JawaPos.com – Jepang semakin gencar mengumpulkan minyak goreng bekas dari rumah tangga demi memenuhi target penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Dilansir Kyodo, Jumat (5/6), upaya itu dilakukan di tengah meningkatnya tekanan pasokan energi akibat konflik Iran dan kebutuhan Jepang untuk mengurangi emisi karbon dari sektor penerbangan.
Salah satu warga yang ikut berkontribusi adalah Watanabe, yang setiap tahun menyumbangkan sekitar 40 liter minyak goreng bekas hasil aktivitas memasaknya.
Minyak tersebut dikumpulkan melalui jaringan supermarket yang tergabung dalam proyek kolaborasi pemerintah dan swasta bertajuk "Fry to Fly".
Jepang menargetkan 10 persen kebutuhan bahan bakar pesawat pada 2030 berasal dari sumber berkelanjutan. Untuk mencapai target tersebut, negara itu memperkirakan membutuhkan sekitar 1,7 juta kiloliter SAF pada 2030.
Namun, produksi SAF domestik saat ini baru mencapai sekitar 30.000 kiloliter atau hanya 0,3 persen dari total konsumsi bahan bakar jet nasional.
Dalam presentasi bersama pada Mei lalu, dua maskapai terbesar Jepang, ANA dan Japan Airlines (JAL), mengakui tantangan yang dihadapi semakin berat.
"Kami menghadapi kenyataan yang jauh lebih keras dari perkiraan," ungkap kedua maskapai tersebut.
SAF dianggap sebagai salah satu solusi utama untuk menurunkan jejak karbon industri penerbangan yang selama ini menjadi penyumbang besar emisi gas rumah kaca.
Namun, biaya produksi yang tinggi serta keterbatasan bahan baku membuat pengembangannya berjalan lambat.
Menurut investigasi Reuters tahun lalu, hanya sekitar seperlima proyek SAF yang diumumkan maskapai-maskapai dunia yang benar-benar berhasil direalisasikan.
Pemerintah Jepang menilai tahun ini menjadi periode krusial. Perusahaan penyuling minyak harus mengambil keputusan investasi paling lambat Maret mendatang agar produksi massal dapat dimulai pada 2030.
Perusahaan energi terbesar Jepang, Eneos, menyebut jumlah minyak goreng bekas yang berhasil dikumpulkan akan menjadi faktor utama dalam menentukan kelanjutan proyek bersama Mitsubishi Corporation untuk memproduksi 400.000 kiloliter SAF setelah tahun fiskal 2028.
Kendala Produksi SAF yang Rrumit dan Mahal
Proses produksi SAF sendiri tergolong rumit dan mahal, mulai dari pengumpulan bahan baku, pengolahan, hidrogenasi hingga proses distilasi.
Karena itu, perusahaan membutuhkan kepastian pasokan dan permintaan sebelum memperluas investasi.
JGC, perusahaan teknik yang tahun lalu mengoperasikan pabrik SAF komersial pertama di Jepang bersama Cosmo Energy dan REVO International, juga menilai prospek permintaan menjadi faktor penting.
Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 30.000 kiloliter per tahun.
Untuk mengejar target, berbagai inisiatif pengumpulan minyak jelantah terus diperluas.
Pemerintah Metropolitan Tokyo misalnya ingin menggandeng lebih banyak perusahaan untuk membantu edukasi sekaligus mengoordinasikan pengumpulan minyak bekas dari sekitar 7,8 juta rumah tangga di ibu kota.
Tahun fiskal lalu, pemerintah Tokyo membagikan 13.000 corong plastik khusus yang dilengkapi kode QR berisi petunjuk pengumpulan minyak bekas.
Meski begitu, sepanjang 2024 mereka hanya berhasil mengumpulkan 160 kiloliter minyak jelantah.
Jumlah tersebut hanya cukup untuk menerbangkan satu pesawat Boeing 787 Dreamliner selama sekitar 17 jam.
"Jika tidak mulai sekarang, kami tidak akan bisa mencapai target 2030," kata pejabat Pemerintah Tokyo, Yasushi Sato.
Perusahaan Besar Jepang Ikut Berpartisipasi
Fujifilm mengumpulkan minyak bekas dari kantin karyawan, sementara Aeon, Ito-Yokado, dan 7-Eleven memperbanyak titik pengumpulan minyak goreng bekas di berbagai lokasi.
Meski demikian, para analis menilai Jepang tetap harus mengandalkan impor SAF maupun bahan bakunya.
Kelompok industri daur ulang minyak bekas UCO Japan memperkirakan jika seluruh minyak goreng bekas yang tersedia berhasil dikumpulkan, jumlahnya hanya sekitar 550.000 kiloliter.
Volume tersebut hanya mampu memenuhi sekitar seperempat kebutuhan SAF Jepang pada 2030. Karena hampir seluruh limbah minyak dari sektor bisnis sudah dikumpulkan saat ini, impor dipandang sebagai langkah yang sulit dihindari sebelum teknologi alternatif seperti bahan bakar jet berbasis bioetanol dapat digunakan secara komersial.
"Di tengah kondisi itu, target yang ditetapkan Jepang sangat ambisius," kata ekonom senior Norinchukin Research Institute, Motoomi Suzuki.
Menurutnya, selama belum ada alternatif lain yang siap digunakan secara massal, minyak goreng bekas masih menjadi satu-satunya pilihan realistis bagi Jepang untuk memproduksi SAF dalam negeri.