JawaPos.com - Digitalisasi membuka cara baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) daerah untuk mencari konsumen di luar wilayahnya.
Cara ini bukan hanya lewat marketplace, tetapi juga pemasaran berbasis tautan afiliasi yang memungkinkan masyarakat ikut memasarkan produk sekaligus dapat komisi dari penjualan.
Studi Jakpat pada Desember 2025 menunjukkan potensi besar tautan afiliasi dalam peta perdagangan digital Indonesia.
Sebanyak 62 persen masyarakat mengenal metode penjualan tautan afiliasi. Kesadaran tertinggi pada kelompok Gen Z (68 persen) diikuti Milenial (62 persen) dan Gen X (51 persen).
Untuk penggunaan marketplace, dari 346 responden yang pernah membeli lewat affiliate link, 78 persen mengakses Shopee melalui link affiliate. Kemudian, 44 persen TikTok Shop, 22 persen Tokopedia, dan 10 persen Lazada.
Peluang ini mulai didorong di Kota Banjar, Jawa Barat. Produk camilan lokal Makaroni Eneng (Menengs) bersama afiliator Katabroto menggelar Workshop Affiliate & Partnership di RM Selma, Kota Banjar, beberapa waktu lalu.
Sekitar 75 persen peserta workshop merupakan warga yang berdomisili di Kota Banjar. Sisanya berasal dari daerah lain seperti Jakarta, Bandung, Bekasi, dan Jawa Tengah.
Kepala Bagian Perekonomian, Sumber Daya dan Pembangunan Setda Banjar, Neneng Widya Hastuti, mengapresiasi inisiatif edukasi affiliate kepada masyarakat.
Menurutnya, Kota Banjar punya potensi UMKM yang bisa dikembangkan lewat kanal pemasaran digital.
“Banjar memiliki banyak potensi UMKM yang layak dipasarkan melalui affiliate. Menengs mengadakan pelatihan dan menghadirkan afiliator serta mentor berpengalaman. Ini menjadi terobosan yang positif,” ujar Neneng dikutip Senin (21/9).
Ia berharap semakin banyak warga Kota Banjar memahami pemasaran digital agar produk UMKM lokal punya akses pasar lebih luas.
Berdasarkan data pemerintah daerah, sekitar 27.000 UMKM ada di Kota Banjar. Dengan semakin banyak afiliator dan produk Banjar dipasarkan lewat affiliate, diharapkan terjadi multiplier effect.
"UMKM berkembang, aktivitas ekonomi masyarakat meningkat dan pada akhirnya dapat membuka lebih banyak peluang ekonomi,” katanya.
Owner Menengs, Fatimah Azzahra, bilang kegiatan ini bukan hanya untuk tingkatkan penjualan produk Menengs.
Kegiatan juga berikan edukasi pada masyarakat soal pemanfaatan platform digital untuk promosi produk.
“Diharapkan pelatihan affiliate ini membuat masyarakat semakin paham pemasaran online dan akhirnya bisa tingkatkan pendapatan lewat komisi penjualan produk,” ujar Fatimah.
Sementara mentor kegiatan ini, Katabroto atau Hendra Permana Putra, membawa pengalaman pribadi membangun penghasilan melalui ekosistem digital.
Selama 11 bulan terakhir, Hendra menekuni dunia affiliate dan menjadikannya bagian penting dalam perjalanan ekonominya.
Pengalaman itu mendorong dia berbagi pengetahuan kepada masyarakat. Khususnya yang ingin mulai manfaatkan teknologi digital untuk cari peluang pendapatan tambahan.
“Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk maju, baik afiliator maupun seller. Yang terpenting adalah kemauan untuk belajar, memahami strategi dan mengikuti aturan dalam berjualan sebagai afiliator,” ujar Katabroto.
Menurut dia, affiliate marketing jadi pilihan bagi yang mau mulai pemasaran digital dengan modal lebih rendah.