← Beranda
Soal Ekspor Listrik ke Singapura, DPR Ingatkan Kepentingan Nasional Harus jadi Prioritas
Muhammad RidwanRabu, 8 Juli 2026 | 02.21 WIB
ILUSTRASI. Kondisi listrik padam di Jalan Soebrantas Panam Pekanbaru, Jumat (22/5/2026).(EVAN GUNANZAR/RIAUPOS.CO)

 

JawaPos.com - Anggota Komisi XII DPR RI Eddy Soeparno mengingatkan pemerintah agar rencana ekspor listrik berbasis energi terbarukan ke Singapura tidak mengesampingkan kepentingan nasional. Menurutnya, kebutuhan listrik di dalam negeri harus tetap menjadi prioritas, sementara kerja sama internasional juga harus mampu memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi Indonesia.

Ia menilai, ekspor listrik hijau dapat menjadi peluang strategis untuk meningkatkan devisa negara. Namun, kerja sama tersebut juga dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemasok energi bersih di kawasan.

"Yang akan diekspor adalah listrik dari energi terbarukan, yaitu tenaga surya. Peluang mendapatkan devisa dari penjualan listrik cukup besar karena harga yang diberikan pembeli dari Singapura relatif lebih tinggi. Ini menguntungkan Indonesia sekaligus menunjukkan kemampuan kita melakukan ekspor energi," kata Eddy Soeparno di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/7).

Baca Juga: Gandeng Keppel dan Sembcorp, BPI Danantara Pimpin Ekspor Listrik Hijau ke Singapura

Menurutnya, peluang ekspor listrik juga dapat menjadi pendorong lahirnya berbagai proyek energi terbarukan lainnya. Ia mencontohkan pengembangan pembangkit listrik panas bumi yang memiliki potensi untuk memenuhi pasar ekspor sekaligus memperkuat sektor energi nasional.

Legislator Fraksi PAN itu menilai, berkembangnya proyek-proyek tersebut akan memberikan dampak positif bagi perekonomian, termasuk membuka lapangan kerja ramah lingkungan (green jobs) dan mempercepat pertumbuhan industri hijau di Indonesia.

Meski mendukung rencana ekspor, Eddy menegaskan bahwa pemerintah harus memastikan pasokan listrik nasional tetap aman. Ia mengingatkan agar ekspor tidak dilakukan jika kebutuhan energi masyarakat di dalam negeri belum terpenuhi secara optimal.

"Jangan sampai ekspor mendahului kebutuhan dalam negeri. Kita harus memastikan kebutuhan listrik nasional terpenuhi terlebih dahulu, baru kemudian menggenjot ekspor," tegasnya.

Selain menjaga ketahanan energi, Eddy juga menekankan pentingnya peningkatan nilai tambah bagi industri nasional. Menurutnya, pengembangan proyek energi terbarukan harus dibarengi dengan penguatan kapasitas manufaktur dalam negeri agar tidak bergantung pada komponen impor.

Ia berharap, investasi di sektor energi bersih mampu mendorong tumbuhnya industri pendukung di dalam negeri sehingga manfaat ekonomi yang dihasilkan semakin besar.

Rencana ekspor listrik ke Singapura sendiri mengemuka setelah pemerintah Indonesia dan Singapura menjajaki kerja sama pengiriman listrik rendah karbon. Skema tersebut dipandang sebagai salah satu upaya memperkuat transisi energi di kawasan.

Meski demikian, pembahasan kedua negara masih terus berlangsung. Salah satu isu yang masih menjadi perhatian adalah mekanisme penetapan harga jual listrik agar kerja sama tersebut memberikan keuntungan yang seimbang bagi kedua belah pihak.

EDITOR: Estu Suryowati