JawaPos.com - Presiden Prabowo Subianto, berencana akan mempercepat penghengtian operasional sejumlah pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di Indonesia.
Untuk menggantikan posisi PLTD, pemerintah akan membangun setidaknya 100 GW pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di sejumlah wilayah di Indonesia.
“Tahun ini kita akan membangun 30 gigawatt pembangkit listrik tenaga surya dan segera menghentikan 13 gigawatt pembangkit listrik tenaga diesel,” ujar Prabowo dalam Rapat Paripurna dengan DPR RI, Jakarta, Jumat (14/8).
Prabowo mengatakan, upaya tersebut dilakukan karena Indonesia mendapat anugerah berupa sinar matahari yang bersinar sepanjang tahun. Menurutnya, kondisi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik, terutama di wilayah kepulauan dan daerah terpencil.
Dia menilai, ketergantungan pulau-pulau terpencil terhadap pengiriman BBM solar melalui kapal untuk memenuhi kebutuhan listrik tidak efisien secara ekonomi.
“Kita mendapat anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa sinar matahari hampir sepanjang tahun. Tidak masuk akal jika pulau-pulau kita terus menunggu kapal pembawa BBM solar untuk memperoleh listrik,” ujarnya.
Selain itu, Prabowo mengungkapkan gagasan agar setiap desa di Indonesia dapat memiliki pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas 1 megawatt (MW).
Menurut dia, skema tersebut dapat direalisasikan apabila pemerintah desa bersedia menyiapkan lahan yang dibutuhkan untuk pembangunan PLTS.
“Idealnya setiap desa bisa memiliki PLTS 1 megawatt. Ini ideal. Kalau desa itu mau siapkan lahan, kita bisa yakinkan bahwa mereka bisa dapatkan PLTS 1 megawatt, satu desa,” ungkapnya.
Prabowo mengatakan, dengan mengembangkan PLTS hingga 100 GW berpotensi menghemat biaya produksi listrik hingga Rp 73,9 triliun per tahun.
Hal tersebut jadi lebih besar manfaatnya karena belum termasuk perhitungan mengenai potensi berkurangnya kebutuhan impor BBM dari luar negeri.
“Dengan 100 GW kebutuhan impor kita akan jauh berkurang dan kita bisa menghemat sangat banyak devisa,” ungkapnya.