JawaPos.com - Sejumlah program pemerintah Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendapat respons positif dari masyarakat.
Berdasarkan analisis Continuum Institute for Development of Economics and Finance (Indef), program swasembada pangan, Sekolah Rakyat, dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi program yang memperoleh sentimen positif publik.
Data Scientist Continuum Indef Wahyu Tri Utomo mengatakan, analisis sentimen dilakukan terhadap delapan program utama pemerintah melalui percakapan di media sosial X, TikTok, Instagram, dan YouTube.
Analisis tersebut mencakup 635.114 komentar serta 17.336.003 share dan retweet. Dalam pengolahan data, akun yang dikategorikan tidak organik telah dikeluarkan untuk menjaga kualitas analisis.
Wahyu menjelaskan, Sekolah Rakyat mendapat apresiasi karena dinilai mampu membuka akses pendidikan bagi masyarakat. Sementara itu, swasembada pangan memperoleh sentimen positif berkat capaian program dalam mendorong ketersediaan pangan.
“Sekolah rakyat dipuji karena membuka akses pendidikan, sedangkan swasembada pangan dinilai positif karena capaiannya, meski kritik soal harga pangan yang masih mahal juga banyak muncul dengan engagement 5 kali lebih tinggi dari sentimen positifnya,” ujar Wahyu dalam diskusi Indef, Jakarta, Selasa (20/10).
Meski demikian, pelaksanaan program pemerintah masih menghadapi sejumlah tantangan. Pada tahun pertama pemerintahan, sentimen positif terhadap delapan program tercatat sebesar 38,1 persen, sedangkan sentimen negatif mencapai 61,9 persen.
Memasuki tahun kedua, sentimen positif secara keseluruhan turun sekitar 8,14 persen. Sebanyak enam dari delapan program mengalami penurunan sentimen positif.
“Pada tahun kedua, sentimen positif turun sekitar 8,14 persen dan 6 dari 8 program mengalami penurunan sentimen positif,” ujarnya.
Menurut Wahyu, perubahan sentimen tersebut menunjukkan bahwa perhatian masyarakat semakin mengarah pada evaluasi tata kelola dan pelaksanaan program pemerintah, bukan sekadar kekhawatiran terhadap kebijakan yang dijalankan.
Di antara delapan program yang dianalisis, Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi program yang paling banyak dibicarakan sekaligus paling banyak menuai sentimen negatif. Sejumlah persoalan yang disorot masyarakat meliputi kasus keracunan, struktur kepengurusan Badan Gizi Nasional (BGN), dugaan korupsi, hingga usulan agar program tersebut diganti dengan bantuan uang tunai.
Beban tambahan bagi guru yang ikut mengurus pelaksanaan MBG juga menjadi perhatian publik. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pembenahan tata kelola agar pelaksanaan program dapat berjalan lebih efektif.
Sementara itu, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) mengalami peningkatan perhatian publik. Program tersebut naik dari posisi kelima menjadi salah satu program yang paling banyak diperbincangkan.
Namun, peningkatan perhatian itu diikuti penurunan sentimen positif sebesar 38 persen. Isu yang mencuat antara lain penempatan manajer yang jauh dari domisili, pelaksanaan latihan dasar (latsar) yang menimbulkan korban, pemilihan lokasi koperasi yang dinilai kurang strategis, serta potensi persaingan dengan pelaku usaha ritel yang sudah ada.
Di sisi lain, swasembada pangan juga masih menghadapi tantangan berupa harga pangan yang dinilai mahal. Wahyu mencatat, engagement terhadap sentimen negatif terkait harga pangan mencapai lima kali lebih tinggi dibandingkan engagement pada sentimen positif.
Selain delapan program utama tersebut, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut menjadi perhatian masyarakat. Wahyu mengungkapkan, sentimen negatif terhadap penanganan karhutla mencapai hampir 95 persen.
Kritik publik tidak hanya menyangkut keseriusan pemerintah dalam menangani bencana, tetapi juga ketersediaan anggaran. Masyarakat mempertanyakan kesiapan fiskal pemerintah ketika anggaran penanganan bencana dinilai sulit dialokasikan.