← Beranda
Prediksi Rupiah Pekan Ini: Dolar AS Menguat, Rupiah Berpotensi Melemah
Djati WaluyoMinggu, 13 September 2026 | 16.33 WIB
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Nilai tukar Rupiah diperkirakan masih akan tertekan pada perdagangan pekan depan terhadap Dollar AS.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah sejalan dengan potensi penguatan indeks dolar AS. Ia memperkirakan indeks dolar AS pada pekan depan akan bergerak dalam rentang 90,30 hingga 100,20.

“Untuk rupiah sendiri kemungkinan mengalami pelemahan ya mencapai Rp 17.850-an bisa saja lebih dari Rp 17.850-an,” ujar Ibrahim dalam pesan suara yang diterima, Minggu (13/9).

Baca Juga: Ramalan Keuangan Zodiak Aquarius Minggu, 13 September 2026: Utamakan Rencana dan Kerja Keras

Ibrahim mengatakan, pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi kondisi fundamental global, terutama perkembangan kebijakan moneter AS dan dinamika geopolitik yang masih memanas.

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah konflik antara AS dan Iran di Timur Tengah. Peningkatan tensi geopolitik berpotensi mendorong investor meningkatkan kepemilikan aset berbasis dolar AS sebagai aset yang relatif lebih aman di tengah ketidakpastian.

Selain itu, perang Rusia-Ukraina juga masih menjadi sentimen yang membayangi pasar keuangan global. Konflik yang berkepanjangan dapat meningkatkan ketidakpastian dan mendorong volatilitas pasar mata uang.

Ibrahim juga menyoroti dampak konflik terhadap harga minyak mentah dunia. Ia memproyeksikan harga West Texas Intermediate (WTI) pada pekan depan berada dalam rentang USD 91,60 hingga USD 103,50 per barel.

Menurutnya, gangguan terhadap jalur pelayaran penting, khususnya di kawasan Timur Tengah, berpotensi membuat harga minyak kembali meningkat.

"Ini yang membuat harga minyak mentah terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan," ucapnya.

Kenaikan harga minyak kemudian menjadi perhatian karena dapat meningkatkan tekanan inflasi secara global. Bagi pasar keuangan, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi investor terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve.

Ibrahim menilai kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor penting yang perlu dicermati karena perubahan suku bunga AS dapat memengaruhi arus modal dan pergerakan dolar AS.

Apabila dolar AS kembali menguat, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berpotensi meningkat.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah