← Beranda
3 Proyek Panas Bumi PGE Masuk Green Book 2026, Peroleh Pendanaan USD 477,87 Juta
Tazkia Royyan HikmatiarSabtu, 6 Juni 2026 | 04.50 WIB
PLTP Lumut Balai Unit 3 (target operasi komersial/COD 2030) mendapat pendanaan sebesar USD 158,86 juta dari Japan International Cooperation Agency (JICA). (dok. PGEO)

 

JawaPos.com – Tiga proyek panas bumi milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) masuk dalam Green Book 2026 yang diterbitkan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Dengan masuknya proyek-proyek tersebut ke dalam daftar prioritas pinjaman luar negeri, PGE pun memperoleh pendanaan internasional senilai total USD 477,87 juta.

Ketiga proyek yang tercantum dalam Green Book 2026 adalah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 megawatt (MW), PLTP Lumut Balai Unit 4 berkapasitas 55 MW, serta PLTP Lahendong Unit 7–8 berkapasitas 50 MW.

Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan, masuknya proyek-proyek tersebut ke dalam Green Book menunjukkan bahwa proyek telah memenuhi sejumlah persyaratan untuk melanjutkan ke tahap pengembangan berikutnya.

Menurutnya, pencantuman dalam Green Book juga membuka peluang akses terhadap berbagai sumber pendanaan internasional yang dapat mendukung realisasi proyek.

"Kami melihat pencapaian ini dapat meningkatkan visibilitas proyek-proyek Perseroan di mata calon mitra strategis maupun lembaga pendanaan global," kata Ahmad Yani dalam keterangan tertulis PGEO, Jumat (5/6).

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, PGE membukukan laba bersih sebesar USD 43,90 juta atau meningkat 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD 31,35 juta. Pendapatan perusahaan juga naik 14,8 persen menjadi USD 116,56 juta dari sebelumnya USD 101,51 juta.

Baca Juga: Kinerja PGE Menguat pada Kuartal I, Produksi Listrik Tembus 1.370 GWh

Di sisi operasional, produksi listrik panas bumi PGE pada 2025 mencapai 5.095 gigawatt hour (GWh), meningkat 5,55 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada kuartal I 2026, produksi listrik tercatat 1.370 GWh atau naik 15,22 persen secara tahunan.

Green Book 2026 atau Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri Tahun 2026 memuat proyek-proyek yang telah memperoleh komitmen pendanaan luar negeri melalui koordinasi pemerintah dengan berbagai mitra pembangunan internasional.

Sebelumnya, ketiga proyek tersebut telah tercantum dalam Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah Tahun 2025–2029 (Blue Book) Bappenas. Pencantuman dalam Green Book menandai kesiapan proyek untuk memasuki tahap implementasi lebih lanjut.

Berdasarkan dokumen Green Book 2026, rincian potensi pendanaan yang diperoleh masing-masing proyek meliputi:

Baca Juga: PGE dan PLN IP Sepakati Tarif Listrik PLTP Lahendong, Proyek 15 MW Masuk Tahap Pengembangan

PLTP Lumut Balai Unit 3 (target operasi komersial/COD 2030): USD 158,86 juta dari Japan International Cooperation Agency (JICA).

PLTP Lumut Balai Unit 4 (target COD 2032): USD 148,97 juta dari JICA.

PLTP Lahendong Unit 7–8 (target COD 2030): USD 170,04 juta dari World Bank.

Ketiga proyek tersebut masuk dalam skema pembiayaan on-lending melalui concessional loan yang menawarkan tingkat bunga dan tenor yang lebih kompetitif dibandingkan pembiayaan komersial.

PLTP Lumut Balai Unit 3 dan Unit 4 yang berlokasi di Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, menjadi bagian dari pengembangan panas bumi PGE di wilayah Sumatera. Kedua proyek tersebut telah memiliki perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA), sementara PLTP Lumut Balai Unit 4 juga tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034.

Baca Juga: Seperti Jalan di Tempat Padahal sudah Ada RUPTL, Ternyata ini Hambatan Pengembangan PLTS di Indonesia, Analisis IESR

Sementara itu, proyek PLTP Lahendong Unit 7–8 di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, bersama pengembangan Binary Unit, ditujukan untuk menambah kapasitas pasokan listrik berbasis panas bumi di wilayah tersebut.

Ketiga proyek tersebut merupakan bagian dari rencana pengembangan kapasitas panas bumi PGE hingga 3 gigawatt (GW). Setelah beroperasi, proyek-proyek itu diharapkan dapat menambah pasokan listrik rendah emisi dan mendukung peningkatan porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional.

EDITOR: Estu Suryowati