← Beranda
Harga Logam Mulia Bisa Meroket ke Rp 2,86 Juta, Ini Prediksinya
Djati Waluyo• Minggu, 18 Oktober 2026 | 18.08 WIB
Ilustrasi emas batangan. (Dok JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Harga emas dunia dan logam mulia diperkirakan bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan, terhitung pada Senin 19 Oktober hingga Sabtu 24 Oktober 2026.

Pengamat Ekonomi dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas dunia berada di rentang USD 4.076 hingga USD 4.297 per troy ounce, sedangkan harga logam mulia berpotensi bergerak di kisaran Rp 2,6 juta hingga Rp 2,86 juta per gram.

Ibrahim mengatakan, harga emas dunia pada penutupan perdagangan Sabtu pagi berada di level USD 4.164 per troy ounce. Jika mengalami koreksi, harga emas berpotensi turun ke USD 4.130 pada awal pekan dan berlanjut ke USD 4.076 per troy ounce hingga akhir pekan.

Sebaliknya, apabila menguat, harga emas dunia diperkirakan menguji level resistensi pertama di USD 4.211 per troy ounce. Penguatan lanjutan berpotensi membawa harga emas menuju USD 4.257 hingga USD 4.297 per troy ounce.

“Sehingga dalam pekan depan, harga emas dunia kemungkinan diperdagangkan di USD 4.076 sampai USD 4.297 per troy ounce. Ini kemungkinan risikonya begitu besar, begitu tinggi, dengan fluktuasi sekitar USD 170 per troy ounce. Kondisi ini bisa dimanfaatkan para trader untuk melakukan transaksi di emas dunia,” ujar Ibrahim dalam pesan suara yang diterima, Minggu (18/10)

Ibrahim mengatakan. harga logam mulia pada penutupan Sabtu pagi tercatat sebesar Rp 2,722 juta per gram. Ia memperkirakan harga dapat terkoreksi menjadi Rp 2,702 juta per gram pada Senin dan berpotensi turun hingga Rp 2,6 juta per gram menjelang akhir pekan.

Namun, jika mengalami penguatan, harga logam mulia diproyeksikan mencapai Rp 2,74 juta per gram pada awal pekan. Penguatan berpotensi berlanjut hingga menyentuh Rp 2,86 juta per gram pada akhir pekan.

“Sehingga saya simpulkan bahwa logam mulia di minggu depan, dari Senin sampai Sabtu pagi, kemungkinan ditransaksikan di Rp 2,6 juta sampai Rp 2,86 juta per gram,” ujarnya.

Ibrahim menilai, ketidakpastian geopolitik menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga emas, minyak mentah, dan dolar AS.

Menurutnya, ketegangan di Timur Tengah dan Eropa Timur dinilai berpotensi meningkatkan volatilitas pasar komoditas global.

Di Eropa Timur, berlanjutnya konflik Rusia dan Ukraina, termasuk serangan terhadap infrastruktur energi. Menurut dia, perkembangan konflik tersebut berpotensi memperpanjang ketidakpastian geopolitik dan memengaruhi sentimen pasar global.

Baca Juga: KPK Amankan Logam Mulia hingga Dolar Singapura Senilai Miliaran Rupiah dari OTT Bupati Sukoharjo

Sementara itu, di Timur Tengah, Ibrahim menyoroti ketegangan yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz. Menurut dia, eskalasi konflik di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi dunia. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan