← Beranda
Begini Cara Menghitung Tagihan Listrik dan Mengelola Pemakaian Energi Menurut PLN
Nanda PrayogaSelasa, 2 Juni 2026 | 02.19 WIB
Ilustrasi petugas PLN saat melakukan penggantian Miniature Circuit Breaker (MCB) pada kWh meter pelanggan yang melakukan tambah daya listrik. Intip cara menghitung tagihan listrik PLN. (Istimewa)

 

JawaPos.com - PT PLN (Persero) mengimbau masyarakat untuk lebih memahami pola penggunaan listrik beserta komponen yang memengaruhi besaran pembayaran. Dengan memahami faktor-faktor tersebut, pelanggan diharapkan dapat mengatur konsumsi listrik secara lebih efisien dan sesuai kebutuhan.

Executive Vice President Komunikasi Korporat dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN, Gregorius Adi Trianto, menjelaskan bahwa nilai pembayaran listrik yang dibayarkan pelanggan bisa berbeda pada setiap periode.

Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh jumlah energi yang digunakan serta berbagai komponen biaya yang berlaku berdasarkan ketentuan di masing-masing daerah.

“PLN mendukung pelanggan memahami bahwa pembayaran listrik tidak hanya dipengaruhi tarif listrik, tetapi juga pola penggunaan energi serta komponen lain yang mengikuti ketentuan pemerintah daerah maupun regulasi yang berlaku. Dengan pemahaman tersebut, pelanggan dapat lebih mudah mengatur konsumsi listrik sesuai kebutuhan,” ujar Gregorius dalam keterangannya.

Menurutnya, tarif listrik untuk pelanggan rumah tangga masih tetap sama sejak Juli 2022. Karena itu, jika terdapat kenaikan atau penurunan nominal pembayaran, penyebabnya umumnya berasal dari perubahan konsumsi listrik maupun adanya komponen biaya lain yang turut diperhitungkan.

Pada pelanggan pascabayar, total tagihan ditentukan berdasarkan jumlah energi listrik yang tercatat pada meter dalam satuan kilowatt hour (kWh). Nilai tersebut kemudian ditambah sejumlah komponen lain, seperti Pajak Penerangan Jalan (PPJ) yang besarannya berbeda di setiap daerah, biaya materai, serta Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk kelompok pelanggan tertentu.

Sementara itu, pada sistem prabayar, nilai token yang dibeli pelanggan tidak seluruhnya langsung dikonversi menjadi kWh. Sebagian dana terlebih dahulu digunakan untuk membayar PPJ sesuai ketentuan pemerintah daerah, sedangkan sisanya baru dihitung sebagai energi listrik yang dapat dipakai.

Sebagai contoh, pelanggan dengan daya 2.200 VA yang membeli token senilai Rp200.000 di wilayah Jakarta akan dikenakan PPJ sebesar 2,4 persen. Dengan demikian, nilai yang dapat dikonversi menjadi energi listrik sebesar Rp195.200. Jika mengacu pada tarif Rp1.444,70 per kWh, pelanggan akan memperoleh sekitar 135 kWh listrik.

Untuk pelanggan pascabayar, perhitungan tagihan juga mengacu pada jumlah pemakaian energi. Dengan penggunaan sebesar 135 kWh, nilai pembayaran yang dibebankan pada dasarnya setara setelah ditambahkan komponen PPJ sesuai aturan yang berlaku.

PLN juga menyediakan berbagai fitur digital yang memungkinkan pelanggan memantau penggunaan listrik secara lebih mudah melalui aplikasi PLN Mobile. Pelanggan dapat melihat riwayat konsumsi energi maupun histori pembelian token kapan saja.

Khusus pelanggan pascabayar, tersedia fitur Swacam (Swadaya Catat Angka Meter) yang memungkinkan pencatatan angka meter dilakukan secara mandiri. Fitur ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana kontrol terhadap pemakaian listrik bulanan.

Cara penggunaannya cukup dengan membuka menu Swacam di aplikasi PLN Mobile, memilih ID Pelanggan yang terdaftar, memotret angka stand meter pada kWh meter, lalu mengirimkan hasil pencatatan sesuai periode yang telah ditentukan. Dengan cara ini, pelanggan dapat memantau penggunaan listrik secara lebih transparan.

“Melalui pemahaman yang lebih baik terhadap pola konsumsi dan komponen pembayaran listrik, pelanggan dapat memanfaatkan energi listrik secara lebih efisien, nyaman, dan sesuai kebutuhan sehari-hari,” tutup Gregorius.

Nama Penulis: NANDA PRAYOGA - nandaprayoga66@gmail.com

Rubrik/Kanal: Ekonomi Energi

Tagging: PLN, Hitung tagihan listrik

EDITOR: Estu Suryowati