← Beranda
Turun Lagi! Harga Minyak Dunia Tertekan Konflik dan Langkah Arab Saudi
Djati WaluyoJumat, 18 September 2026 | 15.21 WIB
Ilustrasi pelayaran di Selat Hormuz (Dok. JawaPos.com)

JawaPos.com - Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren penurunan pada perdagangan Jumat (18/9). Hal itu terjadi setelah meredanya kekhawatiran minimnya pasokan minyak dan berlanjutnya perang di kawasan Timur Tengah.

 

Melansir Investing pada pukul 07.41 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 0,33 poin atau 0,32 persen ke level USD 103,77 per barel. Angka itu lebih rendah jika dibandingkan dengan perdagangan Kamis (17/9) pagi sebesar USD 104,95 per barel.

 

Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 1,03 poin atau 1,01 persen ke level USD 100,86 per barel. Nilai lebih rendah jika dibandingkan dengan perdagangan Kamis (17/9) pagi sebesar USD 101,46 per barel.

 

Dilansir dari Bloomberg, Arab Saudi telah bergerak untuk memulihkan East-West Pipeline yang rusak menuju pesisir Laut Merah. Arab Saudi punya target mengembalikan sekitar setengah kapasitasnya dalam beberapa hari. Pada saat yang sama, sejumlah kapal tanker masih terus melintasi Selat Hormuz yang menjadi wilayah sengketa.

 

Presiden Donald Trump mengatakan kepada Axios bahwa dirinya tengah menghadapi “keputusan besar” terkait apakah akan kembali meningkatkan serangan terhadap Teheran. Trump dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin negara-negara Teluk pekan depan di New York. Selain itu, Trump dijadwalkan menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang kemungkinan turut membahas perang tersebut.

 

Menjelang pertemuan tersebut, Beijing secara tertutup meminta Iran membantu mengendalikan kelompok militan Houthi setelah Riyadh mengajukan permintaan kepada Tiongkok, menurut laporan Reuters.

 

Kelompok militan yang berbasis di Yaman tersebut dalam beberapa hari terakhir telah meningkatkan aktivitasnya menuju titik sempit Bab el-Mandeb. Mereka sekaligus menyerang fasilitas di Arab Saudi.

 

Analis JPMorgan Chase & Co, Natasha Kaneva, mengatakan durasi perang Iran dan dampaknya terhadap arus energi semakin sulit diprediksi. “Untuk pertama kalinya sejak konflik Iran dimulai, kami tidak memiliki pandangan dasar. Kami benar-benar tidak tahu bagaimana memodelkan akhir dari konflik ini,” ujarnya.

 

EDITOR: Diar Candra