← Beranda
Autoclave HPAL Terbesar di Dunia Mulai Dipasang di Morowali, Perkuat Hilirisasi Nikel Indonesia
Nanda PrayogaJumat, 24 Juli 2026 | 06.55 WIB
Chairman GEM Co., Ltd., Professor Xu Kaihua (kedua dari kiri), didampingi Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia, Yoon Soon-gu, CEO EcoPro, Lee Dong-chae (paling kiri), serta jajaran pemerintah dan pemangku kepentingan melakukan peninjauan lapangan di area pembangunan proyek BNSI usai peresmian pemasangan Autoclave HPAL di Morowali, Sulawesi Tengah, Rabu (22/7). (Dok. GEM)

 

JawaPos.com - Proyek pengolahan nikel PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) memasuki fase penting dengan dimulainya pemasangan Autoclave High Pressure Acid Leach (HPAL) generasi terbaru di Morowali, Sulawesi Tengah. Peralatan berkapasitas 1.268 meter kubik tersebut diklaim menjadi autoclave terbesar yang pernah diterapkan pada fasilitas HPAL di dunia.

Pemasangan teknologi tersebut menjadi tonggak baru dalam pengembangan industri hilirisasi nikel nasional. Selain meningkatkan kapasitas pengolahan bijih nikel, teknologi HPAL generasi terbaru juga dirancang untuk meningkatkan efisiensi energi, menjaga stabilitas proses produksi, sekaligus menekan emisi operasional.

PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) merupakan perusahaan patungan antara EcoPro (Korea Selatan), GEM Co., Ltd. (Tiongkok), dan PT Vale Indonesia Tbk yang berlokasi di International Green Industrial Park (IGIP), Morowali, Sulawesi Tengah.

Dengan nilai investasi sekitar USD 1,845 miliar, proyek ini memiliki kapasitas produksi 90.000 ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik.

Baca Juga: Di Tengah Kekhawatiran AS, Jensen Huang Minta AI Open Source Tiongkok Dirangkul, Bukan Dilarang

Sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang juga telah memperoleh status Kawasan Berikat, BNSI diharapkan meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri baterai kendaraan listrik.

Penyelesaian konstruksi proyek ditargetkan rampung pada akhir 2026, sedangkan operasi komersial dijadwalkan dimulai pada kuartal pertama 2027.

Chairman GEM Co., Ltd., Professor Xu Kaihua, mengatakan pembangunan BNSI menjadi simbol kolaborasi strategis Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok dalam membangun ekosistem industri nikel rendah karbon yang terintegrasi.

“BNSI merupakan wujud kolaborasi strategis Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok dalam membangun kawasan industri nikel nol karbon pertama di dunia. Dengan menggabungkan sumber daya Indonesia, teknologi GEM, dan keunggulan industri baterai EcoPro, kami ingin mendukung percepatan transisi energi global,” ujar Professor Xu Kaihua.

Ia menambahkan, ketika mulai beroperasi nanti, BNSI diproyeksikan mampu menghasilkan nilai ekspor sekitar USD 1,5 miliar setiap tahun. Proyek tersebut juga diperkirakan menciptakan sekitar 5.000 lapangan kerja baru serta memasok bahan baku nikel yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 3 juta kendaraan listrik per tahun.

Bersama para mitranya, GEM juga berkomitmen mengembangkan IGIP menjadi kawasan industri hijau kelas dunia yang mengintegrasikan industri energi baru, manufaktur cerdas, ekonomi sirkular, hingga pusat inovasi teknologi metalurgi ramah lingkungan.

Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Kepala BPI Danantara Indonesia Rosan Roeslani menilai pembangunan BNSI mencerminkan transformasi hilirisasi Indonesia yang kini tidak lagi berhenti pada pengolahan bahan mentah, melainkan membangun rantai nilai industri baterai kendaraan listrik secara menyeluruh.

Baca Juga: Ancam Serang Infrastruktur Sipil Iran, Trump Dibalas Peringatan Keras Teheran

"Klaster industri hijau yang kita bangun dimulai dari HPAL sebagai gerbang pertama, kemudian berlanjut hingga nickel sulfate, precursor, cathode active material, dan baterai kendaraan listrik. Inilah transformasi Indonesia dalam menciptakan nilai tambah dan memperkuat daya saing industri nasional," kata Rosan.

Rosan menambahkan, sejak tahap perencanaan proyek ini telah mengedepankan prinsip keberlanjutan. Fasilitas HPAL dikembangkan menuju target Net Zero Emissions melalui pemanfaatan sistem waste heat recovery serta energi surya.

Di sisi lain, perusahaan juga telah merealisasikan investasi sosial sekitar USD 8,5 juta untuk masyarakat Sambalagi. Selain itu, BNSI membangun HPAL Research Center senilai USD 37 juta guna mendukung pengembangan teknologi, inovasi, serta talenta Indonesia di bidang metalurgi.

Melalui kolaborasi Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok, BNSI diharapkan menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat ekosistem industri baterai kendaraan listrik nasional.

Kehadiran proyek ini diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia dan memperkuat posisi dalam rantai pasok global, tetapi juga mendorong transfer teknologi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, serta mempercepat pengembangan industri hijau yang Tagging: Autoclave High Terbesar

EDITOR: Sabik Aji Taufan