JawaPos.com - Aksi jual bersih atau (net sell) investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2026 telah melampaui arus keluar dana asing saat krisis keuangan global 2008 dan pandemi Covid-19 pada 2020.
Berdasarkan data LOTS Trading Club dari Lotus Sekuritas investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih atau net sell hingga Rp 84,29 triliun sepanjang 2026.
Angka tersebut jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2008 saat terjadinya krisis ekonomi dan 2020 atau ketika Pandemi Covid-19. Adapun, nett sell asing pada saat 2008 hanya sebesar Rp 50,17 triliun dan 2020 sebesar Rp 53,84 triliun.
Meski ada perbedaan dari sisi kapitalisasi pasar di tiga periode ini, tingginya capital outflow sepanjang 2026 di pasar modal Indonesia patut dicermati dengan serius.
Merespons tingginya capital out flow out asing dari pasar Indonesia, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan tekanan arus modal asing pada 2026 bukan sekadar fenomena koreksi pasar biasa, melainkan menunjukkan perubahan alokasi investasi dan peningkatan persepsi risiko terhadap pasar saham Indonesia.
Baca Juga: IHSG Rawan Terkoreksi ke 5.744, MNC Sekuritas Rekomendasikan 4 Saham Ini
Menurutnya, besarnya net sell tidak serta-merta menunjukan bahwa Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi dengan karakteristik yang sama seperti 2008 atau 2020.
“Pada 2008, tekanan terutama berkaitan dengan krisis keuangan global, sedangkan pada 2020 pandemi memicu guncangan ekonomi dan pembatasan aktivitas secara luas,” ujar Nafan kepada Jawapos.com, Rabu (14/10).
Ia mengatakan, pada tahun 2026 tekanan perlu dilihat dari kombinasi faktor eksternal, pelemahan rupiah, ketidakpastian kebijakan, serta persoalan transparansi dan tata kelola pasar modal.
Selain itu, perlu diperhatikan pula bahwa angka historis bisa berbeda antarsumber karena perbedaan periode pengukuran dan cakupan transaksi.
Nafan mengatakan, keluarnya investor asing didorong oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik, dengan kenaikan persepsi risiko terhadap Indonesia menjadi salah satu faktor kunci.
Dari sisi eksternal, kenaikan imbal hasil aset berdenominasi dolar AS, ketidakpastian arah kebijakan Federal Reserve, dan penguatan dolar dapat membuat investor global lebih selektif terhadap aset berisiko di negara berkembang.
Sementara itu, dari sisi domestik, pelemahan rupiah meningkatkan risiko kerugian valuta asing bagi investor yang mengukur imbal hasil dalam dolar AS.
“Selain itu, ketidakpastian kebijakan fiskal, kekhawatiran mengenai kesinambungan pertumbuhan ekonomi, serta persoalan transparansi dan tata kelola pasar modal dapat menurunkan kepercayaan investor institusional,” ujarnya.
Ia mengatakan, kekhawatiran mengenai transparansi informasi dan potensi perubahan klasifikasi pasar Indonesia dalam indeks global juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi keputusan pengelola dana berbasis indeks.
“Jadi, pelemahan rupiah memang penting, tetapi tidak tepat jika seluruh arus keluar asing hanya dikaitkan dengan nilai tukar. Investor juga mempertimbangkan kepastian regulasi, likuiditas, kualitas tata kelola, dan prospek imbal hasil relatif terhadap pasar negara lain,” ucapnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudistira, mengatakan kinerja fiskal Indonesia paska Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara mempengaruhi kinerja IHSG pada 2026.
“Kredibilitas fiskal yang disorot salah satunya postur APBN 2027 masih mendorong alokasi belanja besar untuk MBG disaat bencana belum teratasi,” ujar Bhima Ketika dikonfirmasi JawaPos.com.
Bhima mengatakan, dampak dari kebijakan fiskal saat ini lebih parah karena kelas menengah makin tertekan pungutan dan pajak.
Ia menyebut, sebanyak 82 persen responden dari survei 2 tahun kinerja prabowo-gibran mengaku pungutan dan pajak makin memberatkan.
“Kondisi ekonomi dari sisi lapangan kerja juga berat dengan berkurangnya serapan di sektor formal,” ucapnya
Koreksi saham bukan soal tekanan global atau rebalancing MSCI tapi lebih ke faktor domestik.
“Performa index Indonesia terburuk di kawasan dalam satu tahun terakhir. Wajar investor lakukan net sells atau aksi jual saham,” ungkapnya.
Bhima mengatakan, untuk dapat mengembalikan kondisi IHSG kuncinya ada pada kredibilitas kebijakan yang diambil oleh pemerintah.
Ia menyebut, kebijakan harus berdasarkan pada kajian, harus ada perencanaan yang matang.
“Program yang boros dan bertentangan dengan efisiensi anggaran harus di cut. Tidak ada jalan lain, karena risiko sudah menular dari fiskal ke moneter,” ungkapnya.