JawaPos.com - Persaingan di industri ritel semakin bergeser dari sekadar perebutan transaksi online ke kemampuan perusahaan menghubungkan berbagai kanal penjualan.
Toko fisik, platform digital, layanan perjalanan, hingga kebutuhan rumah tangga mulai ditempatkan dalam satu ekosistem untuk menjangkau konsumen yang pola belanjanya semakin beragam.
Perubahan model bisnis tersebut terlihat dari kinerja PT Global Digital Niaga Tbk atau Blibli.
Baca Juga: Konten Kuliner Makin Booming, Industri Makanan Tumbuh 7,41 Persen di Indonesia
Pada semester I 2026, pendapatan neto konsolidasian perusahaan mencapai Rp 14,8 triliun, naik 55 persen secara tahunan dari Rp 9,6 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan itu melanjutkan kinerja pada 2025 ketika pendapatan neto konsolidasian tercatat Rp 22,4 triliun, tumbuh 34 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Angka tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persaingan perdagangan digital kini tidak hanya berkaitan dengan seberapa besar transaksi yang terjadi melalui aplikasi.
Baca Juga: Nggak Bisa Sekadar Jualan, Ini Tantangan UMKM saat Konsumen Makin Selektif
Kehadiran fisik dan integrasi berbagai layanan menjadi bagian lain dari strategi perusahaan menghadapi perubahan kebutuhan konsumen.
Mengapa Toko Fisik Kembali Penting?
Pertumbuhan e-commerce tidak otomatis menghilangkan fungsi toko fisik.
Untuk sejumlah kategori seperti elektronik, kebutuhan rumah tangga, fesyen, dan bahan pangan, konsumen masih membutuhkan akses langsung terhadap produk.
Toko juga dapat menjadi titik untuk melihat atau mencoba barang, memperoleh layanan, mengambil pesanan, maupun menyelesaikan kebutuhan yang tidak seluruhnya dapat dilakukan melalui layar ponsel.
Karena itu, perusahaan yang sebelumnya banyak mengandalkan kanal digital mulai menggabungkannya dengan jaringan fisik.
Model inilah yang dikenal sebagai omnichannel.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Koreksi Senin, MNC Sekuritas Rekomendasikan Saham Pilihan
Dalam pendekatan tersebut, toko dan platform digital tidak berdiri sebagai dua saluran yang terpisah.
Keduanya diarahkan agar konsumen dapat berpindah kanal sesuai kebutuhan.
Ekspansi Fisik Berjalan Bersama Pertumbuhan Digital
Pola tersebut terlihat dalam ekspansi jaringan Blibli.
Baca Juga: AI jadi Senjata Baru Startup Indonesia, Lima Perusahaan Terpilih Masuk GVV Batch 9
Hingga akhir Juni 2026, perusahaan mengoperasikan 326 toko elektronik konsumen, 14 toko elektronik rumah tangga, dan satu toko fesyen serta olahraga.
Di ekosistem yang sama terdapat 60 gerai supermarket premium yang dioperasikan Ranch Market serta 38 home and living experience center yang dioperasikan Dekoruma.
Perluasan tersebut menunjukkan bahwa strategi perdagangan digital semakin bersinggungan dengan model ritel konvensional.
Baca Juga: Pendapatan Rp 44,9 Miliar, Employee Super App Venteny Tumbuh Pesat
Kanal online digunakan untuk menjangkau konsumen secara digital, sementara jaringan fisik menyediakan titik interaksi langsung.
Pertumbuhan pendapatan juga terjadi di berbagai segmen usaha.
Selain ritel 1P dan segmen institusi, ekspansi jaringan toko fisik disebut turut berkontribusi terhadap kinerja perusahaan pada periode tersebut.
Model omnichannel juga membuat persaingan ritel menjadi lebih kompleks.
Baca Juga: Jangan Sekadar jadi Pengguna, Indonesia Didorong sebagai Pencipta AI di Tingkat Global
Perusahaan harus mengelola pengalaman konsumen di berbagai titik sekaligus, mulai dari platform digital dan toko, hingga logistik serta pembayaran.
Dalam ekosistem Blibli Tiket, misalnya, kebutuhan konsumen mencakup elektronik, perjalanan, groceries, hingga home and living.
Dari sisi bisnis, integrasi semacam ini memperluas titik interaksi perusahaan dengan konsumen.
Baca Juga: Tekankan Transparansi Informasi dalam Penggunaan Layanan Pinjaman Daring Lewat Kampanye Buka-Bukaan
Namun, semakin besar ekosistem yang dibangun, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga efisiensi dan biaya operasional.
Hal tersebut menjadi perhatian perusahaan setelah pertumbuhan pendapatan pada semester pertama 2026.
“Ke depan, Blibli berkomitmen untuk fokus pada pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan melalui peningkatan produktivitas, penguatan margin, disiplin biaya, serta integrasi ekosistem yang semakin erat,” kata Eric Winarta, Chief Corporate Officer & Investor Relations Blibli.
Baca Juga: Realiasi Penyaluran TKD 2026 Sentuh Rp 504,3 Triliun, 72,8 Persen dari Target APBN
Perusahaan ritel juga menghadapi tuntutan untuk mempertahankan pertumbuhan sekaligus mengendalikan biaya.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan tidak hanya terletak pada pertumbuhan transaksi atau jumlah pengguna digital, tetapi juga pada kemampuan mengelola berbagai kanal secara efisien.
Kinerja Blibli pada 2026 menjadi salah satu contoh perubahan tersebut.
Pertumbuhan pendapatan berjalan bersamaan dengan ekspansi toko fisik dan integrasi layanan dalam ekosistem.
Baca Juga: Kemenkeu Mulai Pungut PPh Marketplace 0,5 Persen per 1 November 2026
Perkembangan itu kemudian tercermin dalam daftar Fortune Indonesia 100 tahun 2026. Blibli berada di posisi 59, naik dari posisi 72 pada tahun sebelumnya.
Pemeringkatan Fortune Indonesia 100 didasarkan pada pendapatan perusahaan.
Untuk daftar 2026, batas minimum pendapatan yang digunakan adalah Rp 12,31 triliun berdasar tahun buku 2025.
Baca Juga: Pemerintah Rampungkan Pelunasan Utang BLBI Peninggalan Krisis 1997-1998
Secara keseluruhan, 100 perusahaan dalam daftar tersebut mencatatkan pendapatan yang setara dengan 26,1 persen dari PDB Indonesia sepanjang 2025.
Bagi industri ritel, perkembangan ini menunjukkan bahwa kanal digital dan toko fisik semakin sulit dipisahkan.
Persaingan bergeser menuju bagaimana perusahaan menggabungkan keduanya sambil tetap menjaga efisiensi, margin, dan keberlanjutan pertumbuhan.
Baca Juga: Dorong Kelancaran Arus Perdagangan Dunia, Indonesia Hadiri Forum BRICS 2026 di India
“Pencapaian ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus memperkuat fundamental usaha, menjaga disiplin operasional, serta senantiasa menghadirkan nilai yang relevan dan berkelanjutan bagi pelanggan dan mitra,” ucap Eric.