aji Taufan