← Beranda
Padi Biosalin Jadi Solusi Atasi Lahan Asin dan Tantangan El Nino di Batang
Rian AlfiantoSabtu, 19 September 2026 | 05.13 WIB
Ilustrasi panen raya padi Biosalin hasil riset BRIN dan PGN. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Inovasi Padi Biosalin mulai menunjukkan potensinya untuk mengembalikan produktivitas lahan pertanian pesisir yang terpapar salinitas. Di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, budidaya padi yang dikembangkan untuk menghadapi kadar garam tinggi tersebut menghasilkan sekitar 166,5 ton gabah kering panen (GKP) dengan nilai ekonomi mencapai Rp 1,3 miliar.

Panen raya Padi Biosalin berlangsung di Kabupaten Batang, Jumat (18/9), melalui program pengembangan dan budidaya varietas Padi Biosalin serta minapadi salin di kawasan dengan salinitas tinggi.

Inovasi tersebut menjadi penting bagi pertanian pesisir karena kadar garam yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan membuat lahan kehilangan produktivitas. Di Batang, sebagian lahan pesisir bahkan disebut tidak produktif selama sekitar enam tahun sebelum kembali dimanfaatkan melalui pendekatan budidaya yang lebih adaptif.

Pengembangan Padi Biosalin di Batang merupakan hasil kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pemerintah Kabupaten Batang, dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN).

Mengapa Padi Biosalin dibutuhkan?

Lahan pertanian di kawasan pesisir menghadapi persoalan yang berbeda dibandingkan lahan pertanian pada umumnya. Selain ketersediaan air, petani harus berhadapan dengan masuknya air laut, rob, serta peningkatan kadar garam di dalam tanah.

Kondisi tersebut dapat menjadi semakin berat ketika musim kemarau berlangsung panjang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat indeks ENSO rata-rata tiga bulanan periode Juli-September 2026 mencapai 2,6 atau berada pada kategori El Nino sangat kuat.

Artinya, inovasi yang membuat tanaman lebih mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan menjadi semakin relevan, terutama untuk mempertahankan lahan pangan yang berada di kawasan pesisir.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Hanif Faisol Nurofiq mengatakan perubahan iklim, abrasi, dan rob merupakan tantangan bagi keberlanjutan pertanian pesisir.

Menurut dia, kondisi tersebut membutuhkan langkah adaptasi dan mitigasi yang terintegrasi, termasuk melalui inovasi pertanian yang dapat beradaptasi dengan lahan salin.

Ia menilai pengembangan Padi Biosalin dan mina salin di Batang menunjukkan bahwa lahan dengan tingkat salinitas tinggi tetap dapat dimanfaatkan secara produktif dengan dukungan inovasi dan teknologi.

"Integrasi padi dan ikan juga rumput laut juga berpotensi menjadi model yang dapat dikembangkan sesuai karakteristik wilayah," ujar Hanif.

Pengembangan Padi Biosalin tidak berhenti di Batang. Teknologi dan varietas tersebut sebelumnya telah dikembangkan di sejumlah kawasan pesisir melalui kerja sama PGN dan BRIN.

Sejak Desember 2024 hingga saat ini, pengembangannya telah mencapai sekitar 232 hektare di Semarang, Jepara, dan Batang.

Di Semarang, pengembangan dimulai pada Desember 2024 di kawasan pesisir Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu. Dari tahap awal seluas 20 hektare, pengembangan kemudian meluas hingga sekitar 180 hektare.

Di Jepara, pengembangan dimulai pada September 2025 dengan penanaman 400 kilogram benih pada lahan awal seluas 5 hektare. Luasan kemudian berkembang dan telah mencapai tahap panen pada sekitar 22 hektare dengan produktivitas 6-8 ton per hektare.

Model serupa juga mulai direplikasi ke wilayah lain. Bibit Padi Biosalin 1 yang dikembangkan di Semarang telah diperluas ke Kabupaten Kendal dengan luasan sekitar 353 hektare.

Rangkaian pengembangan tersebut memperlihatkan bahwa pemanfaatan lahan salin membutuhkan proses adaptasi, mulai dari pemilihan varietas hingga penyesuaian teknik budidaya dengan kondisi lingkungan setempat.

Anggota Dewan Pengarah BRIN Tri Mumpuni mengatakan keberhasilan panen di Batang merupakan hasil gotong royong berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, badan usaha, hingga masyarakat.

Ia secara khusus mengapresiasi para petani yang bersedia mengaplikasikan hasil rekayasa teknologi tersebut hingga menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat dan ketahanan pangan Batang.

Padi dan ikan dalam satu kawasan

Inovasi di kawasan pesisir Batang juga tidak hanya mengandalkan produksi padi. Pengembangan minapadi salin menjadi bagian dari pendekatan untuk memanfaatkan lahan secara lebih terintegrasi.

Konsep tersebut memungkinkan lahan digunakan untuk lebih dari satu komoditas, dengan menyesuaikan jenis tanaman dan organisme yang mampu beradaptasi dengan lingkungan berkadar garam tinggi.

Bupati Batang M. Faiz Kurniawan mengatakan kondisi perubahan iklim dan lingkungan pesisir membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

"Kerjasama pemerintah, dunia usaha, lembaga riset, dan masyarakat dapat menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan wilayah sekaligus memberikan manfaat ekonomi, lingkungan dan masyarakat khususnya petani," kata M. Faiz.

Sementara itu, Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengatakan, pengembangan Padi Biosalin menjadi bagian dari program tanggung jawab sosial dan lingkungan yang diarahkan untuk menciptakan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.

Menurut Fajriyah, hasil panen di Batang menunjukkan bahwa lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat kembali dimanfaatkan melalui inovasi dan kolaborasi.

Selain pengembangan pertanian, upaya menjaga ekosistem pesisir juga dilakukan melalui penanaman sekitar 14 ribu mangrove di wilayah Batang, Kendal, dan Semarang sejak 2024.

Fajriyah mengatakan pengalaman dari pengembangan di sejumlah daerah menunjukkan pentingnya menyesuaikan model budidaya dengan karakteristik lahan dan kebutuhan masyarakat. Karena itu, pengembangan Padi Biosalin masih terus didorong untuk diterapkan di wilayah pesisir lainnya.

"Dari lahan yang menghadapi keterbatasan, kita tumbuhkan produktivitas. Dari inovasi, kita hadirkan solusi. Dan melalui kolaborasi, kita ciptakan keberlanjutan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat," tutup Fajriyah.

EDITOR: Estu Suryowati